Skip to content

Aku Memilih Menjadi Habibie

Menulis adalah terapi jiwa yang ampuh. Setidaknya, itu yang terjadi pada diri BJ Habibie, presiden ketiga kita, ketika ia kehilangan belahan jiwa, Ainun. Dari buku yang ia tulis, “Habibie dan Ainun”, saya jadi tahu, bahwa seorang Habibie hampir kehilangan kewarasannya, lantaran rasa kehilangan yang begitu dalam.

Saat itu, ada tiga pilihan. Pertama, dirawat di rumah sakti jiwa secara intensif. Kedua, dirawat di rumah dengan pengawasan dokter, dan ketiga, menerapi jiwa dengan menulis. Ia mungkin sadar betul. Pilihan pengobatan medis, untuk sakit psikis, takkan berjodoh.

Habibie lantas memilih yang ketiga, dan berhasil!

Menulis ternyata merupakan salah satu cara mengobati luka hati yang ampuh. Luka hati, seperti rasa sakit hati, trauma, dendam, benci, takut, sedih, rasa bersalah dan apapun itu, seolah menguap, ketika ia diceritakan kembali dalam proses menulis. Kalimat demi kalimat, seolah-olah adalah antibiotik ampuh yang membunuh bakteri.

Saya, juga pernah mengalami luka hati di episode masa kecil dan remaja. Ada perasaan trauma, ketika diabaikan, direndahkan, diremehkan, dan dihina dalam bentuk segala rupa, oleh kerabat dan keluarga besar. Ada perasaan ingin, kelak membalas suatu saatnya nanti. Tapi yang justru dominan malah, saya menjaga jarak sejauh mungkin untuk tidak berhubungan dengan orang-orang yang pernah menyakiti.

Belakangan, perasaan trauma itu, menimbulkan perasaan sulit memaafkan. Inilah yang bisa menimbulkan penyakit lahir dan batin. Banyak hasil riset mengamini sikap yang sangat dianjurkan Islam, yaitu memaafkan sangat menyehatkan bagi kita, selain berdimensi sosial dalam hubungan antarmanusia.

Akhirnya, saya memilih menjadi Habibie. Saya ingin sehat.

Maka, ketika ada Writing Challenge “Menulis Memoar dalam 14 Hari”, saya memberanikan diri untuk menulis lembaran ingatan yang telah menjadi luka menahun itu, untuk ditulis menjadi sebuah cerita. Teman-teman bisa membacanya di blog ini, ke-14 artikel memoar tersebut:
1. Hati Emak
2. Namaku Utang
3. Sepatu Sebulan Gaji
4. Ketika Bapak Pergi
5. Meningitis
6. Ekonomi Kuat
7. Emak Pingin Naik Haji
8. Mencari Pengganti Bapak
9. Beasiswa ½ Hati
10. Ritual Tanggal Muda
11. Angpao Anak Yatim
12. Si Hitam Seharga Lima Juta
13. Angan-Angan
14. Cobaan

Setelah 14 hari berlalu, dan ada 14 artikel ini, saya lantas berpikir, “Apakah pantas dibuat menjadi buku?” Mungkin cocok untuk pelajaran hidup pibadi, juga orang lain?

Fiksi atau nonfiksi? Diterbitkan secara indie atau ke penerbit mayor? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang membuatnya menjadi tidak mudah. Ah, kenapa jadi lari dari rencana semula?

Sehingga, saya putuskan untuk menulis saja dulu, mengumpulkan keping demi keping cerita, yang bisa jadi akan disatukan menjadi sebuah buku. Tak usah muluk-muluk. Toh tujuan utamanya adalah menerapi jiwa, agar perasaan sudi memaafkan mereka yang pernah mengabaikan kami di masa lalu, menjadi obat dan gaya hidup sehat.

Itu saja. Semoga cerita ini, juga menginspirasi orang lain.

Sumber foto: Nicepik

(Visited 1 times, 1 visits today)
Published inLiterasi Berdaya

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *