Skip to content

Kategori: Memoar Emak

Kumpulan cerita tentang kenangan aku dan emak dan bapak, sejak masa kecil hingga kini. Ditulis untuk dedikasi dan kecintaanku pada orangtua. Menjadikan kenangan abadi yang memiliki pelajaran dan abadi sehingga bisa dibaca anak-cucu kelak. Rencananya akan dibukukan menjadi novel.

Menebus Surga

Emak mengabarkan, kalau ia sudah tiba di bank, 30 menit sebelum kami janjian di jam istirahat. Sedangkan aku masih di kantor. Aku segera membalas pesannya. “Sebentar ya mak.” Jaket dan tas, langsung kusambar, memacu sepeda motor ke timur Jakarta, Pasar Kramatjati.

Keringat bercucuran, karena tak biasa bermotor tepat tengah hari. Aku celingukan di pasar, mencari bank. Emak keluar dari salah satu bank berwarna biru dongker, aku segera turut.

Mobil dan Pesan dari Langit

Menjelang akhir tahun ini, kami sekeluarga disibukkan dengan hunting mobil bekas terbaik dan yang cocok. Dengan bujet yang sudah ditetapkan, kami mencari mobil yang sesuai kebutuhan kami: irit, mudah perawatan, muat banyak penumpang dan kalau bisa, harga jual kembali yang tak merosot. Maklum, ini mobil pertama kami sekeluarga yang tanpa pengetahuan otomotif dan pengalaman berkendara. Jadi antara bujet, kebutuhan dan keinginan harus dipadukan seharmonis-harmonisnya.

(Hari ke-14) Cobaan 

Emak tengah dirundung luka yang menganga pada hati dan perasaannya. Si Nomor Tiga mengabarinya lewat telepon.

“Kenapa?”

“Ada yang teror pake nomor nggak dikenal. Menghina.”

Aku sempatkan mengunjungi emak di akhir pekan agar tahu cerita selengkapnya. Saat aku tanya, ia mengambil telepon selularnya, lalu membuka pesan singkat dan memberikannya padaku.