Pitu Loka: Sebuah Karya yang Tak Terduga

Saya tak pernah menyangka, kalau tahun 2019 bisa menjadi tahun yang produktif untuk menerbitkan buku. Ya, Pitu Loka, sebuah kumpulan novelet yang saya tulis bersama lima penulis lainnya, dirilis pada bulan Agustus, bulan kelahiran saya. Hadiah spesial di usia 35 tahun.

Tentu, ada begitu banyak pengorbanan yang saya lakukan untuk mengerjakan proyek penulisan fiksi bersama ini. Salah satunya, pengerjaan buku parenting “Ayah Under-Construction” yang sedang saya susun dan ditargetkan bisa selesai Desember 2019 ini, menjadi molor. Selain itu, penulisan artikel di blog saya, juga seret.

Meski begitu, saya merasa bersyukur dan puas dengan pencapaian literasi di tahun ini. Tak hanya menelurkan karya fiksi pertama, namun saya juga mendapatkan kenalan dan jaringan para penulis profesional yang jauh lebih berharga.

Saya mau cerita sedikit bagaimana melahirkan Pitu Loka.

Awalnya, saya mendapatkan informasi mengenai workshop yang diselenggarakan Bekraf selama 4 hari di Bogor melalui WA Grup alumni peserta lomba kepenulisan. Dari syarat-syaratnya, saya merasa memenuhi.

Pembicaranya yang bikin curious!

Dan voila, saya diterima sebagai salah satu dari 50 peserta! Konon, pendaftar mencapai 500-an peserta. Sebuah kebanggaan tentunya.

Pada Workhsop Writerpreneur Accelerate yang dihelat 25-28 Juni di Bogor itu, 50 peserta dibagi ke dalam kelompok yang berisi 7-8 peserta. Saya masuk ke kelompok yang kemudian kami namai Renjana, yang terdiri dari Adam, Lia, Vie, Egi, Olif dan Delisa.

Tim Renjana Berdiri cowok kiri-kanan: Adam, Gue, dan Egi. Duduk kiri-kanan: Lia, Vie, Delisa dan Olif

Sejak awal, kami sudah diberi tugas untuk menyusun konsep buku sampai konsep penjualan, promosi, membuat kaver, dan book trailer. Di akhir acara, setiap kelompok harus mempresentasikan konsep tersebut.

Lumayan ketat dan padat jadwalnya. Hanya saja, semua itu bisa kami lalui dengan lancar. Saya merasa, diskusi dengan para penulis yang jauh lebih berpengalaman dari saya, sangat mudah tek-tok sehingga ide matang bisa segera dieksekusi.

Konsep awal kaver Pitu Loka. Dibuat dengan seadanya! Hahaha…

Awalnya, saya mengusulkan kumpulan cerita pendek tentang trauma dan penyembuhan luka hati. Lalu, yang lain mengompilasi ide itu dengan genre travel fiction dan novelete dengan benang merah cerita. Dan salah satu personel, Vie Asano yang mengusulkan nama Pitu Loka. Awalnya terasa asing, lama-kelamaan: terdengar keren!

Akhirnya jadilah Pitu Loka sebagai sebuah nama biro perjalanan yang khusus didirikan untuk memberikan paket perjalanan bagi para kliennya yang ingin menyembuhkan luka hatinya. Pitu Loka adalah pusat ceritanya. Ia akan meyedot segala luka dan mengubahnya menjadi bahagia.

Setelah workshop selesai, kami segera bekerja menulis cerita. Tentu tidak mudah bagi saya yang berlatar jurnalisme dan menulis buku nonfiksi, mengarang cerita. Saya sempat berhenti dua hari, sebab coretan editor yang kejam. Tapi, komitmen saya untuk menyelesaikan cerita dan menghasilkan karya, jauh lebih besar sehingga saya menyempatkan cuti beberapa hari untuk menyepi ke kedai kopi demi menuntaskan cerita.

Banyak hal tak terduga terjadi ketika saya menulis novelete 30-an halaman itu. Saya tak tahu, konflik dan penutup cerita seperti apa yang akan saya tulis. Ajaib, semua terjadi begitu saja. Semua tokoh yang saya tulis, seolah berkisah sendiri dan membisikkan ide tentang bagaimana seharusnya takdir mereka dikisahkan.

Tapi, itu semua tidak akan semulus yang saya jalani, andai kawan-kawan seperjuangan tak membantu. Alhamdulillah, saya tak hanya menemukan teman sesama penulis, juga mentor dalam mengarang cerita. Wabil khusus, Vie Asano dan Lia Nurida, yang saya recoki pagi, siang dan malam untuk berkonsultasi menyelesaikan cerita.

Kaver setelah diorder pada desainer profesional. Lumayan mahal cuy untuk dapat kaver yang keren begini

Singkat cerita, semua kerja keras kami, mulai dari menulis, menyusun konsep buku, mengatur penjualan dan promosi dan lainnya, terbayar manakala buku ini selesai dicetak.

Saya bersyukur, dianugerahi Allah tim yang kompak dan mau bekerja keras. Ahh, kalau diingat-ingat, bagaimana masing-masing kami saling bahu-membahu menyiapkan semuanya, seolah terbayar dengan apa yang saat ini kami genggam: buku Pitu Loka yang manis!

Kami sangat bahagia dan terharu begitu memegang buku ini saat soft launching di Indonesia International Book Fair (IIBF) di JCC, 5 September 2019.

Rencana berikutnya, kami ingin menghasilkan novel dari masing-masing cerita kami. Saya sendiri, sudah terbayang akan mengarang dwilogi novel tentang perjalanan dua tokoh yang ada di pitu Loka secara lebih mendalam. Selain itu, kami juga ingin menerbitkan Pitu Loka seri kedua, mendirikan kedai kopi, penerbit, bahkan mewujudkan Pitu Loka sebagai biro perjalanan sebagai kenyataan. Semoga!

Bagi pembaca yang penasaran, silakan kepo Instagram: Pituloka7 atau mengunjungi website: www.pituloka.com


(Visited 1 times, 9 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *