Skip to content

Agar Kita Menjadi Sebenar-benarnya Orangtua

Menjadi orangtua yang baik, bukan hanya berkewajban memberi nafkah sandang, pangan dan papan saja. Tetapi mengajarkan nilai dan membentuk karakter anak. Itulah tugas utama.

Untuk menjadi sarjana unggul, sudah tersedia ratusan bahkan ribuan perguruan tinggi di dalam atau luar negeri yang berkualitas. Tapi untuk menjadi orangtua yang unggul, sampai hari ini, saya belum menemukan sekolahnya.

Karena menjadi orangtua tidak ada sekolahnya, itulah sebab tantangannya menjadi menarik. Secara naluriah, kita akan meniru cara didikan orangtua terhadap kita. Sayangnya, zaman telah berubah, dan beberapa hal tentu saja perlu menyesuaikan, sebagaimana nasihat Ali bin Abi Thalib, “Didiklah anakmu sesuai zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu.”

Namun, ada yang belum bergeser jauh penilaian di masyarakat kita, bahwa keberhasilan orangtua, diukur dari pemenuhan kebutuhan materi. Dalam konteks ini, orangtua muda yang anaknya mulai masuk sekolah, seolah berlomba-lomba mendaftarkan anaknya pada sekolah yang berlabel internasional, kurikulum Cambridge, program hafal Quran, dan sebagainya.

Dengan dalih, “Untuk sekolah, orangtua rela berpuasa”, gengsi memasukkan anak ke sekolah elit menjadi tren di kalangan orangtua muda. Apakah benar, memasukkan anak ke sekolah mahal bisa membentuk karakter anak sesuai dengan harapan?

Tapi, ada yang harus kita sepakati tentang apapun jenis sekolah anak yang kita pilih, yaitu Visi-misi, keterlibatan orangtua dan keteladanan. Apa maksudnya?

Pertama, visi-misi adalah gambaran cita-cita yang ditunjukkan sekolah kepada orangtua mengenai system pembelajaran, metode, kurikulum dan segala sesuatau yang menjadi ruh sekolah. Apa yang ingin dituju, tentu saja kita bisa lihat visi-misi sekolah. Nah di sinilah pentingnya visi-misi itu.

Yang harus dicermati, apakah visi-misi sekolah sama dengan visi-misi kita sebagai orangtua?

Pendeknya, bila kita ingin menjadikan anak yang berwasan internasional dan fasih berbahasa Inggris, jangan dimasukkan ke sekolah yang tidak memprioritaskan hal-hal tersebut. Atau sebaliknya, bila ingin membentuk karakter anak yang shalih-shaliha, jangan asal memasukkan anak ke sekolah dengan pendidikan agama yang minim.

Jadi, visi-misi sekolah dan orangtua, harus sama agar proses pendidikan anak berjalan sesuai dengan yang kita, orangtua dan sekolah, harapkan.

Kedua, keterlibatan. Pola pendidikan ala ‘daycare’ alias penitipan anak, saya kira sudah tidak relevan. Guru dan pihak sekolah, bukanlah satu-satunya pihak yang mengerti kebutuhan pendidikan muridnya. Di sinilah peran orangtua harus terlibat dalam meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah.

Banyak cara, di antaranya melalui organisasi Komite Sekolah, sebagai wadah bagi para orangtua menyampaikan aspirasinya kepada pihak sekolah. Di sini para orangtua bisa menyampaikan usulan, kritik dan saran terhadap jalannya proses pendidikan.

Seharusnya, sekolah menjadikan keterlibatan orangtua sebagai syarat utama pada penerimaan murid baru. Orangtua diminta komitmennya untuk aktif mendukung program sekolah. Misalnya, ada kelas profesi, dimana para orangtua secara bergantian bercerita kepada murid di sekolah tentang profesinya.

Bisa juga dibuatkan program “Bulan Mendongeng”, dimana para orangtua secara bergiliran menjadi pendongeng bagi anak dan teman-temannya di sekolah. Saya kira, banyak sekali materi-materi dongeng yang dapat diperoleh, salah satunya melalui situs Sahabat Keluarga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kami sendiri memprogramkan “Ngobrol Rutin” dengan sang wali kelas untuk meningkatkan keeratan orangtua-sekolah. Diawal semester, kami menceritakan karakter anak di rumah, kebiasaan-kebiasaan apa saja, hingga kendala yang saya hadapi dalam mendidik anak di rumah. Tujuannya, agar sang guru lebih cepat memahami potensi dan tantangan dalam menghadapi anak, serta agar pendidikan di sekolah dan di rumah menjadi nyambung.

Intinya, program-program yang kita dan sekolah lakukan harus bertujuan meningkatkan keeratan dan rasa memiliki di antara guru, orangtua dan anak, yang pada akhirnya dapat mengoptimalkan pendidikan dan pembentukan karakter anak.

Ketiga, keteladanan. Orangtua yang ‘menitipkan’ (baca: menyekolahkan) anak ke sekolah internasional dengan kurikulum tahfiz, tentu berharap anaknya akan fasih berbahasa Inggris, berwawasan internasional dan shalih-shaliha atau hafal al-Quran. Tetapi, kalau di rumah tidak ada nilai-nilai yang diharapkan itu, saya yakin 100 persen, pembentukan karakter itu tidak akan berjalan optimal. Sebab, anak telah terbiasa melihat perbedaan nilai antara sekolah dan di rumah.

“Kok di rumah nggak sholat? Padahal di sekolah rajin solat.”

Inilah hakikat menjadi orangtua. Keteladanan merupakan hal mendasar yang harus diyakini, dikuasai dan dipraktikkan saat kita sudah berstatus “orangtua”. Sebab status itu, bukan hanya bagi seorang perempuan yang bisa melahirkan, atau simbol bagi lelaki yang tidak mandul. Lebih dari itu, status itu sebaiknya diikuti dengan kesadaran penuh untuk menjadi teladan bagi anaknya.

Bukankah satu perbuatan lebih bertenaga dibandingkan seribu kata-kata?

#sahabatkeluarga

(Visited 1 times, 2 visits today)
Published inArsip Lomba NulisAyah Under-Construction

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *