Skip to content

Aku, Bapak dan Tentang Menjadi Seorang Lelaki

Anak laki-laki akan meniru perilaku ayahnya dalam keluarga. Seperti kata pepatah, “buah tak jatuh jauh dari pohonnya.”

Saya pernah mendengar pernyataan ini. Entah apakah ini pernah diuji secara klinis atau psikologis, atau mungkin hanya kesimpulan yang berlaku umum. Tapi bagi saya, ini benar adanya.

Saya memang meniru perilaku ayah saya, yang saya panggil “bapak”. Meski beliau meninggal sejak saya berusia 8 tahun, tapi ibu saya selalu bercerita tentang ayah.

Bapak saya itu tidak sungkan membantu pekerjaan rumah tangga, mulai dari mencuci baju, memasak. Bapak juga tak malu mengurus anak, memberi makan, memandikan dan sebagainya. Saya juga melakukan itu, meski ada beberapa lelaki yang memandang tugas itu tak layak dilakukan seorang kepala rumah tangga. Ada argumentasi lebih mulia yang mengatakan, “Nabi juga melakukannya.”

Saya pernah ngobrol dengan seorang kawan yang punya pandangan sebaliknya. Katanya, lelaki pantang melakukan pekerjaan macam itu. Tugasnya, kata dia, adalah mencari nafkah. Titik. Selebihnya, dialah yang akan minta dilayani sang istri dalam urusan apapun.

Saya tak menyalahkan pandangannya, meski saya ada di seberang pendiriannya. Dalam beberapa sejarah kenabian yang saya baca, Nabi juga menjahit terompahnya sendiri, tak marah bila tak ada makanan, dan juga membantu menyelesaikan pekerjaan istrinya. Beliau tak sungkan. Beliau juga tak malu.

Kini, saya sudah berputra satu. Tentu saja seperti ayah kebanyakan, saya ingin anak saya lebih baik dari saya. Saya ingin dia lebih lembut dan lebih sabar dalam bergaul kepada istri dan anaknya kelak. Juga lebih santun. Tidak menempatkan istri melulu di bawah dirinya sebagaimana Rasulullah juga mengembangkan potensi para istrinya.

Tentu saja, untuk mewujudkan itu, masih ada tahap panjang pendidikan yang harus saya berikan sebagai seorang ayah. Saya harus memberikan lebih banyak contoh ketimbang teori dan nasihat. Sebab, pola pendidikan yang baik adalah dengan keteladanan.

Semoga Allah Swt. memberikan saya kekuatan dan kemudahan dalam mendidik anak dan istri saya untuk bersama-sama menuju Allah. Seperti yang selalu saya bilang kepada istri, “saya ingin kita bahagia dunia dan akhirat.” Semoga.

*) Pernah saya posting di blog pribadi 9 november 2011

sumber foto dari sini

(Visited 1 times, 1 visits today)
Published inAyah Under-Construction

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *