Apa yang kamu pikirkan di usia 35?

Agustus selain menjadi bulan Kemerdekaan, juga menjadi hari jadi saya. Dan tahun 2019 ini, usia saya genap 35 tahun. Apa yang masih ingin saya capai?

Rasa-rasanya, sudah 2-3 tahun belakangan, saya berhenti mengurangi mencita-citakan hal-hal yang sifatnya materi. Seperti ingin punya mobil mewah, ingin liburan ke Eropa, punya rumah idaman, dan yang semacamnya.

Dalam rentang itu, sampai hari ini, yang justru mendominasi pikiran saya adalah bekal untuk pulang ke akhirat. Kok terdengar serem ya? Nggak juga kok. Bukankah orang yang paling beruntung adalah mereka yang selalu mengingat mati dan mempersiapkan bekalnya?

Saya memikirkan, bahwa ternyata, hidup itu singkat sekali. Maka tak heran, kalau al-Quran menyebut kehidupan sebagai senda gurau belaka. Kalau dikonversi, 1 hari akhirat = 1.000 tahun di dunia, maka kalau usia umat Nabi Muhammad saw yang rata-rata 63-65 tahun, itu sama artinya dengan 1,5 jam di akhirat! Singkat, bukan?

Coba sedikit direnungi dan ingat-ingat, apa yang akan kalian lakukan kalau punya waktu 1,5 jam? Mungkin nongkrong bareng teman, ngopi-ngopi ganteng atau sekedar ngobrol? Dan tahu nggak, kalau itu akan terasa cepet banget.

Nah pertanyaan berikutnya, kalau ternyata hidup yang singkat itu, tak ada satupun bekal yang bisa berguna untuk kehidupan berikutnya. Tentu menyesal pada akhirnya. Karena itulah yang lantas menjadi kekhawatiran terbesar saya belakangan ini.

Dan di usia 35 tahun ini, seperti saya telah menggunakan setengah dari jatah 1,5 jam yang saya miliki. Tinggal sekitar 45 menit lagi dana pa yang harus saya lakukan?

Pertama, mungkin seperti orang pada umumnya. Memperbaiki kualitas dan kuantitas ibadah. Ini seperti aset utama yang harus dipersiapkan secara serius.

Kedua, mendidik anak yang sholeh-sholehah sebagai salah satu amal jariyah. Kalau bisa, mereka menjadi para penghafal qur’an. Anak yang sholeh itu ibarat passive income yang akan terus mengalir pahala dan kebaikannya bagi kita. Karenanya, mempersiapkan mereka menjadi generasi terbaik, juga tak boleh diabaikan.

Ketiga, persiapan amal jariyah. Passive income yang lain adalah ilmu yang bermanfaat. Dalam hal ini, saya merasa bisa berbuat sesuatu dalam dunia tulis-menulis. Meski belum sehebat penulis besar, saya kira tak ada salahnya, memulai sesuatu yang saya bisa dan sukai. Karena itu, saya membangun komunitas literasi Books4Care bersama sahabat saya.

Di komunitas ini, saya melatih orang untuk menulis dan mengajak mereka untuk menulis buku. Sebagai langkah pertama, akan segera terbit di awal September sebuah buku antologi 9 penulis perempuan, berjudul “It’sMe: Karena Kejutan Hidup Kita Selalu Berbeda”.

Dari komunitas ini juga, memberi kesempatan saya untuk ikut ke pelatihan dan workshop penulisan yang keren, sembari membangun jaringan dengan penulis yang jauh lebih keren, serta menjadi juri lomba blog skala nasional.

Itu tiga hal yang saya sedang pikirkan dan seriusi di usia 35 tahun ini. Saya tak memungkiri, ada kebutuhan duniawi yang juga perlu dipenuhi. Tapi, saya berusaha sebisa mungkin, ia tak menjadi tujuan utama hidup saya. Sebab, sejatinya kita akan pulang ke kampong akhirat, dan bukan bekal materi yang diperlukan, melainkan amal kebaikan kita.

(Visited 1 times, 5 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *