Skip to content

Belajar Romantis dari Pepeng (Bagian 3-Habis)

Kamar Pepeng sudah diperluas, menjadi 25 meter persegi. Lebih luas sewaktu kunjungan pertama saya sebelumnya pada 2007. Sebelum masuk ke kamar itu, sebuah ukiran sulur khas Madura yang menghiasi pinggir pintu, jelas menunjukkan identitas sang penghuni.

Pepeng, lelaki kelahiran Sumenep itu menjalani aktivitas sehari-harinya di dalam kamar. Menerima tamu, membaca buku, makan bersama, diskusi bulanan dengan anak, sampai syuting beragam acara dan pemotretan.

Karena dua kegiatan yang terakhir itulah alasan kamar Pepeng diperluas. Pepeng sempat mengungsi di apartemen selama dua bulan saat pihak stasiun teve swasta yang menawari Pepeng sebuah program bincang-bincang, merenovasinya. Jadilah kamar itu kini sebagai studio mini. Syuting acara lain pun, juga dilakukan di kamar itu, yang ia sebut sebagai ‘goa’ pribadinya.

Saat ketemu untuk kedua kalinya, saya lihat bagaimana seorang Pepeng menjadi survivor atas ujian penyakitnya. Saya lihat ada buku yang berderet di belakang ranjang otomatisnya. Ada laptop di kamarnya yang full ac. Dan, ada gambar kartun ‘Pepeng’ yang memecahkan rekor MURI pada Agustus 2010, menghiasi dinding kamarnya.

Saya sempat tanya soal keadaannya. “Apa Mas Peng marah terhadap nasib?”

Dia bilang tidak.

“Tapi kalau lu tanya, apa lu suka sama sakit? Nggak. Ini kehendak Allah, suka nggak suka, saya minta Allah untuk kami melihat semua ini dari perspektif yang paling indah.”

Pepeng yakin, di balik kesulitan itu selalu ada kemudahan. Bukan sesudah kesulitan, tapi bersamaan dengan kesulitan itu.

“Tidak menyalahkan siapa-siapa ya?”

“Kita selalu bilang. Oh god why me? Kalau Tuhan bilang, why not? Kenapa harus menyalahkan Allah? Tapi yang namanya sakit nggak enak, itu pasti dialami.”

Begitu ringan Pepeng menjawab. Seolah tak ada sakit yang dirasa, padahal dia bilang, kalau rasa sakit di sekujur tubuhnya itu, tiap menit dirasakan. Tapi, itulah Pepeng.

Perbincangan kami sudah berlangsung empat puluh menit saat Tami masuk kamar hendak pamit untuk keluar rumah. Saya minta dia untuk nimbrung agar saya bisa tanya beberapa hal.

Tami mendekati sisi kanan ranjang Pepeng.

“Mba, masih sayang sama Mas Pepeng?” pertanyaan yang sama yang saya ajukan seperti Rahman sang tukang cukur.

Saya ingin dengar jawaban langsung dari wanita yang sudah menemani Pepeng dengan setia. Saya ingin melihat ketegaran seorang perempuan. Saya ingin melihat, bagaimana cinta menguatkan mereka. Saya ingin melihat energi cinta yang membuat mereka mampu menjalankan peran dengan sempurna. Ya, saya ingin belajar dari mereka.

“Dipikir dulu. Hmmm, ATM-nya,” Tami menjawab dengan nada 7/8 bercanda.

Kami tertawa, termasuk Pepeng yang terpingkal-pingkal, seolah rasa sakit itu telah menguar dari dirinya.

Menurut Tami, tak ada alasan untuk meninggalkan Pepeng, sosok yang tetap mencintai dan menghargai dirinya. Tentu saja, ada hal yang menguatkan Tami dengan ‘tugas baru’ yang disebutnya itu.

“Nah, yang kasih tugas itu Allah,” telunjuk Tami diacungkan ke langit-langit.

Saya merasakan getaran ruhani yang kuat. Terasa sekali ketulusan perempuan di hadapan saya. Memang, ketika kekikhlasan menemukan jalannya, seolah semua ujian akan dihadapi dengan mudah saja. Kekikhlasan yang bermula dari kepasrahan seorang hamba.

Meski dalam keseharian, Tami mengakui pernah merasa terpuruk dan hampir menyerah dengan ujian itu. Namun, Tami dan Pepeng saling menguatkan dan tak pernah berhenti belajar.

“Kami bangkit kembali. We wake up and start again. Yang bikin kita kuat, kami harus menyontohkan buat anak-anak,” Tami tersenyum.

Saya terdiam, dan merenung untuk beberapa saat. Ya, anak-anak adalah alasan mengapa kita harus menjadi teladan. Saya mengagumi mereka. Pasangan ini begitu menebar pelajaran tentang kesetiaan, komitmen dan bangkit dari rasa sakit.

Kata Pepeng, jatuh, apapun bentuknya itu; kegagalan, sakit, sial dan sebagainya, perlu cara pandang lain yang lebih baik. Jatuh itu tak ada yang enak.

“Kayak naik sepeda aja. Sering jatuh, tapi kan suka naik sepeda, bangun dong jack, itu namanya survivor karena dia bertahan. Jadi jangan jadi victim jadi survivor. Saya nggak mau jadi victim dari keadaan saya.”

Dari kondisi yang tak mengenakkan itu. Pepeng belajar memahami dirinya untuk tetap tenang menyikap cobaan sesulit apapun.

“Kita butuh ketenangan dalam setiap tekanan apapun. Orang sakit itu kehilangan pegangan. Tenang itu nomor satu,” kata Pepeng.

Sebab, sejak Pepeng sakit, penyakit itu juga menjalar ke keuangan keluarga. Penyakit yang kedua, Pepeng menyebutnya penyakit “penyempitan pembuluh dompet”. Bisa dibayangkan, bagaimana pasangan ini harus menghidupi empat anak, ditambah tiga karyawan yang bekerja di rumah, berikut uang kuliah, uang jajan dan segala jenis tagihan listrik dan telepon.

“Kalau ditanya apakah berat, ya memang berat. Tapi saya nggak sampai mikir berat. Saya sibuk, Pepeng sibuk, anak-anak juga sibuk,” kata Tami.

Meski begitu, Tami mengaku tetap merasakan keberkahan dalam soal rezeki. Orang sakit memang membutuhkan biaya. Untuk obat, misalnya, Pepeng sering mendapatkan obat atau vitamin dari tamu yang menjenguknya. Kalau habis, ada saja yang membawakan untuknya.

“Obat-obatan yang berupa vitamin itu hadiah dari orang-orang yang jenguk. Kalau dibilang berkah ya berkah banget,” katanya.

“Mas Peng, berarti jadi orang yang sabar ya?” saya bertanya sekaligus menyimpulkan, dengan nada serius.

Mimik Pepeng mendadak serius. Matanya setengah melotot, dia bilang, “Di tiwtter saya juga sudah klarifikasi. Banyak orang menyebut saya orang sabar, orang tegar dan sanggup menghadapi kesulitan. Di sini saya mau tegaskan, yang bener, kalau saya itu orang Madura.”

Semua tertawa terpingkal-pingkal.

Setelah itu, Tami pamit terlebih dahulu, sementara Pepeng ‘dititipkan’ kepada kami. Hingga obrolan sore itu berakhir saat adzan Maghrib berkumandang di langit Cinere.

***

Pepeng menghembuskan nafas terakhirnya pada Rabu, 6 Mei 2015. Ia berjuang dari penyakit Multiple Sclerosis-nya sejak 2006, atau selama 14 tahun. Saya berdoa, semoga sakitnya menjadi penggugur dosa-dosanya, dan Allah Swt menempatkannya pada sisi terbaik. Saya masih bisa merasakan energinya yang menjalar ke diri saya, saat kami mengobrol, dan saya juga yakin, orang lain merasakan yang sama. Al-fatihah untuk beliau.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Published in101 Komunikasi Pasutri

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *