Skip to content

Ayah Milenial, Ayah SIAGA. Itu Saya!

Cerita tentang menemani istri yang melalui proses persalinan, selalu menarik dan membahagiakan. Setidaknya bagi saya, seorang lelaki yang telah beralih status menjadi ayah dengan tiga anak, satu putri dan dua putra.

Dari tiga anak kami, saya menemani dua proses persalinan. Sementara putri kedua kami, sudah lahir duluan saat saya masih di perjalanan dari kantor, pada Jumat siang yang menerebos hujan. Mengapa mendampingi istri saat proses persalinan penting?

Menurut keyakinan saya, perjuangan seorang perempuan paling puncak adalah saat proses persalinan. Ia mempertaruhkan hidupnya demi janin yang telah bersemayam selama 9 bulan sebelumnya. Karena itulah, seorang suami harus hadir mendampingi untuk memberikan kekuatan moril bagi perjuangannya.

Saya jadi ingat lagu Suami Siaga yang dulu saya dengar, -dan hapal- saat saya masih SMP, yang dinyanyikan Iis Dahlia. Eh, ternyata Alhamdulillah, saya menjalaninya juga. Saya memang tak menjadi responden survey yang dilakukan oleh KumparanMOM tentang wajah ayah milenial rentang usia 21-38 tahun. Tapi, saya sepenuhnya setuju bahwa kesadaran ayah milenial seperti saya cukup tinggi tentang hal ini, bahwa ada 78,9 persen suami yang mendampingi istrinya saat proses persalinan.

Iklan layanan masyarakat Suami Siaga ini sangat menginspirasi saya untuk menjadi Suami dan Ayah Siaga

Baca Juga:
– Agar Kita Menjadi Sebenar-Benarnya Orangtua
– Cara Menjadi Suami Siaga dalam 7 langkah

Putra sulung kami lahir di sebuah klinik bersalin di bilangan Serpong, Tangerang Selatan 11 Oktober 2010 jam 10.10 malam WIB. Saat akan mengantar istri mengganti sampel di kantornya, Puspiptek Batan Serpong pada Minggu siang, ada bercak darah. Kami mampir sejenak ke klinik langganan yang biasa periksa kehamilan setiap bulan. Eh, dokter menyatakan sudah bukaan satu dan harus check in.

Sejak masuk Minggu siang, proses persalinan baru mulai saat Senin malam. Karena anak pertama, biasanya memang bisa memakan waktu lebih dari 24 jam hingga bukaan lengkap. Saya mendampingi istri dengan air teh campur madu agar saat mengejan, bisa memberikan tambahan tenaga.

Pengalaman pertama ini, kami hadapi berdua. Maklum, mertua saya tinggal di Jogja, dan ibu saya sedang dinas luar kota. Alhamdulillah, proses persalinan berjalan lancar.

Anak kedua kami lahir hari Jumat siang 11 Juli 2014 di sebuah rumah sakit kecil di Depok. Saat itu bulan Ramadhan, istri sudah merasakan firasat akan melahirkan saat menyiapkan makan sahur. Setelah terang tanah, saya antar istri ke rumah sakit dan sudah bukaan satu. Langsung kami check in, lalu mengantar si sulung untuk dititipkan ke rumah kakak.

Perkiraan saya, kalau mengacu pada pengalaman sebelumnya, bukaan lengkap paling tidak 12-24 jam. Jadi saya putuskan untuk ngantor terlebih dahulu karena ada rapat yang tak bisa saya tinggalkan.

Ternyata salah, sebelum shalat Jumat, justru istri mengabarkan bukaan yang hampir lengkap. Usai shalat Jumat, saya langsung ke rumah sakit menembus hujan yang lebat.

Sampai di rumah sakit, ternyata bayi perempuan kami sudah lahir. Saya sempat mengintipnya di inkubator, membisikkan adzan dan iqamat serta surat-surat pendek al-Quran.

Anak ketiga, lahir Selasa pagi saat adzan subuh, 27 November 2018 di rumah sakit di Bojongsari, Depok. Senin paginya, istri berenang, untuk mengurangi saraf kejepit di bagian panggul. Memang sejak tri semester terakhir, ia rajin berenang sesuai anjuran dokter. Namun karena hari itu terlalu lama, ia tak menyadari kelelahan dan pecahnya air ketuban. Senin siang menjelang sore, diantar ibu mertua yang kebetulan sedang menginap, ia dirawat di UGD. Menjelang maghrib, saya baru tiba karena jalanan macet dan hujan.

Alhamdulillah, persalinan ketiga ini, saya bisa mendampingi lagi. Semalaman, kami tak tidur karena istri sudah merasakan mulas yang dasyat tiap sejam, kemudian maju tiap 30 menit hingga tiap lima menit sekali. Dan, bukaan lengkap sekitar jam 4 pagi, dan baru melahirkan sekitar 30 menit kemudian.

Tugas suami dan ayah akan kian bertambah: mendidik anak adalah proses sepanjang hayat

Bagi para calon ayah yang tengah menantikan calon buah hati, saya punya sedikit saran dalam urusan ini:

  1. Proses mendampingi istri saat persalinan adalah momen hebat. Jangan lewatkan. Karena istri sangat bahagia bila ada suami di sisinya. Baginya, ini adalah momen special yang takkan ia lupa.
  2. Jangan lupa, siapkan baju bayi serta baju ganti istri dan perlengkapan lainnya dalam satu tas yang siap dibawa.
  3. Di dalam ruang bersalin nantinya kita akan menyaksikan darah, alat-alat bedah dan sejenisnya, karena itu siapkan mental sebaik-baiknya. Jangan sampai mual, muntah dna pusing melihat ini semua. Kalau anda termasuk lelaki yang tak tahan ini semua, coba berlatihlah demi istri tercinta.
  4. Damping istri dengan tabah. Bagi yang muslim, kuatkan diri kita dan istri dengan dzikir dan doa-doa bersama agar merasa lebih tenang.
  5. Saat bukaan masih awal (1-4), sempatkan dan ingatkan istri untuk makan agar ada tenaga. Sebab, saat bukaan lengkap, proses mengejan akan menguras banyak tenaga.
  6. Ingat, kita mendampinginya untuk memudahkannya, bukan menyusahkannya. Misalnya jangan sibuk posting di medsos. Setidaknya ini untuk tipe seperti istri saya. Maksudnya, fokuslah perhatian kita ke istri dengan segala kebutuhannya. Tapi, ada juga sih teman saya yang saat melahirkan minta live di Facebook, hehehehe.
  7. Terakhir dan juga tak kalah penting, persiapkan dengan keterampilan sebagai ayah milenial yang keren, seperti menggendong, mengganti popok, memakaikan baju dan pengetahuan seputar pendidikan-pengasuhan anak. Ingat, tugas berat kita baru justru dimulai setelah buah cinta kita lahir ke dunia.

Dari pengalaman persalinan ini, saya berencana untuk tidak memiliki anak lagi. Tadinya saya ingin punya empat anak, tapi mengingat pada persalinan terakhir -yang menurut saya tidak kian mudah karena istri sudah memasuki usia 36 tahun- maka kami putuskan untuk mensyukuri anugerah yang sudah ada. Dan saya tidak tega membebaninya.

Saya bersyukur, saya bisa sering mengantar periksa kehamilan istri sejak bulan pertama, menemani saat persalinan, bahkan sampai imunisasi. Meski kami sama-sama bekerja, jadi suami dan ayah SIAGA: Siap-Antar-Jaga, adalah tugas utama dan pertama saya di rumah.

Kalau kalian, bagaimana pengalaman mendampingi persalinan istri? Cerita di kolom komentar ya J

(Visited 1 times, 5 visits today)
Published inAyah Under-Construction

26 Comments

  1. Wahana, inget brojol duluan kayak saya mas. Suami juga menemani dan selalu support saat saya lahiran. Dari 5 anak, harusnya dia nemenin semua. Tapi yang kelima keburu saya lahiran sendiri di rumah dengan 2 anak yang terbangun dan 2 anak masih tidur. Hihihi

  2. Seiring berjalannya waktu… saat ini sudah sepatutnya suami suami mendampingi istri ketika melahirkan anak… bahkan beberapa teman2 yang berdinas di luar pulau menyempatkan diri menemani istri…

    Bahkan kedepannya (atau sudah berjalan ya) suami juga akan diberikan cuti yang lumayan panjang demi mendampingi istri melahirkan.

  3. Selain itu, sang istri yang ditemani pasti lebih tenang dan merasa terjaga… Artikel yang bagus buat ayah dan calon ayah… bagus juga buat istri dan calon istri, kalo suaminya enggak dong langsung sodorin artikel ini, wqwq

  4. Luar biasaaaaaa. Doa saya semoga seluruh suami di Indonesia siaga seperti dirimu mas. Hehehe. Suami saya tipe yg tidak kuat lihat darah banyak. Bisa-bisa pingsan dia. Makanya saya tidak perkenankan suami saya di ruang bersalin. Saya minta beliau untuk fokus jaga putri pertama kami dan menyelesaikan seluruh dokumen dan administrasi, alias tukang mondar mandir di rumah sakit. Hehehe.

    • Lufti Avianto Lufti Avianto

      juru bayar juga sangat penting lho mbak, hehehee

  5. Lanjutkan mas misimu biar lebih banyak lagi para lelaki yang terinspirasi untuk menjadi ayah dan suami siaga. Karena peran lelaki itu bukan hanya skedar mencari nafkah.

  6. Alhamdulillah, akhirnya bisa berkunjung kembali ke blognya mas Lutfi. Tulisannya masih suka bikin baper. Rasa-rasanya suatu hari nanti kalau sudah menikah, saya akan meminta suami untuk baca artikel inim hehehe

    • Lufti Avianto Lufti Avianto

      ahaha, masa’ bikin baper? niatnya menginspirasi lho
      terima kasih atas kunjungannya mba

  7. Semoga kita semua, para laki-laki, bisa menjadi ayah SIAGA bagi istri. Beban istri yang bertaruh nyawa saat hamil hingga melahirkan ini harus kita bantu ringankan.

  8. Kalau kata suami saya, setelah menemani melihat perjuangan saya di ruang bersalin, “Udah, sekali ini aja, nggak usah punya anak lagi. Aku nggak tega lihatnya”

    Eh, tapi berulang lagi sampai punya anak 3 hehehe

  9. haniwidiatmoko.com haniwidiatmoko.com

    Pas hamil 7 bulan anak pertama, suami diterima kerja di Bandung. Kagok ikut pindah, saya nunggu aja di Jakarta sampai lahiran. Apalagi saya tinggal sama ortu. Pas lahiran, suami otw dari Bandung. Kecepetan lahirnya. HPL tgl 11/1. lahirnya 4/1. Itu pun jam 19:30 dari rumah ke klinik diantar ayah saya, sampai klinik jam 20. Jam 20:30 udh lahir. Hehe…Jadi suami dari stasiun langsung ke klinik deh…
    Kalau anak ke-2 sih udah rumah tangga sendiri. Suami engga nungguin di dalam ruang bersalin. Engga ditawarin, engga maksain juga…Saya termasuk cepat sih ngelahirin, engga sehari semalem kayak Mama lain…Wah udah panjang ceritanya….

  10. Ayah siaga memang jempolan dan panutan dehh. Haruslah kan bertanggung jawab namanya .

  11. Tentunya jadi suami harus siap siaga kalau istri sedang hamil apalagi sudah mendekati proses persalinan, ya sesibuk apapun keluarga tetap number 1 kan ya, hehehe.

  12. Pengalaman-pengalaman mendampingi istri melahirkan ini bisa jadi pelajaran buat saya ke depannya ketika mendampingi istri saya kelak. Memang sih dari yang saya baca juga kebanyakan menyarankan untuk mendampingi istri. Sakitnya istri ketika melahirkan pasti begitu menyakitkan, suami harus ada di sampingnya di saat-saat krusial ini

  13. hehhehe,, aku jadi searching lagunya iis dahlia yang di mention di atas

  14. Mas Kholis Mas Kholis

    Saya belajar banyak dari artikel ini sebelum sah menjadi seorang ayah siaga. Semoga secepatnya kami dikaruniai seorang buah hati

    • Lufti Avianto Lufti Avianto

      amiiin, semoga dimudahkan mas. salam utk keluarga

  15. Smoga banyak calon-calon Bapak membaca artikel ini. Sehingga semakin banyak suami siaga di mana-mana.

  16. setelaha membaca blog ini saya ingin banget selalu dekat dengan anak dan istri saat memiliki waktu luang yg banyak, karena tidak harus kerja mulu namun ada juga memiliki waktu buat keluaraga. karena pasti saya akan menjadi ayah milenial

  17. Pengalamannya sangat berharga sekali ya untuk pribadi, sekaligus buat para pembaca blog ini

  18. Bukanbsaja jangan posting di medsos. Jangan pegang HP! Itu sangat mengesalkan dan serasa diduakan. Hihihi. Cukup foto beberapa kali, trus simpen HPnya.

    • Lufti Avianto Lufti Avianto

      nah ini, bener banget mba. saya pernah dicubit gara2 terlalu lama pegang hape utk mengabarkan kelahiran bayi kami. ternyata itu ga menyenangkan buat ibunya

  19. Jujut saya sebagai laki laki yang belum menikah sangat termotivasi untuk menjadi suami siaga esok ketika memiliki istir😊

  20. Fadli Hafizulhaq Fadli Hafizulhaq

    Belum punya pengalaman, tapi bisa dijadikan pelajaran kalau sampai masanya istri hamil

  21. Peran untuk menjadi suami SIAGA memang tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa. Jika dilakukan sepenuh hati, insyaAllah berhasil.

  22. Amir Amir

    Istri tentunya merasa bahagia jika saat-saat tersebut ia ada untuk mendampingi untuk memberikan dukungan baik fisik maupun mental

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *