SD Pioneer Depok: Pengalaman seru bagi anak dan orangtua

Saya telah menulis review setelah si sulung sekolah di SD Islam Pioneer Depok pada satu bulan pertama. Kini, saya mengulas pengalamannya sekolah tiga bulan pertama, Januari-Maret 2019. Saya mengamati beberapa perubahan yang cukup signifikan, sejak ia pindah di semester kedua tahun ajaran 2018/2019.

Pertama, hafalan qur’an. Ini salah satu alasan saya memindahkan si sulung ke SD Pioneer. Mereka punya perhatian yang sangat tinggi pada hafalan al-quran. Setiap hari, anak-anak diwajibkan menyetorkan hafalan. Ada kewajiban mengulang selama 30 menit di rumah, yang wajib didampingi orangtua. Terang saja, ini juga menjadi motivasi bagi kami, untuk menjaga dan menambah hafalan qur’an.

Kedua, sekolah yang menyenangkan. Tak sehari pun saya melihat si sulung enggan berangkat ke sekolah dalam tiga bulan terakhir. Setiap hari, ada saja yang paling special baginya. Senin. Ia semangat karena latihan taekwondo diwajibkan. Selasa, ia gembira karena ada eskul renang. Rabu, ia enjoy karena ada pelajaran berkebun dan praktek komputer. Kamis, dia happy karena ikut eskul MTQ. Jumat, ada kegiatan pramuka yang dinanti.

Saya kira, kegembiraan ini, bukan semata-mata kegiatan yang menarik, tetapi diasuh oleh guru-guru yang tulus dan menyenangkan sehingga membuat anak-anak bersemangat ke sekolah. Untuk itu, saya mengucapkan terima kasih kepada para guru di SD Pioneer.

Ketiga, melatih keberanian dan kemandirian melalui kegiatan berkemah. Di sekolah sebelumnya, memang ada kegiatan berkemah, tapi di sekolah. Nah, di SD Pioneer, kegiatan yang dinamakan “Super Camp” ini diadakan di Gunung Salak. Keren kan? Mereka tidak boleh ditemani oleh orangtua, karena setiap agenda telah diperhitungkan keamanan dan keselamatannya. Jadi, orangtua tak perlu khawatir. Cukup banyak berdoa saja, agar ananda riang gembira dan selamat sampai selesai kegiatan.

Alhamdulillah si sulung happy luar biasa. Kesibukan sudah terjadi sejak sepekan sebelum kemah, terutama saat mempersiapkan perlengkapan pribadi dan kelompok. Yang paling membuat saya kagum, pihak sekolah sudah berpesan, kalau packing perlengkapan, harus dilakukan sendiri oleh anak-anak dengan daftar check list yang sudah disiapkan. Selain melatih mandiri, anak-anak juga belajar peduli terhadap barang-barang yang dibawa.

Saat pulang, saya tanya, apa kegaiatan yang paling seru? Jurit malam! Anak-anak dibagi ke dalam beberapa kelompok, yang terdiri dari anak kelas 1-6, dengan 1 mentor pendamping. Mereka harus berjalan dari satu pos ke pos lainnya saat tengah malam.

Keempat, penanganan masalah yang fokus pada solusi. Si sulung pernah terlibat pertengkaran dengan murid kelas 4. Ia terlibat saling ledek, karena persoalan sepele. Guru segera menyelesaikan dengan mempertemukan keduanya, untuk mengklarifikasi dan saling meminta maaf. Para orangtua juga dikabari, dan diimbau untuk menasihati anak-anak.

Dari peristiwa ini, saya mengamati cara sekolah ini menyelesaikan persoalan yang terjadi pada anak-anak di sekolah. Sedapat mungkin diselesaikan di sekolah dengan segera, dan orangtua harus berperan dalam melatih emosi anak-anak agar tidak terulang lagi. Dan, itu yang tidak saya temukan di sekolah lama si sulung sebelumnya.

Kelima, buku kontrol ibadah dan akhlak. Sejak masuk, setiap anak mendapatkan buku yang berisi daftar ibadah shalat lima waktu dan perbuatan baik seperti menyapu halaman, menyiram tanaman, mengasuh adik, sampai setoran hafalan qur’an.

Sejauh ini, saya bersyukur telah menemukan sekolah yang tepat. Dalam arti, antara sekolah dan kami orangtua, memiliki kesamaan visi dan misi dalam mendidik buah hati. Dan kami berencana untuk juga menyekolahkan dua adiknya kelak di SD Pioneer Depok. Insya Allah.

(Visited 1 times, 35 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *