Skip to content

Belajar Bohong dari Rumah

Perempuan 70 tahun itu pulang dalam keadaan lebam di wajahnya. Putrinya bertanya, “Kenapa, ma?”

Ia menjawab sekenanya. “Dipukuli orang.” Ia mungkin memilih jawaban itu, lantaran heroism yang melekat pada aktivitas hariannya yang kerap membela orang kecil, hak asasi, dan bentuk-bentuk ketidakadilan lainnya. Dan mungkin jawaban itu, ia kira, akan membuat anaknya dan paling tidak keluarganya mafhum, dan tak akan banyak tanya lagi.

Ternyata tidak.

Kebohongan yang dianggap sepele itu, yang dia anggap akan tersimpan dalam lembar cerita keluarganya saja, ternyata meluas hingga sampai pada telinga-telinga ‘orang besar’. Maklum, perempuan ini punya catatan panjang dalam perjuangan melawan tiran, hingga ia juga dikategorikan tokoh nasional, atau seniman nasional. Pendeknya, sebagai orang yang punya popularitas dan pengaruh, ia juga kenal dengan tokoh-tokoh yang terkenal dan punya pengaruh.

Kabar tentang tokoh perempuan yang ‘dianiaya’ itu pun terdengar ke wakil rakyat, tokoh politik senior hingga calon presiden. Aroma politik terasa begitu menyengat, manakala ada perasaan ingroup di mana perempuan tadi juga termasuk salah satu juru kampanye seorang calon presiden. Pernyataan ketidakadilan, penganiayaan, dan kedzaliman yang dilekatkan pada si perempuan, terlontar.

Pada saat yang bersamaan, pihak kepolisian bergerak paralel dan cepat mengidentifikasi dugaan penganiayaan tersebut. Penyelidikan dilakukan hingga ke 23 rumah sakit dan pengecekan daftar manifest di bandara, tempat dugaan terjadinya penganiayaan tersebut.

Hasilnya, justru membuat si perempuan kehilangan muka. Bukan bekas penganiayaan, melainkan operasi plastik untuk menyedot lemak di bagian wajah.

Kebohongan seorang ibu di rumah, yang kemudian meluas hingga bikin heboh skala nasional itu menjadi perhatian, bersaing dengan berita tentang bencana gempa di Palu. Belakangan, ia ditetapkan sebagai tersangka pelaku penyebar hoaks dan kemudian ditahan, meski sebelumnya telah meminta maaf.

Saya tak bisa membayangkan, bagaimana kebohongan ini dipertontonkan dari lidah seorang perempuan yang telah menjadi ibu. Ketidakjujuran yang terjadi di dalam sebuah keluarga, di mana nilai-nilai kebaikan seharusnya disemaikan, ditumbuhkan, dan dipanen pada jiwa-jiwa anak yang akan meneruskan generasi sebelumnya.

Bagaimana kebohongan ini dipertontonkan dari lidah seorang perempuan yang telah menjadi ibu.

Peristiwa ini mengingatkan saya tentang kajian Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tentang upaya menanamkan kejujuran dalam keluarga. Dari studi yang dilakukan di Yogyakarta dan Solo, responden ayah dan ibu tidak memprioritaskan nilai kejujuran sebagai nilai utama yang harus diajarkan kepada anak (responden ayah 27%, responden ibu 28%).

Yang lebih besar, sholeh/shalehah sebagai nilai utama yang harus diinternalisasikan kepada anak (Responden ayah 34%, responden ibu 35%). Sayangnya, nilai sholeh-shalehah ini dimaknai hanya sebatas kegiatan ritual keagamaan saja, bukan pada nilai-nilai kehidupan yang berdampak pada perkataan dan perilaku.

Kegelisahan tentang ketidakjujuran ini juga mengingatkan pada penelitian yang saya lakukan pada 2014 lalu tentang studi penerimaan remaja terhadap budaya antikorupsi dalam keluarga. Hasil penelitian itu mengungkapkan keseimbangan peran ayah dan ibu dalam keluarga akan menentukan bagaimana remaja memegang nilai-nilai kejujuran sebagai fondasi utama dalam perilaku antikorupsi.

Remaja (anak) umumnya cenderung mencontoh perilaku orang tuanya yang kerap melakukan inkonsistensi terhadap nilai antikorupsi tersebut. Pembenaran yang dilakukan oleh orangtua dalam hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari juga mempengaruhi bagaimana nilai-nilai kejujuran itu pada akhirnya juga tidak mampu diterapkan secara konsisten dalam kehidupan remaja sehari-hari.

Toleransi terhadap perilaku kecurangan kecil yang dilakukan oleh masyarakat akan membentuk karakter remaja yang tidak kuat dalam menangkal nilai-nilai korupsi yang lebih besar pada fase kehidupan selanjutnya.

Toleransi terhadap perilaku kecurangan kecil yang dilakukan oleh masyarakat akan membentuk karakter remaja yang tidak kuat dalam menangkal nilai-nilai korupsi yang lebih besar pada fase kehidupan selanjutnya.

Remaja akan berbagi nilai dalam kelompoknya dan akan saling mempengaruhi terhadap pemaknaan kolektif terhadap perilaku korupsi. Remaja dengan karakter kolektivisme tinggi biasanya kerap melakukan penyesuaian dengan teman-teman sepermainannya supaya dapat merasa diterima dalam kelompok tersebut (in-group). Termasuk dalam hal ini pada bagaimana fondasi nilai-nilai kejujuran ini dinegosiasikan pada pemakluman terhadap kecurangan tertentu yang dilakukan oleh kelompoknya tersebut.

Representasi remaja yang memiliki nilai antikorupsi yang kuat ditemukan pada sosok remaja yang mendapatkan pengasuhan yang baik dalam keluarga, dan juga diajarkan pada sistem pendidikan sekolah yang mengedepankan keteladanan dari para pengajarnya. Institusi sekolah juga memiliki peran besar terhadap bagaimana remaja mampu menerapkan nilai kejujuran pada setiap perilaku kesehariannya.

Foto: Shutterstock

juga ditayangkan di Kumparan.com

(Visited 1 times, 1 visits today)
Published inAyah Under-Construction

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *