Perubahan Membawa Nikmat

Ada perubahan rencana literasi gue di 2019 ini. Padahal, sejak awal sudah menargetkan beberapa hal, seperti ikut lomba nulis, rutin nulis di blog, dan persiapan lahiran buku parenting. Tapi tiga hal ini, blass lewat.

Apa sebab?

Sebabnya adalah sebuah poster yang berseliweran di grup peserta Lomba Blog Kemdikbud 2018, dimana ada tawaran workshop writerpreneur yang diselenggarakan Bekraf selama empat hari. Pake seleksi segala. Syaratnya, pernah nulis minimal 3 buku. Alhamdulillah pernah. Dan, mau membuat draf penerbitan buku, dari perencanaan sampe produksi dan promosi.

Singkat cerita, gue ikut dan terpilih dari 500-an pendaftar. Ada 50 orang peserta terpilih dan workshop diselenggarakan di Bogor, menginap dan membuat gue harus cuti.

Gue kemudian dikelompokkan dengan enam orang lainnya, yang menelurkan konsep buku kumpulan novelet “Pitu Loka”. Sedikit gambaran, Pitu Loka adalah sebuah biro perjalanan khusus untuk menyembuhkan luka hati dan trauma. Jadi, mereka memiliki segmen pelanggan yang sangat spesifik. Kira-kira kalau istilah gue, “menyenangkan dan menyembuhkan”. Jadi, selain jalan-jalan, para klien yang punya trauma itu akan diterapi sedemikian rupa, agar trauma dan sakit hati mereka hilang.

Uniknya, biro ini hanya menyediakan 7 destinasi aja, yang berkaitan dengan luka hati si pemilik. Destinasi itu ternyata punya histori sendiri.

Saat merumuskan ini, gue pribadi merasa, “Ah, gila! Diskusinya enak dan lancar banget.” Cepet eksekusinya, mengingat waktu kami juga sempit. Jadi semua ide, dijadikan satu sehingga buat kami yakin banget kalau karya ini punya konsep yang kuat, unik dan menjual.

Dari ide orang yang mencari penawar saikt hati, dibungkus travel fiction yang juga promosi daerah wisata. Jadilah Pitu Loka.

Lalu, masing-masing anggota menulis satu cerita novelet setebal 30-an halaman. Gue sendiri kebagian wilayah Sumatra Barat, wabil khusus Kota Padang Panjang.

Susah nggak? Banget! Asli. Apalagi buat gue yang latar jurnalistik dan nonfiksi, ngarang cerita tuh… ampun. Eh tapi setelah naskah gue jadi, Alhamdulillah, ide berkelebatan untuk mengarang lagi. Jadi pengen nulis fiksi lagi, hahahaha….

Kami bertujuh, punya cita-cita yang sama dari Pitu Loka, yaitu melahirkan lahir Pitu Loka jilid 2, menelurkan novel dari masing-masing novelet dan target diangkat ke layar lebar atau minimal jadi film pendek lah. Gue sendiri udah kebayang, pengen menelurkan novel dwilogi dari novelet yang gue tulis. Judulnya udah ketemu: Perempuan-Perempuan Purnama. Kayak gimana? Tunggu aja.

Dan saat ini, naskah udah beres dan dalam proses layout oleh salah satu di antara kami, yang memang totalitas banget: selain layout, dia juga ngasi masukan banyak banget buat naskah gue dan temen-temen: Tabik buat Kak Vie Asano dan Kak Lia

Oya, dari Bekraf ini, gue bersyukur, dikasih temen-temen yang keren banget. Gue banyak belajar, terutama dari kelompok gue selain Kak Vie tadi, danKak Lia, ada Adam Bagindo si ketua kelas yang puisi dan cerpennya udah mampir di Kompas. Di sini, gue berprinsip kayak spons aja, menyerap ilmu sebanyak-banyaknya!

Jadi, tahun ini gue hampir dipastikan gagal nerbitin buku esai parenting, tapi Alhamdulillah dikonversi ke buku kumpulan novelet!

Gue juga sempat ‘hilang’ tak berjejak di blog ini selama tiga bulan, lantaran kesibukan. Tapi dengan pencapaian ini, gue rasa terbayar sepadan.

By the way, sekali lagi, gue bersyukur terpilih di acara Bekraf itu, karena seperti niat gue di awal yang ingin menambah jaringan penulis untuk mengembangkan komunitas literasi yang saat ini masih gue rintis: Books4Care.

(Visited 1 times, 2 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *