Menari di atas ombak

Bukankah memang disebut pantai karena memiliki ombak?

Ombak, ada yang kecil, sedang, juga berskala besar. Betapapun kecilnya, yang terpenting adalah keterampilan kita dalam menghadapi ombak. Semakin terlatih, semakin baik karena akan menjaga keberadaan kita.

Coba lihat para peselancar dalam menaklukkan ombak, bukankah itu menyenangkan? Mereka bersenang-senang. Bahkan, peselancar dunia mencari ombak yang besar untuk ditaklukkan. Itu mengapa mereka dianggap hebat.

Dan sebaliknya, mereka yang tak terlatih, justru akan berakhir tragis. 

Jadi, kita disebut hebat, manakala bukan saat kita terhindar dari ombak, melainkan saat kita mampu menaklukkan ombak besar.

Begitu juga dalam kehidupan, bukankah tak disebut hidup bila tak ada persoalan?

Sebab sejatinya, ukuran kebahagiaan kita dalam menikmati hidup, bukanlah seberapa besar persoalan hidup yang diberikan Tuhan kepada kita, melainkan seberapa terampil kita dalam mengelola dan mengatasi persoalan.

Dalam al-Quran, seseorang tidak dibiarkan mengaku beriman, lantas ia dibiarkan begitu saja. Siapapun, dengan status apapun, pastilah yang namanya kita hidup dan beriman, pasti ada ombak kehidupan.

Lalu, apakah kita akan terus mengeluh dengan persoalan yang datang bertubi-tubi?

Tentu saja, kita dianggap hebat, bukan karena kita tak punya persoalan, melainkan bila kita terampil dalam menghadapinya.

(Visited 1 times, 5 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *