Amalan Rahasia

Alkisah, hiduplah seorang shalih. Sebut saja namanya Abdullah yang tinggal di sebuah kampung, dimana kemaksiatan meraja-lela. Keimanannya berontak, tapi nyalinya belum pada tingkat baginya untuk menentang secara terbuka. Ia memilih jalan lain untuk menyeru pada kalimatullah.

Apa yang dia lakukan?

Setiap malam, ia memborong arak dari sebuah bar di kampungnya, dengan uang yang ia punya. Sebelum pulang, ia selalu mengingatkan pemilik warung, untuk mencari nafkah lain yang halal. Setibanya ia di rumah, ia membuang seluruh arak ke dalam kamar mandi,

“Semoga tidak ada lagi pemuda muslim yang mabuk-mabukan malam ini,” katanya.

Malam lainnya, ia pergi ke rumah bordil di kampung itu. Ia tunjuk empat wanita sekaligus dan membawanya ke dalam sebuah kamar. Namun, di dalam kamar, ia justru menasihati empat pelacur itu agar bertaubat dan kembali ke jalan-Nya. Ia juga memberikan bantuan modal, agar mereka bisa berwirausaha.

Keempat hati pelacur hati itu pun luluh, dan berjanji akan memulai hidupnya yang baru.

Melihat ‘ulah’ Abdullah hampir pada tiap malam, para tetangga mulai menggunjingkannya. Di warung kopi, di tukang sayur, atau di manapun ada kerumunan, ‘kelakuan’ Abdullah menjadi trending topic.

Dengan seketika, berita miring itu meneyebar di kampung itu. Istri Abdullah, menyampaikan keresahannya. Menjadi ‘buah bibir’ tetangga, tentu tak menyenangkan.

“Bagaimana kalau nanti engkau mati, siapa yang akan mengurusi?” sang istri gundah.

“Nanti, Sultan dan para ulama istana yang akan menyolati dan menguburkanku.”

Abdullah meninggal beberapa hari kemudian. Ia dibunuh oleh perampok setelah perjalanan dagangnya, menuju ke rumah. Melihat mayat yang tergeletak, orang-orang pun berkerumun dan mengenalinya sebagai si fasik. Mereka pun pergi meninggalkan mayat Abdullah tergeletak begitu saja di jalan.

Di malam yang sama, Sultan tak bisa tidur. Ini merupakan malam keempat. Maka ia putuskan untuk berjalan-jalan bersama para ulama dan pengawal istana menelusuri kampung untuk melihat keadaan rakyatnya.

Tiba di sebuah kampung, ia melihat ada mayat tergeletak di jalan. Ia heran, mengapa tak ada yang mau mengurusnya. Ia panggil beberapa orang yang lewat, tapi tak mau mendekat sebab mereka tak mengenali Sultan.

Kemudian, ia putuskan untuk mencari rumah Abdullah, bersama para ulama dan pengawalnya. Tiba di rumah Abdullah, sang istri terkejut melihat mayat sang suami diantar oleh beberapa orang lelaki.

“Pasti anda adalah sultan dan para ulama istana.”

“Dari mana anda tahu?” sultan terheran-heran. Sebab ia yakin, telah menyamar dengan sempurna.

Kemudian ia menceritakan ‘ulah’ sang suami semasa hidupnya, baik di rumah bordil atau di bar bersama para pemabuk. Juga omongan miring para tetangga, serta kegelisahan sang istri dalam menghadapi itu semua.

“Namun, suami saya bilang, kalau ia mati, nanti sultan sendiri yang akan mengurusi dan menyolatinya.”

Sang sultan terperanjat. Mungkin inilah penyebab empat malam terakhir ia selalu terjaga. Ternyata ada seorang hamba Allah yang shalih, yang menantikan dirinya.

Ia lalu memerintahkan para pengawal untuk mengurusi mayat Abdullah di istana. Setelah usai dimandikan dan dikafani, jenazah Abdullah dibawa ke masjid agung istana untuk dishalati, layaknya keluarga kerajaan atau para ulama istana yang wafat.

Sultan kemudian mengumumkan kematian Abdullah dan mengundang seluruh rakyatnya untuk ikut menshalati jenazahnya. Kabar kematiannya pun, menyebar dengan cepat ke seluruh kampung. Termasuk, puluhan wanita mantan pelacur dan para pemilik warung arak yang telah berganti usaha, mendengar berita itu.

Mereka lantas berbondong-bondong mendatangi masjid agung untuk turut menyalati Abdullah. Orang-orang kampung kaget melihat puluhan, bahkan ratusan orang mendatangi masjid agung untuk menyalatkan dan mendoakan jenazah Abdullah. Beberapa orang di antara mereka bertanya, siapa mereka dan mengapa mereka mau melakukan itu.

Beberapa pelacur dan mantan pemilik warung arak berkata, “Abdullah, semasa hidupnya selalu mendatangi kami, dan menasihati kami dengan ikhlas. Menyeru dan mendoakan kami agar kembali ke jalan yang benar. Dia juga memberikan kami bantuan modal, untuk merintis usaha yang halal,” katanya.

Mendengar hal ini, para tetangga terdiam. Orang yang selama ini dianggap fasik, ternyata diam-diam memiliki amal rahasia yang tak diketahui masyarakat sekelilingnya. Mereka hanya tahu Abdullah suka bermaksiat, tanpa pernah menanyakan, menegur, menasihati atau bahkan mengkonfirmasinya.

Terkadang, manusia hanya bisa menilai baik-buruknya akhlak seseorang, dari sesuatu yang tampak di mata, atau dari komentar buruk orang yang belum tentu kebenarannya.

Bukankah hanya Allah Ta’ala yang bisa menyingkap segala rahasia?

(Visited 1 times, 11 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *