Menebus Surga

Emak mengabarkan, kalau ia sudah tiba di bank, 30 menit sebelum kami janjian di jam istirahat. Sedangkan aku masih di kantor. Aku segera membalas pesannya. “Sebentar ya mak.” Jaket dan tas, langsung kusambar, memacu sepeda motor ke timur Jakarta, Pasar Kramatjati.

Keringat bercucuran, karena tak biasa bermotor tepat tengah hari. Aku celingukan di pasar, mencari bank. Emak keluar dari salah satu bank berwarna biru dongker, aku segera turut.

Continue reading “Menebus Surga”

Mobil dan Pesan dari Langit

Menjelang akhir tahun ini, kami sekeluarga disibukkan dengan hunting mobil bekas terbaik dan yang cocok. Dengan bujet yang sudah ditetapkan, kami mencari mobil yang sesuai kebutuhan kami: irit, mudah perawatan, muat banyak penumpang dan kalau bisa, harga jual kembali yang tak merosot. Maklum, ini mobil pertama kami sekeluarga yang tanpa pengetahuan otomotif dan pengalaman berkendara. Jadi antara bujet, kebutuhan dan keinginan harus dipadukan seharmonis-harmonisnya.

Continue reading “Mobil dan Pesan dari Langit”

(Hari ke-12) Si Hitam Seharga Lima Juta

Sudah tengah malam. Hening. Suara detak jam dinding pun bisa terdengar. Sesekali ada tokek, dan jendela yang bergetar tertiup angin dari kamar di lantai dua ini.

Di selembar kasur yang tipis di sebelahku, tergeletak tak sadarkan diri sahabatku. Sudah jauh ia bermimpi ke pulau kapuk di ujung dunia. Tapi aku masih terjaga, menatapi layar komputer dimana laporan Kuliah Kerja Lapangan dan tugas kuliah yang lain, masih harus diselesaikan.

Continue reading “(Hari ke-12) Si Hitam Seharga Lima Juta”