Skip to content

‘Guru’ yang Mendewasakan Kami Adalah Buah Hati

Hal yang paling hebat terjadi pada diri manusia, ketika ia menjadi orangtua. Meski tak ada sekolah menjadi orangtua, namun kita diwajibkan memiliki pengetahuan yang memadai tentang cara mendidik dan merawat buah hati.

Menjadi orangtua pembelajar, adalah kunci dari semua bukti cinta kita pada buah hati. Saya dan istri melalui fase dimana kami memulai pengalaman sebagai orangtua dari nol; dimulai semenjak persiapan kehamilan, pada detik-detik pertama kelahiran buah hati, usia dua tahun pertama, hingga hari ini.

Saya mencoba mengenang kembali, tepatnya delapan tahun lalu. Setelah kami menikah pada Januari 2010, seperti pasangan suami-istri yang lain, kami langsung mendambakan buah hati. Tanpa penundaan. Lalu, kami berdiskusi mengenai persiapan sebelum menyandang status sebagai ayah dan ibu.

Kami membaca buku tentang psikologi, pengasuhan dan gizi, serta melakukan riset internet dan memilahnya. Sebab kita tahu, menjadi orangtua di era digital, juga perlu kemampuan literasi yang memadai.

Ketika istri saya, melalui test pack dinyatakan positif dengan garis dua berwarna merah, kami memastikan ke dokter. Alhamdulillah, Tuhan langsung mempercayakan kami, dengan kehamilan istri pada satu bulan usai pernikahan.

Persiapan menjadi orangtua, pada detik itu juga telah dimulai. Setiap pagi, istri menyiapkan bekal makan siang bagi kami berdua, sementara saya menyiapkan buah-buahan sebagai bekal tambahan istri di kantor. Buah itu tak harus yang mahal, tapi variasi warna dan jenis agar tidak bosan dan mendapatkan vitamin yang beragam. Maklum, sebagai pasangan pekerja, selain berhemat, membuat makan siang sendiri dengan bantuan suami, ternyata juga membuat kondisi psikis istri membaik, mood terjaga dan yang lebih penting, akan memberi dampak positif pada janin. Selain buah, saya juga rutin memasak kacang hijau, 2-3 hari sekali. Saya beruntung dengan selera lidah istri yang tak neko-neko dan bisa menerima resep sederhana ala saya yang tak bisa memasak.

Di samping memperhatikan keseimbangan gizi bagi ibu hamil, saya juga sesekali menyodorkannya soal-soal matematika kelas III SMP. Dari beberapa informasi dan hasil penelitian yang saya baca, ibu hamil yang mengerjakan soal matematika, akan berpengaruh pada pembentukan kecerdasan yang lebih baik.

Sembilan bulan kemudian, buah hati kami lahir pada 11 Oktober 2010. Kami beri nama Farih Abdurrahman. Meski berbagai teori pengasuhan sudah di kepala, tentu saja ada gagap ketika mengawalinya. Kami berusaha mengelaborasikan teori-teori itu dengan pengalaman dan hasil didikan orangtua kami masing-masing.

“Yang baik-baik dari orangtua, kita ambil dan terapkan,” begitu kesepakatan kami sebagai orangtua baru.

Dan yang paling penting bagi kami adalah prinsip bahwa suami dan istri adalah mitra. Ibarat dalam sebuah sekolah, saya adalah kepala sekolah, sementara istri adalah gurunya. Saya, tentunya setelah berdiskusi dengan istri, bertugas menetapkan tujuan, visi dan misi pendidikan dan pengasuhan anak, sementara istri yang menjalankannya. Sesekali, ketika saya melihat istri kelelahan usai pulang kerja, saya yang menggantikannya.

Dua tahun pertama, tentu ASI eksklusif menjadi pilihan sadar bahwa hal itu merupakan hak dasar buah hati agar tumbuh-kembangnya sesuai harapan. Sayangnya, dalam beberapa kasus, menjaga agar ASI tetap mengalir deras, tidak mudah. Termasuk bagi istri saya pada saat menyusui Farih. Ia sempat mengalami stress dan ASI terhenti selama empat hari.

Asupan gizi dijaga, juga pemberian suplemen tambahan, dan yang paling penting hiburan yang saya lakukan sebagai bentuk dukungan moril untuk meningkatkan mood-nya. Saya biasanya menyanyi, dan mengajaknya mengobrol agar pikiran negatif yang ia dengar dari omongan orang, tidak mendominasinya. Akhirnya, ASI lancar pada hari kelima dan bisa selesai hingga Farih berusia dua tahun.

Pengalaman lain yang tak bisa kami lupakan dan menjadi ‘guru’ kehidupan bagi kami, yaitu ketika Farih sakit. Karena kami berjauhan dengan orangtua dan saudara, kami harus sebisa mungkin mengatasi persoalan sendiri tanpa merepotkan mereka. Meskipun, tak ada orangtua yang merasa direpotkan bila harus menemani cucunya dalam kondisi seperti itu.

Untuk kasus sakit yang agak berat atau demam yang berkepanjangan, saya minta istri untuk tidak berangkat kerja agar proses penyembuhan bisa dipantau langsung, bukan oleh asisten rumah tangga. Setelah saya pulang kerja, giliran saya yang menjaga, agar istri bisa istirahat dan fokus menyetok ASI perah. Dan Alhamdulillah, pembagian peran seperti itu masih berjalan hingga kini.

Dari buah hatilah, kami belajar banyak hal. Belajar menjadi orangtua yang baik, bijaksana, sabar, dan hebat. Kami mencoba terlebih dahulu, lalu tanpa banyak perintah, kami menyodorkan teladan semampu yang kami bisa. Kami ingin menjadikan anak-anak kami sebagai anak yang baik, tentu diawali dengan kami memperbaiki sikap-sikap kami. Kami ingin menjadikan mereka anak-anak yang sehat, tentu saja kami awali dengan kami yang menerapkan pola hidup sehat. Begitulah, anak-anak sejatinya guru terbaik bagi kami.

#1000HariTerbaik

#1000HariPertamaAnanda

Sumber gambar: Klik Dokter

(Visited 1 times, 1 visits today)
Published inArsip Lomba NulisAyah Under-Construction

One Comment

  1. Bumil kudu sehat ya agar janinnya juga sehat dan cerdas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *