Zakat Membawa Berkah

Harta itu titipan Sang Pemilik. Ketika kita tak bisa dipercaya yang sedikit, bagaimana bisa kita dipercaya yang besar?

Suatu siang, saat jam istirahat, saya pernah berdiskusi dengan salah seorang kolega. Pak Taufik namanya.

“Bukankah gaji kita belum mencapai nishab, sehingga tidak wajib zakat?” tanya saya.

“Betul. Tapi kita sebaiknya berlatih membayar zakat, sekecil apapun gaji kita, meski belum mencapai nishab,” jawabnya.

“Berarti, apa yang kita bayar, tidak termasuk zakat?” saya masih penasaran.

“Bukan zakat, tapi sedekah. Allah akan catat niat kita sebagai latihan agar dipercaya mengelola rezeki-Nya yang lebih besar.”

Saya mengangguk setuju. Ya, meski saat itu gaji saya masih sepertiga nishab atau batas harta yang wajib dizakati, namun kolega saya telah mengajarkan pentingnya berlatih.

Harta adalah sarana Allah Swt menguji kita. Kalau yang sedikit, kita bisa dipercaya, Dia akan memberikan yang lebih besar.

Obrolon yang berlangsung sekitar 12 tahun lalu itu, masih saya ingat dengan jelas. Dari obrolan itu, saya mendapatkan rumus rezeki, bahwa agar dipercaya Allah mengelola rezeki yang besar, kita harus amanah mengelola rezeki yang sedikit.

Ya, amanah dalam artian, kalau rezeki kita maknai sebagai harta, kita juga membersihkannya dengan zakat, infak dan sedekah. Kalau dari harta yang sedikit saja, kita sudah berat mengeluarkannya, bagaimana nanti kalau Allah Swt mempercayakan harta yang lebih besar? Tentu akan berat, bahkan bisa jadi kita akan merasa terlalu sayang dengan harta, kikir atau pelit sehingga tidak peka dengan keadaan sosial sekitar kita.

Kali lainnya, kolega lain juga mengajarkan hikmah menjadi dermawan. Namanya Pak Amir Zuhdi, seorang dokter yang juga direktur bidang pelayanan kesehatan dan kegawatdaruatan. “Coba kamu catat, semua pengeluaran dalam satu bulan, dimana kamu sangat pelit. Tidak usah bayar zakat, tidak usah sedekah, tidak usah membantu orang lain, pokoknya jadi orang yang kikir.”

Lalu, ia juga meminta, untuk mencatat semua pengeluaran dalam sikap yang berbeda dalam satu bulan berikutnya. “Sebelum digunakan, bayar zakatmu dulu walaupun belum mencapai nishab, pokoknya keluarkan 2,5 persen. Lalu jangan pelit, keluarkan juga sedekah, bantu orang lain. Pokoknya jadi dermawan.”

Ia memberi tantangan dalam sebuah sharing session suatu pagi. Dan saya menerima tantangan itu.

Kikir dan bakhil sejatinya menjerat hati kita untuk melangkah menuju pada-Nya.

Di bulan pertama, saya berusaha menjadi orang yang kikir. Saya tidak bayar zakat, tidak mau sedekah. Bahkan, ketika ada kolega kantor yang tertimpa kemalangan, atau melahirkan, saya tidak ikut sumbangan, sebuah kebiasaan yang jamak kita temui untuk meningkatkan rasa persaudaraan dan solidaritas sesama pegawai.

Saya catat semua dalam sebuah buku khusus. Menjelang akhir bulan, betapa saya kaget, bahwa gaji saya tidak cukup, padahal waktu gajian masih sekitar 10 hari lagi. Saya cek daftar pengeluaran dalam buku itu. Ternyata, banyak pengeluaran yang tidak terduga. Ban bocor, sampai harus ganti ban luar yang sudah gundul. Motor mogok sehingga haru mengganti suku cadang yang cukup mahal. Biaya berobat dan pengeluaran lain yang saya kira tak masuk akal.

Di bulan kedua, saya ikuti saran Dokter Amir. Saya berusaha jadi dermawan. Setelah terima gaji, sebelum saya gunakan, saya keluarkan zakat terlebih dahulu. Lalu saya keluarkan sedekah-sedekah untuk kerabat terdekat. Meski tidak besar jumlahnya, tapi saya tumbuhkan keyakinan bahwa harta yang saya miliki, sebesar atau sekecil apapun, juga dimiliki orang lain yang berhak. Bahwa harta yang saya miliki adalah ‘pinjaman’ dari Allah, bukan 100 persen milik kita. Jadi kapanpun Dia berkehendak untuk mengambilnya, kita tidak perlu bersedih hati.

Ketika ada kawan atau kerabat yang ditimpa kemalangan dan melahirkan, saya ikut menyumbang, meski tidak besar. Dan semua pengeluaran itu, saya catat baik-baik dalam sebuah buku khusus.

Hasilnya, di akhir bulan, satu hari sebelum waktu gajian tiba, uang saya masih tersisa beberapa ratus ribu rupiah. Sebuah pencapaian yang luar biasa, menurut saya kala itu.

Tak hanya itu, setelah sebulan menjadi dermawan, saya merasakan kebaikan lainnya. Saya merasa lebih tenang, khusyuk beribadah dan merasakan lezatnya iman sehingga hati ini lebih peka dan peduli terhadap kesulitan orang lain.

Mungkin ini yang disebut keberkahan, yang menurut istilah, berkah (barokah) adalah ziyadatul khair, yakni “bertambahnya kebaikan” (Imam Al-Ghazali, Ensiklopedia Tasawuf, hlm. 79). Sementara dalam Syarah Shahih Muslim karya Imam Nawawi disebutkan, berkah memiliki dua arti, yakni tumbuh, berkembang, atau bertambah; dan kebaikan yang berkesinambungan.

Kini sudah lebih dari 12 tahun saya rutin membayar zakat. Sejak gaji saya hanya sepertiga dari batas nishab, hingga kini saya memiliki pekerjaan dengan enam kali nishab zakat. Dan saya bersyukur atas karunia dan keberkahan yang telah Allah Swt anugerahkan.

Saya bertambah yakin. Apa yang saya keluarkan melalui zakat, tidak akan mengurangi apapun dari diri kita. Tetapi ia justru menghadirkan keberkahan hidup. Karena itu, sejak itu pula, saya selalu rutin membayar zakat.

Berbagai kemudahan seiring perkembangan teknologi, memudahkan saya dalam membayar zakat secara online. Beberapa layanan online pembayaran zakat yang pernah saya coba, antara lain Rumah Zakat, PKPU (sekaran IZI), Baznas, Baitul Maal Hidayatullah, dan Sekolah Relawan.

Saya cenderung memilih membayar zakat melalui lembaga amil zakat, bukan secara langsung kepada mustahik. Hal ini karena saya yakin, selain dikelola secara profesional dan amanah, pengelolaan melalui lembaga zakat, juga lebih besar manfaatnya bagi mustahik. Biasanya, mereka memiliki program zakat yang atraktif dan memberdayakan. Misalnya memberikan beasiswa bagi pelajar miskin, pemberdayaan ekonomi mikro dan kecil, maupun layanan kesehatan cuma-cuma bagi pasien dengan penyakit tertentu.

Bukankah menyenangkan, bisa melihat saudara kita menjadi berdaya dengan zakat yang kita rutin bayarkan?

Bahan bacaan:

Literasi Zakat dan Wakaf
Bimas Islam Kementerian Agama

(Visited 1 times, 2 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *