Ramadhan Metamorpho-Self: Upaya kecil mengakrabi Bulan Suci

Di penghujung Maret atau menjelang Ramadhan tahun 2019 ini, saya menerbitkan sebuah buku tentang keislaman, yaitu “Ramadhan Metamorpho-Self”. Wah, mau jadi ustadz?

Sebelum saya dihakimi sebagai ustadz atau ahli agama,  ada baiknya pembaca mengunjungi Penerbit Bitread, melalui link tersebut, untuk melihat kira-kira apa isi buku yang saya tulis itu.

Sejujurnya, antara pede dan tidak, lebih banyak tidak pede. Saya malu, karena bukan lahir dari keluarga kyai atau habaib. Juga bukan lulusan ilmu agama. Saya ‘murni’ dari golongan ilmu sosial, tepatnya ilmu komunikasi.

Lalu kenapa saya menerbitkan buku bertema religi?

Pertama, ada beberapa kumpulan tulisan tentang Ramadhan, yang sayang kalau dibiarkan begitu saja. Beberapa tahun silam, saya pernah diminta sebuah lembaga zakat nasional menulis artikel 30 hari untuk mereka terbitkan di sebuah koran nasional. Saya jadi ghost writer-nya. Dibayar murah sekali ketika itu. Tak ada perjanjian khusus bahwa naskah itu akan menjadi milik mereka. Maka saya terbitkan sendiri mayoritas naskah itu menjadi buku.

Kedua, memenuhi target atas resolusi literasi 2019 untuk menerbitkan buku. Ada beberapa ide menulis buku, tapi kebanyakan hanya berhenti di folder-folder komputer. Tidak ditindaklanjuti. Karenanya, saya kemudian membuat resolusi yang kemudian diturunkan menjadi semacam key performance indicator (KPI) yang harus saya lakukan, salah satunya menerbitkan buku.

Terakhir dan yang utama, saya ingin mati dengan meninggalkan karya. Apa saja genre yang bisa saya tulis, akan saya tulis. Agar lebih banyak orang memahami jalan pikiran, cita-cita dan keresahan saya.

Dan ternyata, perlu keberanian tersendiri agar orang lain bisa mengeja kegelisahan saya. Apalagi, kegelisahan pribadi tentang Ramadhan, tentang keimanan, tentang keislaman dan tentang kesalihan. Juga tentang amal shalih, sebagai bekal terbaik saat menghadap Sang Rabbul ’Izzati kelak.

Satu hal yang saya khawatirkan, apakah saya pantas menuliskan tentang Ramadhan yang begitu mulia? Apakah berpuluh-puluh Ramadhan yang sudah saya lewati itu bernilai ibadah di sisi-Nya?

Sungguh jeri hati ini, apabila yang saya tulis, belum sesuai dengan apa yang saya perbuat.

Karenanya, saya berharap, bentuk kegelisahan ini agar menjadi pengingat bagi saya pribadi. Beruntung, apabila pembaca sekalian, juga dapat memetik hikmah dan pelajaran dari sini.

Judul Ramadhan Metamorpho-self merupakan istilah yang saya gunakan untuk menganalogikan metamorfosis ulat menjadi kupu-kupu sebagai perbaikan diri. Ulat ditempa di dalam kepompong untuk menjadi kupu-kupu yang indah. Ada proses perubahan bentuk menjadi lebih indah di sana. Perubahan yang lebih baik. Dari analogi itulah yang diharapkan terjadi pada diri saya khususnya, dan pembaca pada umumnya, melalui tempaan ibadah di bulan Ramadhan.

Saya berterima kasih pada banyak pihak yang telah membantu dalam proses penulisan, produksi, hingga buku ini terbit. Tentu saya menyadari, masih banyak kekurangan di sana-sini. Karenanya, harap masukan dan saran disampaikan, agar buku ini menjadi lebih baik lagi dan membawa manfaat bagi siapa saja yang membacanya.

Terakhir, semoga buku ini bisa mengantarkan kita menyambut bulan Ramadhan nan suci dengan penuh semangat dan berbalut ibadah.

(Visited 1 times, 4 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *