Resep sukses dari Negeri Kodok

Suatu hari, Negeri Kodok mengadakan pertandingan dwilomba. Balap lari dan diakhiri dengan menaiki menara yang cukup tinggi. Setelah beberapa hari dipublikasikan, ratusan kodok akhirnya mendaftarkan diri.

Mereka banyak yang mendaftar karena tergiur dengan hadiah yang sangat besar. Setelah melalui beberapa tahap penyeleksian, akhirnya hanya sepuluh ekor kodok yang diperbolehkan mengikuti pertandingan.

Pada hari yang telah ditentukan, kesepuluh ekor kodok ini berkumpul di alun-alun. Penonton yang datang, bukan main banyaknya. Para peserta lomba diliputi perasaan tegang karena harga diri keluarga dan suku masing-masing kodok ikut dipertaruhkan para perwakilan sepuluh kodok yang menjadi peserta.

Wasit bersiap-siap meniup peluit. Para peserta lomba bersiap mengambil ancang-ancang. Masing-masing telah siap dengan segala yang akan terjadi. Kalau perlu, untuk memenangkan perlombaan, segala macam cara akan dilakukan.

“Priiittt!!!” peluit bergema.

Seluruh kodok peserta melompat-lompat berpacu untuk menjadi yang terdepan. Jarak lari sebelum naik menara lumayan jauh. Mereka harus menguras energi untuk sampai ke menara. Sedangkan finish dari lomba itu adalah di puncak menara. Barangsiapa yang berhasil menaiki menara dan meraih bendera di atasnya, maka dia menjadi pemenangnya.

Kini, kesepuluh ekor kodok itu hampir mendekati menara. Penonton terdengar riuh-rendah bertepuk tangan dan memberikan dukungan. Namun, di antara penonton itu tak sedikit pula yang menciutkan nyali peserta lomba.

“Wah, mana mungkin kodok bisa naik menara. Lomba ini hanya menguras tenaga saja!”

Beberapa peserta mendengar celetukan itu, mulai ciut nyalinya. Di dalam hati mereka membenarkan celetukan itu. Mereka pun akhirnya berhenti berlari. Adapun sisanya terus berlari. Empat ekor kini berada di bawah menara, sementara seekor kodok yang kecil masih berada jauh dari menara. Ia memang menjadi peserta yang tidak diunggulkan.

Keempat ekor kodok yang berada di bawah menara tengah berpikir. Apakah mereka akan terus memanjat menara tersebut atau cukup sampai di situ? Di tengah kebimbangan yang melanda mereka, beberapa penonton banyak yang menyarankan agar menyerah saja. Karena tidak mungkin menara itu dapat dipanjat. Beberapa ekor di antara peserta lomba itu pun banyak yang ciut nyalinya. Satu per satu mereka menyerah. Hanya tinggal satu peserta lagi yang masih jauh dari menara. Ia adalah peserta yang benar-benar tidak diunggulkan.

Kodok itu hampir mendekati menara. Namun, beberapa komentar yang menciutkan nyali tak digubrisnya, ia terus berlari.

“Woi, sudah berhenti saja. Yang lain juga berhenti, karena tidak mungkin kodok bisa memanjat menara!” begitulah beberapa celetukan penonton.

Akan tetapi, kodok kecil itu tetap berlari. Sedikitpun ia tidak meladeni omongan para penonton. Ia terus berkonsentrasi pada pertandingan yang tengah ia ikuti. Sampailah kodok itu di bawah menara. Dengan susah payah kodok itu melompat-lompat, memanjat menara yang memiliki banyak cabang.

Para penonton yang meremehkan tadi mulai heran, karena kodok kecil ini sedikit demi sedikit mampu menaiki menara. Beberapa lama kemudian, sampailah kodok ini di puncak menara. Dengan hati-hati, diambilnya bendera. Kemudian, gemuruh penonton menyoraki kodok kecil yang berhasil sampai di puncak dan menjadi sang juara.

Setelah turun, kodok itu disambut meriah dan sukacita oleh keluarga dan sukunya. Tak lama setelah itu, panitia menyerahkan hadiah. Wartawan kodok kemudian mengerubungi sang juara dan ingin mewawancarainya. Namun, karena kelelahan, kodok itu tak mau diwawancarai. Ia diwakili oleh keluarganya menghadapi pertanyaan dari para wartawan.

“Apa kunci keberhasilan kodok kecil itu sehingga menjadi juara?” tanya salah satu wartawan.

“Tentu saja banyak latihan!” pihak keluarga memberi jawaban.

“Selain itu?”

“Banyak makan makanan yang bergizi, dan tak lupa berdoa.”

“Lalu, motivasi apa yang adan berikan kepada kodok kecil itu, sehingga ia tidak berhasil diruntuhkan mentalnya oleh para penonton?”

“Maksud Anda?”

“Ya, tadi, ketika lomba sedang berlangsung banyak dari para peserta yang mundur karena ciut nyalinya setelah mendengar omongan para penonton.”

“Ooo, itu. Kodok kecil itu tidak terpengaruh dengan omongan yang meruntuhkan mental karena ia tidak mendengar omongan itu.”

“Maksudnya?”

“Kodok kecil itu tuli, jadi ia tidak mendengar apa yang dibicarakan.”

***

Dalam kenyataannya kita sering terpengaruh pada komentar di sekeliling kita. Tak jarang dari komentar itu bernada mencemooh dan menghina yang sering menurunkan nyali kita untuk melangkah menuju sukses yang sebenarnya sangat kita inginkan. Oleh karena itu, salah satu hal terbesar dalam diri kita yang mesti dimiliki adalah sifat “merasa mampu”. Untuk bisa mengaktifkan semangat “bisa”, ubah dulu paradigma kita.

Mengapa ini penting? Karena kita seringkali melakukan kesalahan pada sesuatu yang belum kita coba. Kita belum berjuang, tapi sudah kalah dengan paradigma ‘ketidakbisaan’ kita yang hinggap dari omongan atau penilaian orang.

Dengan semangat itu, kita mampu menghadapi tantangan sesulit apapun yang dihadapi di depan. Banyak hal sebenarnya yang dapat kita jadikan pelajaran untuk melihat arti pentingnya semangat yang tertanam dalam diri ini, yang tak lain akan jadi pemicu kesuksesan. Diakui maupun tidak saat kita akan melangkah pada sebuah keberhasilan, karena dibatasi oleh merasa diri kecil dengan segala kapasitas, akhirnya keberhasilan itu gagal diraih dan semuanya berakibat hancurnya diri.

Ada beberapa hal sebenarnya yang menjadikan penyebab itu semua, pertama, seringkali kita saat akan memulai sebuah hal yang dijadikan cermin adalah banyaknya orang yang gagal dalam melakukan hal tersebut, yang padahal banyak orang berhasil di sekitarnya, sehingga sebelum melangkah sudah trauma dulu, takut dengan kegagalan seperti yang dialami orang lain.

Kedua, penyebab kegagalan adalah mudahnya kita putus asa sehingga belum apa-apa sudah merasa gagal. Dan ketiga, saat kita melangkah, di saat itu pula penyakit malas datang pada kita, ya tentu saja bisa ditebak pasti kegagalan yang didapat.

Sebenarnya, penyebab terbesar kegagalan sehingga kita akhirnya kehilangan kekuatan untuk merasa bisa adalah karena kebodohan diri kita sendiri, sehingga itu semua menjadikan dinding untuk meraih keberhasilan.

(Visited 1 times, 3 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *