Berkah Literasi: Menjadi Juri Lomba Blog Nasional

Ada satu berkah yang tak mungkin saya lupa di tahun ini, yaitu undangan menjadi juri dalam Lomba Blog Pendidikan yang dihelat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2019. Sebuah kehormatan tentunya, untuk berkiprah di dunia literasi negeri ini. Memberikan kontribusi yang saya punya.

Tawaran itu datang pada sebuah sore. Salah seorang panitia menelepon untuk meminta saya menjadi juri. Alasannya, sebagai Juara I di kompetisi yang sama di tahun lalu, pihak panitia tidak mengizinkan pemenang tahun lalu untuk ikut lomba dan sebagai gantinya, memberikan apresiasi kepada saya untuk menjadi juri. Langsung saya sanggupi.

Ada satu konsekuensi yang sebetulnya membuat saya sedikit sedih: saya tidak boleh ikut kompetisi pada kategori yang lain. Padahal, saya sudah mempersiapkan diri dan tema penulisan untuk mengikuti kompetisi ini. Tapi, saya kira, dengan apresiasi ini membuat saya mendapat pengalaman yang jauh lebih berharga.

Memang saya akui, soal menilai naskah yang bagus dan yang tidak, saya punya pengalaman yang cukup. Saya pernah bekerja sebagai editor akusisi di Penerbit Grafindo yang bertugas mencari penulis dan naskah yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga potensial laku dan penting. Ketiga syarat ini mutlak diperlukan sebagai syarat terbit sebuah naskah. Buat apa naskah bagus tapi tidak bakal laku? Dan sebaliknya.

Setiap juri pada tiap kategori lomba berjumlah ganjil dan punya hak yang sama,

Pengalaman lainnya, saya pernah membangun sebuah majalah dari nol. Membentuk inhouse style atau gaya selingkung penulisan setiap rubrik, menentukan taste grafis dan layout dengan berdiskusi pada desainer atau artistik, hingga menentukan hal-hal lain yang terlihat remeh. Lainnya, saya pernah bekerja sebagai redaktur yang bertugas tak hanya mengkoordinasikan peliputan para reporter, tetapi juga menyunting naskah yang jadi makanan sehari-hari.

Alhamdulillah, saya tidak gagap menjadi juri lomba berskala nasional itu.

Penjurian dibagi dalam dua termin. Dan termin kedua, sekaligus rapat pleno tiap kategori lomba untuk menentukan 10 nominasi dan tiga pemenang utama.

Dari pengalaman ini, saya melihat banyak peserta yang tak teliti dalam membaca ketentuan lomba. Mulai dari kesalahan kecil administrasi pada proses pendaftaran, hingga kesalahan teknis penulisan yang tak sesuai dengan kriteria penilaian. Jadi buat kawan-kawan yang akan mengikuti lomba penulisan, coba simak dan baca baik-baik persyaratan, ketentuan dan kriteria penilaian agar tak melenceng dengan keinginan pihak penyelenggara.


Soal siapa pemenang, tunggu pengumuman ya? 🙂

Yang menarik bagi saya, kali ini, Kemdikbud tak hanya mencari naskah bagus, tapi juga mencari pejuang literasi dan keluarga yang akan berjuang bersama dalam isu tersebut. Sehingga rekam jejak para peserta perlu juga dicermati.

Soal ini, saya setuju bahwa pemerintah tidak bisa bergerak sendiri. Isu keluarga adalah penting dan utama. Masa depan ini ditentukan oleh kualitas keluarga. Maka, tak salah kalau Kemdikbud mencari para nominasi dan pemenang yang memiliki ketertarikan pada isu tersebut.

Pemerintah dan komunitas harus berkolaborasi dalam meningkatkan kualitas keluarga

Karena itu, saya juga mengusulkan ke pihak panitia agar para alumni peserta lomba khususnya kategori blog empat tahun terakhir, disatukan saja dalam wadah komunitas yang akan dibina oleh Kemdikbud. Bayangkan, panitia memiliki database ribuan peserta lomba yang memiliki minat pada isu literasi dan keluarga. Bukankah itu merupakan amunisi yang sangat besar? Itu perlu dikapitalisasi, bukan?

Saya juga mengusulkan hal-hal lainnya, seperti penerbitan buku hasil lomba, agar jangan terlalu kental aroma pemerintahannya: logo kaver buku yang kaku, penggunaan kertas book paper agar lebih ringan dan kalau perlu, diterbitkan di penerbit mayor atau indie agar lebih keren. Sehingga semakin banyak yang bisa membaca karya itu. Tapi sebelum itu, perlu kerja editing yang cukup panjang dalam memilah dan menyunting agar naskah layak menjadi sebuah buku.

Yah, itulah sekelumit pengalaman saya. Saya bersyukur terlibat dalam event lomba berskala nasional. Semoga apa yang saya lakukan menjadi amal shalih. Amiin.

Diclaimer:
Selain sebagai Pemenang I lomba sejenis di tahun 2018, saya juga menyematkan afiliasi saya sebagai Founder komunitas literasi Books4Care. Untuk aktivitas bisa kunjungi www.books4care.net

(Visited 1 times, 7 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *