“10 Bali Baru” Dibuka, Saatnya Mendulang Devisa

Indonesia merupakan negara kepulauan yang sungguh luar biasa indah dan memesona. Ia menyimpan sejuta potensi keindahan alam, keanekaragaman budaya serta warisan leluhur yang autentik. Ini merupakan potensi dan modal pariwisata bernilai ekonomi yang bisa dioptimalkan untuk pendapatan negara.

Karena itu, tak heran bila pemerintah hendak menggenjot devisa melalui sektor ini dengan memperkenalkan destinasi “10 Bali Baru”, yakni Danau Toba (Sumatra Utara), Tanjung Kelayang (Bangka Belitung), Tanjung Lesung (Banten), Pulau Seribu (Kepulauan Seribu), Candi Borobudur (Jawa Tengah), Pantai Mandalika (NTB), Gunung Bromo (Jawa Timur), Wakatobi (sulawesi Tenggara), Labuan Bajo (NTT), Morotai (Maluku Utara).


Gambar: Peta 10 Bali baru (Sumber: Indonesia Baik, Kominfo)

Sangat tepat rasanya, bila pemerintah melihat pariwisata sebagai sektor primadona baru untuk menghasilkan devisa bagi bangsa ini. Sebab, saat tutup buku 2018 lalu, sektor pariwisata mampu menghasilkan US$17 miliar atau sekitar Rp246 triliun.

Ya tentu saja rakyat dan negara harus mendapatkan manfaat yang sama. Rakyat mendapatkan manfaat dari sektor pariwisata yang mendapat julukan mother industry berupa lapangan pekerjaan karena sektor ini menggerakkan banyak sektor lainnya, seperti kesehatan, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi. Ketika semua ini berjalan, maka akan memberi kontribusi positif pada sektor ekonomi bangsa ini.

Dengan fakta itu, pemerintah optimis menargetkan 20 juta wisatawan mancanegara dan raihan devisa sebesar US$20 miliar pada 2019. Karena itu, dibukalah 10 ‘Bali’ baru tadi sebagai salah satu strateginya.

Sektor pariwisata finish di urutan kedua sebagai penyumbang devisa negara, tentu saja harus mendapat perhatian yang lebih serius sehingga potensi pariwisata dapat lebih optimal membawa kebaikan bagi kesejahteraan rakyat dan negara.

Pada 2017, Indonesia menempati urutan keempat tentang kontribusi pariwisata terhadap ketersediaan lapangan pekerja, yakni dengan lebih dari 12 ribu pekerjaan. Data ini tentu menggembirakan, bila melihat tren positif sektor pariwisata di negeri ini, bukan tidak mungkin ketersediaan lapangan pekerjaan bagi masyarakat akan lebih besar lagi di masa yang akan datang.


Gambar: Kontribusi pariwisata terhadap pekerjaan (Sumber: Validnews).

Diproyeksikan, pada 2019, wisatawan mancanegara akan ditargetkan sebanyak 20 juta orang, sedangkan wisatawan nusantara sebanyak 275 juta orang dengan pendapatan devisa sebesar US$20 miliar dan kontribusi terhadap PDB nasional sebesar 9,2%.


Gambar: Potensi pariwisata Indonesia (Sumber Kominfo).

Untuk mendorong optimalisasi peningkatan devisa bagi negara dan peningkatan kesejahteraan rakyat, perlu kiranya sinergi di antara pemerintah dan masyarakat dalam membangun 10 destinasi baru ini.

Pertama, optimalkan dana desa. Pengembangan potensi wisata yang ada bisa dilakukan, salah satunya melalui penggunaan dana desa yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Misalnya penggunaan dana desa untuk pembangunan infrastruktur desa, seperti jalan dan jembatan serta sarana dan prasarana lain. Pembangunan infratsuktur, sebaiknya diarahkan pada sarana dan prasarana yang mendukung potensi wisata sehingga akan menunjang industri wisata di desa tersebut.

Di antara desa yang berhasil mengoptimalkan penggunaan dana desa untuk memajukan potensi wisata, yakni Desa Kutuh di Badung, Bali yang bisa meraup keuntungan bersih Rp50 miliar per tahun, dengan membangun Kawasan Wisata Pantai Pandawa, Gunung Payung Cultural Park, seni budaya Kecak dan Area Paragliding dengan tarif USD 100 per 20 menit.

Te,po.coAda juga Desa Pujon Kidul, Malang yang meraup keuntungan hingga Rp2,5 miliar per tahun dengan mengembangkan wisata nuansa asri perdesaan seperti kafe sawah, panen hasil pertanian, memerah susu sapi, kolam renang untuk anak-anak, off road, serta wisata berkuda spot selfie yang Instagramable.

Pemerintah desa harus menempatkan desa sebagai subjek pembangunan itu sendiri dimana masyarakat dan pemerintah desa menjadi aktor perubahan.

Kedua, melibatkan masyarakat dalam pengelolaan wisata. Hal ini bisa dilakukan melalui pembentukan kelompok-kelompok sadar wisata di tingkat desa. Ini bertujuan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat, bahkan langsung menyentuh tingkat desa, di tiap destinasi 10 Bali Baru tersebut. Para kelompok masyarakat bisa diikat dalam sebuah wadah yang dibina oleh pemerintah desa setempat.

Koordinasi oleh desa perlu dilakukan agar sumber daya manusia di desa yang ada, berdaya secara efektif dan efisien. Misalnya, pemberdayaan kaum ibu untuk memproduksi kerajinan, cinderamata dan makanan khas atau oleh-oleh. Sementara kaum pemuda dan bapak didorong untuk menjadi pengelola wisata.

Pengaturan dan koordinasi kelompok sadar wisata seperti ini yang dilakukan oleh pemerintah desa, juga bertujuan unutk memastikan bahwa masyarakat desa tersebut telah berdaya. Sehingga kekurangan sumber daya dan keahlian pengelolaan serta pemerataan kesejahteraan, dapat diatasi.

Ketiga, kolaborasikan jenis wisata yang beragam. Seperti kita ketahui, Indonesia tak hanya memiliki keindahan alam saja, keanekaragaman budaya atau adat-istiadat sebagai potensi wisata. Masih banyak potensi yang bisa digali dan disajikan.

Misalnya Desa Kutuh, Bali yang mengkombinasikan keindahan alam berupa pantai dan gunung, dengan olahraga (paragliding) sehingga juga mendulang keuntungan. Sementara Desan Pujon Kidul menawarkan pengalaman kehidupan desa yang tradisional. Dan unik Ini menjadi daya tarik tak hanya bagi wisatawan mancanegara yang ingin mengetahui kehidupan khas perdesaan Indonesia, melainkan juga bagi wisatawan nusantara yang tinggal di perkotaan. Misalnya pengalaman memerah susu sapi, membajak sawah bahkan tinggal bersama (live in) di rumah penduduk.

Jadi, potensi wisata bila dikolaborasikan dengan baik, akan menciptakan potensi lain yang tak kalah menjanjikan. Karena itu, potensi wisata pada 10 Bali Baru juga harus diperkenalkan dan dioptimalkan.

Keempat, gali potensi pada wisata meetings, incentives, conferencing, exhibitions (MICE).

Pengunjung ke suatu destinasi wisata dapat kategorikan menjadi dua kelompok, yaitu leisure visitor dan business visitor. Pertama, leisure visitor berkunjung ke suatu destinasi mempunyai motivasi untuk rekreasi. Kedua, pada kunjungan business visitor mempunyai motivasi untuk melakukan urusan tertentu (business), misalnya mengikuti kegiatan konferensi, seminar, pameran, dan lain-lain. Nah, pengunjung yang kedua inilah yang termasuk dalam target industry MICE.

Misalnya, di Bali memiliki wisata MICE yang sudah mendunia seperti Ubud Writer and Reader Festival tiap bulan Oktober. Ada lagi event lainnya yang juga menyedot perhatian internasional, seperti Tour de Singkarak, Bintan Triathlon, Tour de Bintan, Jakarta Marathon, Jember Fashion Carnival, Musi Triboatton, Batik Carnival, dan Tour de Ijen.

Mengapa wisata MICE ini juga penting?

Menurut World Tourism Organisation (Hery Setyawan, 2018), meeting dan business events ini adalah kegiatan wisata yang memberikan kontribusi yang signifikan terhadap Gross Domestic Product bagi suatu negara dan daerah serta dapat menjadi branding bagi suatu destinasi. Selain pengunjung membelanjakan lebih besar, dapat menutupi pada low season, berkontribusi memperbarui destinasi, menyebarkan pengetahuan dan meningkatkan inovasi dan kreativitas.

Memang, sampai saat ini, ketersediaan kapasitas MICE di atas enam ribu orang, khususnya convention dan exhibition, yang hanya ada di Jakarta dan Bali sebagai destinasi yang paling siap. Karena itu, 10 Bali Baru harus memprioritaskan kesiapan membidik MICE sebagai salah satu strategi menggaet wisatawan mancanegara dan nusantara. Sebab, bila berkaca pada Thailand yang mendapatkan 3,5 kali pendapatannya dari business visitor ketimbang leisure visitor-nya.

Menggiurkan bukan?

Kini, sudah saatnya Indonesia bertumpu pada sektor pariwisata. Keindahan alam, keanekaragaman budaya dan adat istiadat merupakan ciri khas warisan leluhur yang menjadi ‘nilai jual’, akan terus dijaga agar tetap lestari. Di saat yang bersamaan dengan pelestarian itu semua, Indonesia akan terus mendulang devisa untuk kemajuan bangsa di masa depan.

Note: Artikel ini ditulis untuk mengikuti kompetisi “BKPM Go Write Competition 2019 dengan tema “Investasi bagi Peningkatan Lapangan Kerja dan Pendapatan Masyarakat”. Khusus untuk kategori blog, temanya “Peningkatan daya saing destinasi dan industri pariwisata di 10 Bali baru.”

(Visited 1 times, 5 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *