Skip to content

Jodoh Pilihan Emak (Bagian 10-Habis)

Aku berjalan pelan dengan langkah yang dibuat gagah. Padahal, dadaku bergemuruh seperti gempa berkekuatan mahadasyat. Kerongkonganku tercekat, nyaris tak bisa bersuara.

Pikiranku sedang tak berada dalam tempurungnya. Entah melayang ke mana. Yang jelas, aku hanya melihat langkah kakiku menuju sebuah masjid berarsitektur lawasyang terletak beberapa puluh meter dari wisma tempatku menginap.

Kilatan cahaya foto membuatku tetap bergeming. Sorot kamera hanya membuatku makin khusyuk menyendiri dalam ruang hati yang tak tersentuh orang lain, meski ada puluhan kerabat dan keluarga di sekelilingku. Aku seperti berbicara pada diri sendiri dan menyelipkan ribuan istighfar untuk menenangkan gempa yang juga belum mau pergi.

Inilah detik-detik yang akan mengubahku. “Sekarang saatnya…,” batinku berbisik.

Aku memasuki sebuah masjid dengan ratusan pasang mata yang memandangiku. Orang-orang itu tersenyum menyambutku. Mereka berdiri saling berhadapan, membentuk seperti lorong yang memandu menuju “altar” utama.

Para tetamu wanita berada di lingkaran kedua ruang masjid, sementara tetamu lelaki berada di dalam. Sepertinya semua tetamu membentuk sebuah lingkaran yang menyisakan aku dan beberapa lain lelaki sebagai pusat lingkaran.

Setelah petata-petiti dalam bahasa Jawa tingkat tinggi yang tak kumengerti, perjanjian besar itu lantas dimulai. Aku memang menyebutnya sebagai “perjanjian besar”, sebab Allah memang menyebutnya demikian dalam Al-Quran. Juga memang ini adalah hari besar bagiku. Kehidupanku akan berubah.

Seorang lelaki senja menggamit tangan kananku. Tangannya dingin, juga tanganku. Sorot matanya teduh, tapi tak tersenyum. Sepertinya getaran kami sama, grogi dalam frekuensi yang tak terkatakan lagi, meski pusaran bahagia sedang dirasakan orang-orang di luar kami.

Kini saatnya. Ini urusan lelaki dewasa.

Lelaki senja itu menarik tanganku yang sejak tadi digenggamnya, “tolong niatkan urursan ini sebagai ibadah,” ia berpesan sambil berbisik. Bagai palu gada yang menghantam kepala, aku menjadi sadar sepenuhnya. Ini memang bukan urusan sederhana. Ini urusan sampai aku menutup mata, sampai akhirat!

Kuperiksa hati yang sejak sebulan lalu, tampaknya lupa kutengok. Ah, masya Allah, bagaimana mungkin, kompas hati itu sedikit melenceng dari arah yang kuharapkan jauh hari sebelumnya. Arahnya melenceng sedikit, beberapa derajat, seperti yang kusaksikan arah kiblat yang melenceng di dalam sinetron. Tapi jangan disepelekan! Sebab, beberapa derajat saja melenceng, bisa menyesatkan siapa pun dan akan menjauhi kita dari titik yang dituju.

Alhamdulillah, pesan yang sederhana itu telah membuatku sadar hati dan mau memeriksa. Kusetel arah derjat yang sudah dimaksud, pencet beberapa tombol untuk membuatnya dalam posisi “permanen” dan ada bunyi “klik” yang kuharap itu sudah pas dengan yang Tuhanku mau. Bismillah… aku siap memulai urusan ini.

Setelah itu, lelaki senja di hadapanku tampak bersiap. Menunduk dengan khusyuk, lalu merapalkan sebuah kalimat sakti yang mengiang dengan mikrophone. Segera kusambar dengan dua helaan nafas, cepat dan nyaris tanpa jeda untuk menyambut dengan satu kalimat yang panjang dan mulia.

Dua lelaki lain yang menyaksikan tampak saling berpandangan dan sepakat, “sah.”

Ajaib. Dadaku terasa ringan seperti biasa, seperti beban berat yang menggantung hilang ditiup angin. Tenggorokanku sudah tak sakit panas dalam akut lagi. Menyisakan keringat yang menyergap di sudut kening.

Ratusan kepala yang menyaksikan dalam radius beberapa meter tampak mengangguk dan berucap syukur berjamaah sehingga lafal “alhamdulillah” terdengar bergema. Tak lama dari peristiwa ini, pejabat pemerintah daerah yang bertugas mencatat, mengambil alih dan menutup dengan doa.

“Aku sudah berganti status.” Lalu doa bertalu-talu menghujani kami.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Published in101 Komunikasi Pasutri

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *