Skip to content

Belajar Romantis dari Pepeng (Bagian 1)

Saya mengenal Ferrasta Soebardi alias Pepeng sejak tahu kuis Jari-Jari di televisi. Kesan yang melekat, pepeng itu lucu, ngocol dan di saat yang bersamaan; menjengkelkan para penelepon kuis.

Kalau tak jadi wartawan, mungkin kesan itu yang akan terus berkutat. Tapi, setelah bertemu dan ngobrol secara intens dengannya, pandangan saya berubah. Dan saya mendapat banyak pelajaran darinya. Tentang hidup, tentang kebijaksanaan, juga tentang cinta dan romantisme.

Sekitar 2011 lalu, saya menyinggahinya untuk mendengar kisahnya berjuang melawan penyakitnya, multiple sclerosis (MS), sebuah gangguan autoimun, dimana sistem kekebalan salah sasaran karena melihat sel-sel tubuh sendiri sebagai benda asing dan menyerangnya.

Saat divonis MS pada 2006, lelaki paruh baya itu justru berucap, “Alhamdulillah.”

Utami Maryam Siti Aisyah atau biasa dipanggil Tami, istrinya, tampak heran. “Kok, alhamdulillah?”

“Ya alhamdulillah. Artinya saya bisa tahu bagaimana menghadapi penyakit ini dan hidup dengannya,” kata lelaki itu, santai.

Hari-hari Pepeng mulai berubah. Sebab, di kala kambuh, MS menyerang sumsum tulang belakang yang mengakibatkan separuh badannya mendadak lumpuh selama belasan jam, lalu normal kembali.

Beberapa hari usai kejadian itu, Pepeng dan Tami, bepergian ke sebuah mal di Jakarta Selatan. Pepeng diantar ke sebuah barber shop, sementara Tami berbelanja kebutuhan pokok bulanan. Hari itu, Pepeng menggunakan kursi roda. Seorang lelaki, menyambut Pepeng di barber shop. Rahman namanya.

Sambil memotong rambut Pepeng yang mulai gondrong, keduanya terlibat pembicaraan.

”Om, boleh nanya nggak?” nada Rahman terdengar ragu.

”Boleh,” Pepeng menjawab kalem.

“Om sayang nggak sama tante?”

Yang dimaksud Rahman dengan sebutan ‘tante’, adalah Tami, istri Pepeng yang dinikahinya pada 30 Oktober 1983.

“Saya? Insya Allah. Alhamdulillah sampe sekarang sayang,” jawabannya meluncur lancar, setelah hening sejenak.

“Kalau tante, sayang nggak ya sama, om?” pertanyaan Rahman kini datang menyambar cepat, setelah Pepeng menjawab pertanyaan pertamanya.

Pepeng terdiam lagi. Kali ini dia membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk berpikir.

“Masya Allah. Bener juga lo, ya. Tar gue tanya, deh,” Pepeng kembali menjawab dengan kalem, meski ia mengakui pertanyaan itu belum pernah terpikir olehnya.

Menyimak cerita itu, saya juga maklum. Sama halnya dengan Pepeng. Melihat Pepeng berkursi roda, sementara sang istri tampak segar-bugar, bukan tidak mungkin hal-hal terburuk menimpa sebuah keluarga. Pepeng melanjutkan cerita. Bukan tanpa alasan Rahman menanyakan hal itu. Sebab Rahman, ternyata memiliki pengalaman pahit. Ayahnya sakit parah, ketika ia berusia delapan tahun. Bersamaan dengan itu, sang ibu justru minggat membawa serta adik-adiknya. Kisah yang tragis, sebuah keluarga harus dipisahkan sebab sebuah penyakit menyerang salah satu orangtua mereka.

Malam harinya, Pepeng benar-benar menanyakan pertanyaan Rahman kepada Tami. Dari ranjang, Pepeng memanggil Tami. Seperti sudah hafal karakter suaminya, Tami tahu ada sesuatu yang akan disampaikan Peng, panggilan sayang Tami.

Tami mendekati Pepeng. Suaranya lembut, saat pertanyaan pepeng meluncur. Pertanyaan yang kira-kira berbunyi, “Kamu masih sayang nggak sama saya?”

Tami justru terdiam dan berurai air mata. Kelopak matanya basah. Tami justru malah balik bertanya “Kok nanya begitu?”

(Visited 1 times, 1 visits today)
Published in101 Komunikasi Pasutri

2 Comments

  1. Sejujurnya belum pernah nonton kuis jari-jari hehe…. Kadang ketika merasa sedih atau sakit, manusia jadi mendadak melankolis. Sungguh besarnya ketabahan ibu Tami, dalam merawat suami yg sedang sakit.

  2. Lufti Avianto Lufti Avianto

    Wah berarti beda zaman nih kak hehehee, kuis itu dulu ngetop banget lhoo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *