Skip to content

9 tahun kesederhanaan cinta               

Aku baru ingat 22 Januari malam, kalau hari itu tepat ulang tahun pernikahan kami yang ke-9. Wah, waktu berjalan begitu cepat, sudah 9 tahun kami berkomitmen membangun cinta bersama di dunia, dan semoga hingga ke akhirat kelak.

Aku melihat hari ini. Ada istri yang setia. Ada tiga anak-anak; dua putra, satu putri, lengkap sudah. Allah anugerahkan kami kecukupan. Kami bekerja dan berbakti pada Negara, di instansi yang berbeda. Anak-anak bisa sekolah. Si sulung, setelah pindah sekolah, terlihat sekali perkembangannya. Si kakak cantik, nomor dua, juga masih belajar di TK dekat rumah. Si bontot, baru dua bulan, menjadi penyempurna kebahagiaan kami yang sederhana.

Aku menoleh ke belakang, dimana banyak sekali kenangan di masa lalu. Ada banyak rasa, kadang perih, kecewa, tangis, amarah tapi lebih banyak tawa, ceria dan syukur yang berujung bahagia di sana. Di Selasa malam yang dingin karena sejak pagi hingga sore didominasi hujan, dalam perjalanan pulang ke rumah, aku putar kembali ingatan-ingatan itu.

Tentang usaha kami membangun cinta adalah perjuangan menyamakan frekuensi dalam komunikasi. Dia terlahir dan besar memang tidak dipersiapkan secara presisi untuk menemani lelaki sepertiku. Tapi kami saling memberi tahu, kesukaan dan ketidaksukaan, sehingga kami bisa saling beradaptasi. Kami meredakan ego masing-masing.

Tapi sejujurnya, dialah yang paling sering memahami. Dia yang paling banyak menahan diri dan bersabar. Untuk ini, aku bersyukur kepada Allah telah memilihkan seseorang yang tepat, sehingga bahtera ini masih dan semoga terus berlayar.

Pelajaran lainyang berharga, saat Allah langsung memilih kami menjadi orangtua muda pada awal pernikahan. Kami dipaksa belajar menjadi ayah dan ibu yang bijak, dan sabar. Sampai hari ini, kami masih belajar menjadi orangtua yang ideal bagi anak-anak kami. Karena merekalah, kami berubah dan belajar. Kami jatuh dalam amarah yang lepas, dan emosi yang tak terbendung. Kemudian kami belajar meminta maaf dan memaafkan, belajar membiasakan kata “tolong” dan melazimkan terima kasih. Dan nilai-nilai baik lainnya, dengan keteladan lebih dulu.

Berikutnya, kami belajar dalam memutuskan. Kami sadar, memiliki impian pribadi yang belum tentu compatible saat direalisasikan pada keluarga. Semua anggota di dalamnya, menjadi factor yang sangat penting untuk dipertimbangkan. Tak ada yang lebih diutamakan, atau dikalahkan. Semua orang di keluarga kami adalah berharga.

Misalnya, kami ingin melanjutkan kuliah ke luar negeri. Semua harus disiapkan. Biaya hidup di sana, sekolah anak-anak, persiapan kami sendiri, dan sebagainya. Impian ini yang pernah membuat kami bingung harus bagaimana. Tapi yang paling penting, dalam setiap keputusan, semua dilibatkan dan boleh memberi pendapat. Di saat yang bersamaan, kami juga mengajari anak-anak memecahkan persoalan, berani berpendapat, belajar saling mendengarkan, menghargai perbedaan pendapat dan saling menghormati.

Kami juga bukan keluarga ala media sosial, yang selalu tampil bahagia tanpa riak, indah tanpa cela, dan putih tanpa noda. Bukan. Keluarga kami adalah kalian pada umumnya. Orangtua muda yang hidup di zaman googling, surat elektronik dan tv layar datar dengan internet kecepatan tinggi, meski sempat mengalami teknologi yang lebih tradisional, seperti mesin ketik, tamagochi dan game watch hingga sampai petak umpet. Tapi semangat kami sama; kami belajar dari apapun dan siapapun. Sampai sekarang, kami masih keluarga pembelajar karena kami hidup di dunia nyata, bukan di dunia maya.

Aku masih, terkadang, marah karena lelah seharian di kantor dan pergi-pulang dengan jarak hampir 60km per hari. Kemudian sadar, lalu meminta maaf kepada anak-anak. Dan aku belajar cepatnya mereka memberi maaf. Istriku juga masih belajar memasak melalui gadget di tangan kanan, dan sutil di tangan kiri, mencoba menu di internet, yang kadang gagal, tapi lebih banyak berhasil. Dia belajar bagaimana menjadi koki yang baik, meski dahulu hanya bisa mengoseng kangkung dan menggoreng tempe.

Untuk itu semua, kami harus menerima kekurangan masing-masing dan berkomitmen dengan lapang hati untuk memperbaikinya.

Tentu saja, ada riak-riak dalam rumah tangga kami. Tapi seolah riak itu lantas berubah menjadi buih karena tersapu ombak kebahagiaan kami, keceriaan dari ketiga anak kami, dan yang tak lupa, restu kedua orangtua kami yang seolah mempercepat keberkahan hidup bagi keluarga kecil kami. Ya, penting sekali, buat kami, ridho kedua orangtua dalam memulai kehidupan berumah tangga. Sebab, yang kami rasakan hingga kini, adalah perasaan tenang, kecukupan, dan kebahagiaan.

Semoga kami tak lupa untuk selalu bersyukur, belajar terus memperbaiki diri, berterima kasih kepada orang-orang tercinta dan menjadi bahagia karena mereka semua.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Published in101 Komunikasi Pasutri

One Comment

  1. Barakallah, Bro. Smuga langgeng terus, anak2 jadi anak soleh/ah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *