Mengenang Bu Minah, Sang Ibu Kedua

Aku memanggilnya Bu Minah. Entah nama aslinya apa. Begitupun tetangga dan orang-orang di sekitar lingkungan kami. Sejak bapak tiada, ada Bu Minah yang bekerja di rumah. Aku lupa persisinya kapan, yang jelas, aku masih kelas tiga atau empat SD, Bu Minah sudah bekerja.

Dia mencuci baju, beberes rumah, menyetrika, hingga memasak. Dan, masakannya pun enak, sama dengan masakah emak. Tahu berapa gaji Bu Minah ketika itu? Dua puluh ribu rupiah sebulan. Tak besar mungkin, karena gaji emak sebagai abdi negara juga tak besar kala itu tahun 1990-an. Belum mengenal istilah remunerasi seperti sekarang, yang membuat gaji PNS sekarang sudah dua digit.

Kenapa ada Bu Minah bekerja? Entah, mungkin emak merasa harus fokus bekerja dan mencari uang. Agar kami, empat anak emak ada yang mengurus di rumah. Jadinya, Bu Minah seperti ibu keduaku setelah emak. Kalau kami bertengkar, Bu Minah yang melerai.

Hingga suatu ketika, ada satu peristiwa yang tak bisa aku lupakan. Aku menangis sejadi-jadinya karena tak diberi uang jajan oleh emak. Hari Minggu, mana ada anak miskin seperti kami dapat uang jajan? Bagi emak, uang jajan hanya diberikan untuk sekolah. Kalau libur, ya libur juga uang jajannya.

Bu Minah (tengah)

Karena tak tega melihatku yang merajuk dan menangis berjam-jam, Bu Minah lalu memberi uang untuk menenangkanku. Alamak, hatiku girang ketika itu. Seribu rupiah! Sepuluh kali lipat uang jajan harianku. Aku berhenti menangis dalam sekejap, lalu lari ke warung untuk jajan dan bermain dengan kawan-kawan. Rasanya, uang itu baru habis beberapa hari kemudian.

Peristiwa itu membekas dalam benakku bertahun-tahun hingga aku dewasa dan bisa bekerja menghasilkan uang sendiri. Aku ingat pengorbanan Bu Minah dan seribu rupiahnya. Jangan lihat jumlah itu dengan nilainya hari ini. Lihatlah seribu rupiah dan gajinya yang dua puluh ribu. Tentu saja, jumlah itu tak akan ia berikan untuk jajan anaknya. Terlalu banyak.

Apalagi, suaminya hanya bekerja serabutan sebagai penggali sumur. Aku tahu, pasti tidak mudah hidup di Jakarta dengan lima anak. Belum lagi bayar kontrakan dua petak yang ia sewa untuk tempat berteduh tujuh kepala.

Bu Minah masih bekerja di rumah hingga aku sudah lulus kuliah dan bekerja. Setiap gajian, aku sisihkan sedikit untuk menghibur hatinya. Dan hati ini selalu gembira begitu melihat senyumnya mengembang dan bilang, “Makasih ya.” Sama seperti rasa bahagia dan terima kasihku ketika ditenangkannya dengan seribu rupiahnya.

Hari ini, 17 Oktober 2019, baru saja kabar itu datang. Bu Minah meninggal dunia jam 11 siang. Ya Robbi, semua rasa masakannya tiba-tiba terasa di lidah dan bayangan tentang dirinya dan perlakuan baiknya padaku dan keluargaku selama ini, seperti diputar kembali. Aku menangis dan sangat merasa kehilangan. Dia adalah orang kedua yang bukan keluarga, yang aku tangisi kepergiannya.

Ya Robbi, ampunilah dia, kasihilah dia dan tempatkanlah dia di tempat terbaik di sisi-Mu. Kalau dia yang tak berpunya saja mengasihi anak yatim sepertiku, maka Engkau yang Mahakaya pasti akan mengasihi Bu Minah. Ya Rabb, dekatkanlah ia dengan Rasulullah karena telah menyayangi anak yatim sepertiku.

Selamat jalan Bu Minah. Selamat jalan ibu kedua bagiku. Semoga Allah akan mempertemukan kita di surga-Nya kelak.

(Visited 1 times, 3 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *