Skip to content

Belajar Romantis dari Pepeng (Bagian 2)

Pepeng yang saya kenal berikutnya adalah sosok yang hangat dan cepat akrab dengan siapapun, meski baru dikenalnya. Mungkin karena ia suka melucu, keakraban cepat terbangun. Tapi saya sama sekali tak menyangka, ia juga romantis. Mungkin, lelaki yang di tampak ngocol di depan umum, akan begtiu romantis di rumah.

Kisah berikutnya, Pepeng ternyata pernah ‘digugat’ sang istri, Tami.

“Kenapa sih kok kamu itu garing banget? Masa’ udah 25 tahun kawin belum juga ada kata-kata sayang. Kata cinta dari kamu,” Tami menggugat pada suatu ketika.

Dia meminta Pepeng, sekali saja mengatakan cinta. Kalau sudah mendapat ‘serangan’ macam ini, Pepeng selalu punya jurus sakti dalam mengelak.

“Saya mau sih. Kan harus yang menggambarkan Pepeng. Harus indah. Tapi semua kata-kata udah dipake advertising agency,” dia berkilah.

Pepeng mengaku nilainya tak lebih dari D minus untuk mata kuliah “Romantisme Suami-Istri”. Lelaki alumnus Antropologi Universitas Indonesia ini, memang terkenal nyentrik. Jago bikin ngakak, tapi soal romantisme, ia perlu belajar.

“Saya ingat ketika pertama kali saya memanggil ‘dik Uta’. Tami berkaca-kaca. Mungkin bahagia,” kata Pepeng mengenang.

Masih mengenai panggilan sayang itu. Pepeng juga mewujudkan janjinya bahwa dia akan mengungkapkan cintanya a la Pepeng.

Itu terjadi di sebuah studio televisi swasta dalam sebuah acara penyerahan award sebuah perusahaan minyak kayu putih. Tami adalah salah satu penerima award. Dalam acara itu, ada kado spesial untuk Tami, berupa sebuah rekaman yang tak dia duga.

Dalam rekaman itu, muncul sosok lelaki yang sudah dia kenal berpuluh tahun. Lelaki itu adalah Pepeng yang duduk di kursi roda, kemudian membacakan sebuah puisi. Dalam puisi itu, Pepeng mengenang sejarah dua mahasiswa yang mengikat cinta dalam sebuah perkawinan, 30 Oktober 1983, saat Pepeng 29 tahun dan Tami 22 tahun.

Dua orang mahasiswa mengikat cinta dalam perkawinan untuk menghindari berbagai hubungan yg dilarang sang Khalik.

Hari itu 30 Oktober 1983, si pria 29 tahun dan gadisnya 22 tahun.

Dua orang mahasiswa mengikat cinta dalam perkawinan untuk mendapat keturunan seperti yang diperintahkan sang Khalik.

Anak pertamanya lahir, si bapak mengurus, menjaga malam hari, mengganti popok dan memandikan.

Si Ibu menyusui. Mereka masih muda dan saling menyinta. Si pria 32 tahun dan kekasihnya 25 tahun.

Si pria sudah sarjana, setelah 10 tahun, setelah mempunyai anak dua. Mereka masih muda dan saling menyinta, si pria 34 tahun dan kekasihnya 27 tahun.

Si pria sudah bekerja, kekasihnya sudah sarjana, anak mereka sudah 4. Hari itu mereka memasuki rumah yang diidamkan oleh setiap keluarga. Mereka masih bugar dan saling menyinta. Si pria 42 tahun dan kekasihnya 35 tahun.

Hari ini si pria 54 tahun, ia tergeletak karena sakitnya didampingi oleh kekasihnya yang 47 tahun, tidak muda lagi menjelang ulang tahun perkawinan mereka yang ke 25.

Dalam sakitnya berkelebat semua kenangan dengan kekasihnya. Dalam sakitnya ia menulis untuk kekasihnya:

Dik Uta, demikian panggilan kesayangan sang pria setelah sakit untuk kekasihnya yang bernama Utami

Saya tidak akan pernah lupa ketika awal penyakit itu datang kamu menenangkan saya dengan kata-kata

“Kita sedang menjalani peran baru”

Subhanallah, dik Uta kata-kata itu sangat menjadi inspirasi untuk saya menjalani sakit saya. Dan, saya selalu berdoa,

“Ya Allah berilah kecerdasan untuk kami agar kami selalu melihat semua ketetapanmu melalui sudut pandang yang membahagiakan.”

Peran Baru, itu adalah salah satu sudut pandang yang cerdas dan membahagiakan

Ahh di Uta, teralu banyak dan panjang jika saya tulis betapa rasa terima kasih atas ketegaranmu menjalani peran baru ini.

Saya tahu dik Uta sedih tapi kamu tetap tegar

Saya tahu dik Uta takut, tapi kamu tetap tegar

Saya tahu dik Uta lelah tapi kamu tetap tegar, mengurus saya, membersihkan, dan membalik badan saya setiap 1 jam di malam hari.

Saya tahu dik Uta ingin jalan-jalan untuk hilangkan jenuh tapi kamu tetap tegar mendampingi saya karena saya tidak bisa ditinggal terlalu lama sendiri.

Saya tahu dik Uta selalu mengharapkan kata-kata cinta dari saya tapi kamu tetap tegar walau kamu tak pernah mendengar kata-kata itu.

Hari ini kamu akan mendengarnya dari mulut saya

Dik Uta, aku cinta kamu tanpa batas

Saya akan selalu bahagiakan kamu tanpa batas,

Saya akan selalu ada untuk kamu tanpa batas,

Kelak kalau saya sudah bisa jalan, kita akan pergi kemanapun kamu mau

Yang selama ini hampir tidak pernah kita lakukan.

Dik Uta, pikirkanlah yang terbaik tentang cita-cita kita karena Allah SWT berfirman:

“Aku sebagaimana prasangka hambaKu”

Begitu bunyi perasaan yang sudah dipendamnya sekian lama. “Saya ucapkan, tuntas,” Pepeng merasa lega.

Sepulangnya Tami dari acara itu, Pepeng bertanya soal puisi yang dibuatnya. “Pokoknya campur aduk, deh. Susah ngomongnya,” katanya tersipu-sipu dangan mata yang berkaca-kaca.

Dari kisah ini, saya tahu, Pepeng pembelajar yang cepat.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Published in101 Komunikasi Pasutri

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *