Mendirikan Rumah Baca: Proyek Literasi Keluarga

Kalau kita diam saja, kita akan terus jadi korban game, lalu kecanduan. Kini saatnya jadi aktor perubahan. Meski kecil, semoga berarti bagi anak-anak di masa depan.

Sudah beberapa kali, anak sulung saya merengek minta main game di smartphone. Padahal sudah beberapa bulan yang lalu, game dihapus dari ponsel saya karena ia melanggar aturan: berantem dengan adiknya.

Awalnya biasa-biasa saja, hidup tanpa game. Tapi namanya anak-anak, kalau teman-temannya main game, keinginan main game di rumah akhirnya ‘kumat’ lagi.

Saya merasa kalau begini terus, bisa jebol ‘pertahanan’ nilai-nilai yang kami ingin tanamkan. Bukan saya anti-game, tapi kalau lihat iklan-iklannya, bikin gregetan dan khawatir, bukan?

Soal game dan gadget, saya kira perlu pendampingan orangtua, jadwal yang disepakati dan peraturan yang ditegakkan agar anak tak kecanduan dan bijak dalam menggunakan gadget dan internet.

Nah untuk persoalan ini, saya sendiri mulai kehabisan ide. Menyediakan buku-buku di rumah, sudah dilakukan dan semuanya sudah dilahap si sulung. Mengajaknya ke toko buku, juga sesekali sudah. Saya mulai berpikir, bahwa akar persoalannya bukan di rumah saya, tapi peer group-nya alias teman sepermainannya.

Kalau ingin perbaikan, tak hanya memikirkan anak kita, tetapi juga teman sepermainannya.

Kemudian saya mulai berpikir bahwa anak saya, juga teman-teman seusianya adalah korban dari perkembangan teknologi yang tak dikelola dengan bijak para orangtua. Kebanyanyan orangtua yang saya amati, ingin anaknya terlihat tenang dengan menyumpal mereka dengan gadget. Yang penting anak ada di rumah, anteng, meski dengan dengan gadget di tangan. Mereka lalu berselancar di dunia maya, lihat Youtube, main game online atau punya akun media sosial, tanpa diajari batasan yang baik dan benar cara menggunakan gadget oleh orangtuanya.

Ketika anak mulai enggan belajar, dibilang malas. Ketika mereka tak mau bermain di luar dan bergaul, dibilang kuper. Ketika prestasi belajar menurun, dibilang kurang giat. Atau bahkan dampak lebih buruk lainnya seperti pornografi, kekerasan dan kecanduan game yang kita mungkin tidak sadari.

Apakah ini yang para orangtua inginkan?

Kemudian saya mulai berpikir, sudah saatnya saya dan anak saya menolak jadi korban, dan kini saatnya menjadi aktor perubahan. Lalu saya mengusulkan pada anak dan istri saya, bagaimana kalau kita bikin rumah baca atau perpustakaan di rumah, lalu mengajak anak-anak lainnya untuk membaca dan berkegiatan asyik nan edukatif lainnya?


Entah ide itu datang dari mana. Yang jelas, saya tak ingin anak saya, juga anak-anak lainnya jadi kecanduan game.

Kami berbagi peran. Mungkin kira-kira pembagiannya seperti ini: saya sebagai manajer rumah baca. Tugasnya utamanya mengelola secara keseluruhan. Tugas teknis lainnya, mengumpulkan koleksi, menyiapkan rak buku dan keperluan lainnya.

Istri saya, sebagai pengelola harian (sebenernya, kami ingin buka di akhir pekan saja. Maklum, kami sama-sama bekerja jadi tidak mungkin buka setiap hari). Tugasnya mendampingi anak-anak dan para pengunjung yang juga anak-anak. Mengajak mereka bermain dan beraktivitas.

Si Sulung sebagai marketing coordinator. Keren ya? Ia bertugas mencari kawan sebanyak-banyaknya sebagai pengunjung rumah baca kami. Mengalihkan mereka dari bermain game dan internet yang tidak didampingi orangtua.

Si Tengah sebagai marketing assistant. Tugasnya membantu si Sulung mencari kawan-kawannya untuk bermain dan belajar di rumah baca. Terutama untuk segmen pembaca anak TK, hehehe.

Setelah berbagi peran, kini, kami sedang mencari nama yang keren bagi rumah baca itu. Menyiapkan koleksi buku, membeli rak buku, dan persiapan lainnya. Tentu saja, kami juga harus menyiapkan koleksi selain buku, seperti mainan edukatif, juga rencana kegiatan lainya agar anak-anak menyukai dan senang berkunjung.

Saya ingin punya perpustakaan pribadi yang dibuka untuk umum. Sebelum itu, mulai saja dulu dengan membuka rumah baca di rumah.

Dari proyek literasi keluarga ini, kami mengajarkan anak-anak cara mengorganisasikan gagasan, menyusun perencanaan, mengeksekusi program dan menjalankan serta mengevaluasinya. Anak harus terlibat sebagai aktor perubahan, sehingga ia belajar kepekaan terhadap persoalan sosial di sekelilingnya. Ia harus menggerakkan teman-temannya agar rumah baca itu kelak produktif dan memberi manfaat bagi orang lain.

Semoga niat baik ini diberikan kemudahan.

PS: Kalau kalian ada yang mau bantu, silakan kontak saya ya! Dengan senang hati saya menerima bantuan kalian.

(Visited 1 times, 7 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *