Skip to content

Evaluasi Resolusi Literasi 2019

Ya, ini saatnya mengevaluasi perjalanan literasi saya sepanjang 2019. Dari sekian target dan program, ada yang tercapai, bahkan terlampaui, dan ada pula yang tak terjamah. Nah, tulisan ini menjadi semacam pengingat untuk masa yang segera akan berganti: Tahun Baru 2020.

Bagaimana capaian kinerja literasi saya sepanjang 2019? Mari simak satu per satu.

Pertama, target blog post sebanyak 5 artikel per bulan, atau 60 per tahun.
Secara target keseluruhan, target tersebut terpenuhi. Hanya saja dari catatan rekapan arsip blog ini, ada beberapa bulan dimana saya tidak menulis sama sekali, yaitu bulan Mei, Juni, Juli dan November. Itu artinya, saya belum konsisten menulis. Ada masa dimana saya sangat enggan menulis ketika pekerjaan kantor sedang ‘menggunung’ atau kalau mood sedang tidak hadir. Ini yang masih perlu diperbaiki.

Kalau lagi giat nulis, kadang saya sampe bikin content planning. Pernah saya uji coba, dan berhasil mampu bertahan selama 14 hari. Saat itu, edan banget. Perlu kedisiplinan tingkat tinggi. Topik yang mau ditulis, ga boleh absen sekalipun. Waktu nulis, juga perlu diatur sedemikian rupa, agartidak mengganggu jam kerja dan waktu bersama keluarga, serta kegiatan bersama komunitas.

Kedua, ikut lomba kepenulisan lima kali setahun. Realisasinya, saya hanya ikut empat lomba saja, yaitu Lomba Blog Ralali.com, Lomba Go Write BKPM, Lomba Literasi Zakat dan Wakaf Kementerian Agama (2 naskah), dan Lomba Penulisan Opini Kemdikbud. Seharusnya, realisasi ini bisa mencapai target atau melebihi target, karena ada beberapa lomba yang sudah direncanakan ikut, namun terpaksa gagal karena bertepatan dengan operasi besar yang saya jalani. Akhirnya tak sempat. Meski tak ada satupun yang nyantol jadi juara, tapi saya bersyukur bisa berpartisipasi. pada empat lomba tersebut.

Yang menarik, saya justru berkesempatan menjadi juri lomba blog pendidikan keluarga yang diselenggarakan Kemendikbud. Mereka memilih saya menjadi salah satu juri lomba tingkat nasional itu, lantaran saya menjadi juara di tahun lalu. Meski ada beberapa kategori lain, saya tetap tidak diizinkan untuk ikut lomba tersebut demi menjaga independensi. Okelah, tak mengapa. Yang terpenting, saya mendapat pengalaman berharga.

Ketiga, publikasi artikel ilmiah. Saya gagal publikasi satu pun artikel ilmiah. Saya sudah mencoba dengan berkolaborasi bersama kawan yang menjadi dosen, namun sampai evaluasi ini ditulis, tak ada kabar beritanya apakah naskah saya diterima sebuah jurnal komunikasi atau tidak.

Saya juga menulis tema yang berbeda dengan kawan lain yang juga dosen. Sudah ada topik yang akan ditulis, hanya saja di pertengahan jalan, ada satu proyek yang tak bisa saya elakkan, yaitu menulis buku sebagai kewajiban pasca workshop yang digelar Bekraf.

Target ini juga gagal disebabkan mutasi saya di kantor, yang membuat saya tidak bersentuhan dengan semua hal yang berbau ‘ilmiah’ sehingga mengendurkan semangat dan motivasi menulis. Saya berharap, tahun depan masih ada kesempatan untuk bisa menerbitkan artikel di jurnal akademik, setidaknya satu atau dua artikel per tahun.

Keempat, menulis buku. Ini pencapaian luar biasa tahun ini. Saya hanya menargetkan terbitnya satu buku saja, namun bisa melebihi ekspektasi. Satu buku saya terbitkan secara indie “Ramadhan Metamorpho-Self” melalui BitRead, satu buku lainnya melalui self-publishing, yaitu “Pitu Loka” via Diva Press. Satu buku antologi cerita pendek bersama Gol A. Gong dijadwalkan terbit April 2020.

Senang? Sudah pasti. Saya bertemu dengan banyak penulis yang lebih berpengalaman. Dan kesempatan berkolaborasi bukan kesempatan yang bisa didapat dengan percuma. Maka, ketika ada tawaran untuk berkolaborasi, ambil saja. Yang saya pikirkan, berkarya saja selagi bisa. Selagi ada kesempatan.

Kelima, kolaborasi komunitas yang saya dirikan, Books4Care, belum maksimal. Penyebabnya, komunitas ini masih bertumpu pada diri saya sendiri. Belum bisa berjalan tanpa saya. Memang, ini masih bayi. Seumur jagung. Masih masanya mencari para ‘petani’ unggul nan istimewa yang akan membesarkannya dengan jiwa dan raga. Ada sih, dua teman yang selalu bersama saya menjalankan kegiatan-kegiatan Books4Care, tapi rasanya belum cukup menjalankan roda organisasi. Sisanya, masih menjadi partisipan kegiatan yang kami gulirkan. Ini murni kegagalan saya dalam merekrut, menjalankan organisasi, dan membesarkannya.

Keenam, saya gagal menuntaskan 12 buku parenting yang saya canangkan. Penyebabnya, saya kebingungan memformat naskah fathering yang sedang saya tulis. Beberapa kali merombak gaya penulisan, membuat saya kehilangan mood. Padahal, saya menargetkan bisa menerbitkan buku ini pada Januari 2020. Jadi, target ini mungkin akan saya skip di resolusi 2020.

Oke, itulah ulasan singkat mengenai pencapaian literasi saya di 2019. Saya masih menyusun resolusi 2020 yang saya akan publish di blog ini. Agar menjadi catatan dan motivasi, bahwa saya turut mewarnai dunia literasi Tanah Air. Meski bagai buih. Semoga Allah Swt meridhoi. Aamiin.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Published inLiterasi Berdaya

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *