Skip to content

(Hari ke-1) Hati Emak

“Kamu sekarang udah enak. Anak-anak sudah mentas. Tiap bulan dapat pensiun dan kiriman dari anak-anak…”

Emak hanya tersenyum. Tak ditanggapi.

Aku dengar percakapan kakak-beradik itu putus-putus. Di ruang tamu, beberapa tahun silam. Si adik adalah emak, bersama kakak perempuannya yang biasa aku panggil budhe.

Percakapan itu juga di kemudian hari sering aku dengar saat dua kakak perempuanku, bercerita, tepatnya menyambung entah cerita siapa, hingga kabar itu mendarat di telinga.

Yang aku bisa sedikit pahami, soal kondisi yang menurut budhe itu enak. Ya, memang empat anak emak sudah mentas semua, sudah berkeluarga. Secara keuangan, Alhamdulillah, kondisi kami cukup-cukup saja, tak seperti saat kami masih sekolah, dimana emak perlu lari sana-sini mencari utangan demi biaya sekolah kami.

Lalu soal kiriman kami tiap bulan untuk membantu emak, sebenarnya merupakan bentuk kasih-sayang dan perhatian kepada orangtua yang tinggal ‘sebelah’. Meski kami juga tahu, emak juga punya uang pensiunnya dan punya almarhum bapak. Sebagai manula, bisa dibilang keadaan keuangan emak secara normal, baik-baik saja.

Tapi, yang aku tak bisa pahami, adalah perjuangan emak selama dua puluhan tahun memberi makan empat mulut anaknya, membelikan pakaian yang layak, biaya sekolah dan segala kebutuhan lainnya, seorang diri saja. Ingat, emak menjanda sejak usianya baru 35 tahun dan ia tak menikah lagi sampai sekarang!

Kami merasakan dan tentu saja menyaksikan, bagaimana emak kami, seorang PNS di era 1990-an dengan gaji beberapa ratus ribu harus mampu bertahan hidup di Jakarta. Hampir setiap bulan, emak mencari pinjaman, entah untuk uang belanja, biaya sekolah, uang ujian, uang les, uang buku dan apapun kebutuhan kami.

Mendengar kalimat itu meluncur dari mulut budhe, aku langsung masuk kamar. Ingin rasanya menyela pembicaraan itu, dan mengatakan, “Apa budhe tahu rasanya membagi gaji PNS golongan rendahan yang hanya beberapa ratus ribu untuk kebutuhan kami berlima?”

Panas rasanya hati ini. Tapi pasti kalau aku melakukan itu, emak pasti marah. Ia paling tidak suka, anaknya bersikap kurang ajar kepada saudara dan kerabat.

Tak lama kemudian, budhe pulang. Aku langsung keluar kamar.

Emak sudah tahu aku mau membahas omongannya yang, menurutku kurang ajar.

“Sudah, ngga usah dibahas.”

“Dia, eh, budhe hanya tahu kondisi emak sekarang,” kalau protes dengan nada tinggi, aku memang sering menjadi kurang ajar terhadap orang-orang yang tak menghargai keluarga kami.

“Kan ngga perlu semua orang tahu kondisi kita waktu susah.”

“Kasih tahu dong kakaknya, kalau emak itu jungkir-balik mendidik dan ngasih makan kami!”

“Buat apa? Dan biar kenapa?”

“Biar ngga sembarangan ngomong! Dan biar dia mensyukuri hidupnya sendiri! Biar dia ngga merecoki urusan keluarga kita lagi!”

Dahi emak yang banyak kerutan, mengumpul di tengah. Tapi tak sepatah katapun keluar dari bibirnya.

Kami diam.

Beberapa detik kemudian, adzan berkumandang.

“Sudah, sholat sana… Minta sama Allah hati yang memaafkan.”

Sumber foto: Nicepik

(Visited 1 times, 46 visits today)
Published inMemoar Emak

6 Comments

  1. Saya sering mendengar hal yang sama kalau ibu saya ngobrol dengan teman atau keluarga, namanya orang tua mereka sudah sangat bijaksana dalam menghadapi masalah, ibu saya selalu bilang biar Allah saja yang tahu.

  2. Salam hormatku untuk emaknya ya mas. Ini beneran real life kan mas. Indah secara narasi, namun punya kekuatan besar di kehidupan nyata. Saya terharu membacanya. Anggap saja kalimat Si Budhe sebagai bentuk apresiasi (meski kadang nyelekit). Orang-orang memang lebih banyak berorientasi pada hasil, bukan proses. Hehehe.

    • Lufti Avianto Lufti Avianto

      beneran mba, real

  3. Mas Lutfi, saluut buat ibunya ♥️

    Saya jadi teringat akan tetangga yang setiap jumpa sama saya suka bilang “enak kali hidupmu ya..”
    Gak sekali dua kali..
    Entah kenapa aku jadinya merasa dia aneh.
    Gak menghargai hidupnya sendiri. Padahal kalo mau dibandingkan dari sisi ekonomi, hidupku kasih di bawah dia.

    Akhirnya aku gak mau pusing setiap dia ngomong gitu. Setiapbdia komen begitu aku langsung ucap Hamdallah aja mas, lalu berdoa agar hidupku beneran tambah enak 😍

  4. Serba salah juga, maksud hati membela Ibu sendiri. Tapi ada saudarinya yang membela.

  5. Semoga selalu diberkahi ibu-ibu kita ya mas. Yang sudah dengan tegar dan kuat mengurus kita 😊

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *