Skip to content

Game Disorder pada Buah Hati: Sebuah Catatan Antisipasi

Saya sering mendapati orangtua yang bekerja, cenderung permesif terhadap penggunaan gadget pada anak. Karena orangtua sudah lelah akibat seharian bekerja, maka gadget dianggap sebagai solusi bagi keduanya: orangtua dan anak. Orangtua bisa beristirahat, sementara anak bisa bermain.

Penggunaan gadget nyaris tanpa aturan, juga terjadi pada orangtua dengan pemahaman literasi yang rendah. Sehingga memberikan gadget berupa tablet atau smartphone pada buah hati, dianggap sebagai bentuk kasih sayang dan dipercaya sebagai media pembelajaran yang menyenangkan.

Kemajuan teknologi informasi dan internet seperti penggunaan gadget itu, bagai belati bermata dua. Selalu memberi manfaat berupa kemudahan-kemudahan dalam kehidupan di semua sektor, yang secara simultan juga memberikan pengaruh buruk. Belakangan, organisasi kesehatan dunia WHO telah memasukkan kecanduan game sebagai gangguan mental (game disorder) ke dalam International Statistical Classification of Diseases (ICD) versi terbaru pada medio Juni 2018.

Karena itulah, orangtua zaman now juga perlu antisipasi agar anak tidak kecanduan game saat menggunakan gadget. Mungkin pengalaman saya, bisa membantu anda.

Jelaskan kegunaan gadget dengan sederhana.

Kita bisa memulainya dengan menjelaskan kegunaan gadget sebenarnya. Misalnya smartphone untuk berkomunikasi (menelepon, mengirim pesan), mencari informasi yang berguna, atau berbelanja. Jelaskan kegunaan tablet, misalnya untuk peralatan yang mendukung pekerjaan ayah dan ibu di kantor, mengetik dan sebagainya. Sehingga anak memahami kegunaan sebenarnya sebuah perangkat itu diciptakan.

Dengan tingkat usia dan kondisi psikologis, anak tentu belum dapat memahami dengan cepat mengapa sebuah tindakan itu dilarang. Sebagai orangtua yang pernah menjadi anak-anak, tentu kitalah yang harus memahami perasaan dan pikiran anak-anak. Kemudian kita bisa menjelaskan dengan bahasa yang sederhana alasan penggunaan gadget untuk main game, tentu dengan penjelasan dampaknya bila digunakan secara berlebihan.

Misalnya, kita bisa menjelaskan, kalau menggunakan gadget terlalu lama, mata kita bisa kelelahan dan sakit. Atau, kita bisa dijauhi teman-teman karena terlalu asyik bermain gadget dan enggan main di luar ruangan bersama teman-teman.

Saya termasuk yang menganut keyakinan bahwa anak-anak tidak bisa dihindari dari paparan teknologi internet. Jadi memang nyaris mustahil anak-anak kita diisolasi dari penggunaan internet dan game, sementara di sekeliling mereka banyak sekali orang yang menggunakannya. Jadi, yang perlu dilakukan adalah “mengajari anak berenang terlebih dahulu sebelum mengenalkannya pada arus sungai informasi yang deras.” Kalau tidak, anak kita akan lebih mudah hanyut dalam ‘tsunami’ teknologi informasi.

Buat, sepakati dan tegakkan aturan.

Saya dan anak-anak (8 dan 4 tahun) terbiasa berdiskusi, termasuk dalam membuat aturan. Di sini, kami menyepakati tata cara, waktu dan hari penggunaan gadget. Kami sepakat, penggunaan gadget hanya pada akhir pekan atau hari libur saja, jam berapa saja dan dengan sistem poin agar mereka bisa bermain game.

Maksud sistem poin adalah, mereka bisa mendapatkan waktu bermain dalam durasi tertentu, bila ia melakukan perbuatan baik. Di sini, ia juga berhak mengusulkan, perbuatan baik apa saja yang dapat menghasilkan poin, dimana poin ini akan dikonversi menjadi waktu bermain.

Beberapa daftar poin itu antara lain; tidak ngambek sehari penuh (10 menit), membantu orangtua seperti mencuci piring, membelikan kebutuhan rumah di warung, menyapu dan mengepel lantai, dan lainnya (5 menit), membaca iqra per halaman (5 menit), membereskan mainan (5 menit) dan sebagainya.

Bagaimana kalau ia tidak punya poin dan ingin bermain game? Atau, apa sanksinya bila ia melakukan hal buruk?

Di bagian inilah, orangtua dan anak juga menyepakati sanksinya. Kalau perlu, tuliskan pada selembar kertas, lalu temple dimana anak bisa melihatnya. Sehingga bila terjadi hal-hal yang tak diinginkan di atas, sanski juga dapat ditegakkan.

Pilih dan kurasi game.

Sebelum mengunduh game, buatlah kriteria bersama-sama dengananak, game apa saja yang bisa dimainkan. Misalnya, tidak boleh game yang mengandung kekerasan, game dengan aurat yang terbuka, dan seterunya. Sehingga, ketika anak-anak mengusulkan game tertentu, kriteria ini akan memandu pilihan-pilihan kita.

Kemudian, sebelum dimainkan oleh anak-anak, kita harus mencoba game tersebut terlebih dahulu. Jangan sampai game tersebut menyimpan misi negatif tertentu (misal pornografi, kekerasan, bunuh diri, dan lainnya), sehingga memberi dampak negatif pula bagi perkembangan mental buah hati.

Saya sarankan, untuk menghindari game online sebisa mungkin. Saya rasa, game online lebih banyak diperuntukan bagi orang dewasa, bukan anak-anak. Belum lagi iklan yang ‘berbahaya’ yang kerap muncul, dan ini tak bisa dielakkan. Saya kira ada banyak game offline yang menarik dan edukatif.

Variasikan dengan kegiatan outdoor.

Selain lebih sehat bagi pertumbuhan fisiknya, permainan outdoor lebih sehat bagi perkembangan emosi psikologis dan sosialnya. Ia jadi belajar bagaimana menghargai temannya, menahan emosi dan berkawan. Kalau perlu, ajak dialog para orangtua dari kawan anak kita untuk memiliki kesadaran yang sama, sehingga anak-anak lebih menyukai bermain di luar ruangan ketimbang main game di gadget.

Awasi komunitas.

Yang saya maksud di sini adalah komunitas dimana anak itu berada. Bisa sepupu atau teman sepermainan (peer group) di sekolah dan di rumah. Kalau mereka memiliki peraturan penggunaan gadget yang berbeda dengan kita, maka besar kemungkinan anak kita akan terpengaruh.

Misalnya, sebelum memperbolehkan menggunakan gadget, anak saya hanya melihat teman-temannya bermain. Meski saya melarang untuk ikut bermain (boleh melihat saja), lama-kelamaan ia pun main game juga. Akhirnya, setelah aturan dan sistem penggunaan game ini dibuat, anak saya lebih mudah mengontrol keinginannya untuk bermain game di rumah temannya dan cenderung memilih bermain di luar ruangan.

Last but not least, keteladanan dan konsistensi.

Ini mungkin yang paling sulit bagi orangtua zaman now. Betapa tidak, segudang alasan akan kita kemukakan untuk tetap dapat menggunakan gadget di hadapan anak-anak, meski dengan konsekuensi negatif, yaitu menjadi tidak konsen meski raga berada di antara orang-orang tersayang.

Alasannya, apalagi kalau bukan urusan pekerjaan, mencari informasi dan sebagainya. Di sinilah kita perlu mendisiplankan diri bahwa pengaturan penggunaan gadget juga harus dilakukan bagi orang dewasa. Sehingga, waktu akhir pekan kita benar-benar berkualitas digunakan bersama orang-orang tercinta.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Published inAyah Under-Construction

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *