One month review: Sekolah Pioneer Depok 2019

Sudah satu bulan, si sulung sekolah di SD Pioneer, Depok. Si sulung pun ketika ditanya, apa kerasan sekolah di sana? “Betah. Temennya baik-baik.” Dan Alhamdulillah juga, sependek pengamatan saya, sekolah ini yang paling pas dengan kami. Apa saja? Simak beberapa alasan berikut.

Pertama, perhatian khusus pada al-Qur’an. Caranya dengan metode talaqqi di sekolah. Di rumah, orangtua diwajibkan menemani anak untuk menghafal dan mengulang-ulang agar hafalan semakin kuat. Cara ini juga ampuh buat memotivasi saya menambah hafalan. Bukankah orangtua harus jadi teladan?

Bagi saya, al-Qur’an adalah segalanya. Menanamkan ayat-ayat suci pada anak sejak dini, merupakan upaya preventif terhadap godaan duniawi yang sudah bertumbuh seperti jamur di musim penghujan.

Coba lihat fenomena yang buat saya sangat amat mengerikan di media sosial. Misal, anak-anak yang pacaran ala orang dewasa, terpapar pornografi, narkoba, geng motor, illuminati dari musik atau fashion atau gaya berpakaian yang serba minimalis. Karenanya, saya ingin membentengi anak-anak dengan iman sejak dini. Nah di Sekolah Pioneer, ditargetkan anak-anak dapat lulus dengan hafalan minimal 5 juz al-Qur’an. Ini merupakan bekal si sulung ketika akan masuk pesantren kelak.

Apakah nanti ia akan jadi ustadz? Pertanyaan itu banyak muncul ketika saya membahas sekolah anak yang menargetkan hafalan Qur’an, dengan kawan-kawan saya yang awam atau nonmulsim.

Jawabannya, saya enggak tahu. Allah-lah yang Mahatahu takdir anak saya kelak akan jadi apa. Saya hanya berupaya membekalinya dengan adab, ilmu dan iman. Itu saja. Dan saya membiasakannya dengan kebebasan memilih yang bertanggung jawab sehingga terserah si sulung nanti mau memilih kuliah dan mau jadi apa. Asalkan tidak melawan syariat Allah dan sunnah rasulullah. Titik, harga mati.

Saya ingat pesan Hasan al-Banna, seorang pembaharu Islam. “Jadilah dai sebelum menjadi yang lain.” Artinya, jadi dai, atau penyeru kebaikan di mana saja, sebelum kita menjadi dokter, insinyur atau bahkan Youtuber! Dari profesi itu, kebaikan dan kebenaran disebarkan dari lisan dan perbuatan kita.

Kedua, metode belajar yang ‘semi’ alam. Lho kok semi? Maksudnya begini. Kurikulum tetap menggunakan Diknas (kelas 2 belum kurikulum 2013/tematik). Semi alam yang saya maksud merujuk pada cara belajar yang lesehan, dan kelas-kelas yang dibangun dari kayu dan bertingkat seperti rumah pohon. Sedangkan kalau sekolah alam, kebanyakan yang saya tahu, punya kurikulum khusus, tidak mengacu pada ‘ramuan’ pemerintah.

Ketiga, para guru yang ramah. Kesan pertama saya survey sekolah ini, seperti bertemu kawan lama. Hangat dan bersahaja. Saya lihat sikap para guru dengan anak-anak pun sangat baik, tulus dan mengayom. Setiap pagi, para guru berkumpul di gerbang untuk menyambut anak-anak.  Mereka menyapa dan menanyakan kabar. Dan saya bisa merasakan ketulusan itu.

Lho, bukannya memang seharusnya begitu? Iya benar. Tapi di sekolah yang lama, saya melihat banyak guru yang murung, seperti tertekan. Sehingga sikap ke anak-anak pun seadanya dan cenderung acuh tak acuh. Kabar terakhir saat para ibu di sekolah lama berkunjung ke rumah. Dua di antara mereka akan segera pindah di bulan ini. Alasannya? Sikap para gurunya! Nah, berarti saya tak mengada-ada kan?

Keempat, kegiatan ekstra yang menyenangkan. Si sulung lebih bersemangat di hari kegiatan ekstra renang. Sudah lama kami ingin mengikutkan dia ke klub renang. Nah, di sini, dia jadi bisa berlatih renang sebagai salah satu olahraga kegemarannya di samping taekwondo.

Selain renang dan taekwondo, ada pula marawis, melukis, musik, musabaqoh tilawatil qur’an (MTQ), dan lainnya.

Kelima, biaya yang terjangkau. Memang ini sangat relatif. Untuk siswa yang masuk di awal tahun ajaran, biaya untuk tahun ajaran 2019/2020 sekitar Rp. 12 juta (kalu saya tak salah). Saya beruntung karena masuk di tengah tahun (awal semester 2 kelas II), digratiskan biaya sumbangan pengembangan gedung. Jadi hanya bayar kurang dari Rp 4 juta, sudah termasuk seragam (rompi, kaos lengan panjang dan celana panjang), uang kegiatan setahun, buku dan SPP 1 bulan.

Untuk SPP bulanan sebesar Rp 420 ribu, iuran eskul MTQ dan renang masing-masing Rp 50 ribu per bulan (belum termasuk tiket masuk kolam renang Rp 20 ribu per kedatangan), dan catering (opsional) Rp 15 ribu per hari (padahal Rp 10 ribu kalau porsi anak. Nah berhubung anak saya makannya banyak, jadi pesan yang porsi dewasa).

Di samping kelebihan-kelebihan itu, memang ada sejumlah kekurangan di sekolah ini. Namun, saya hanya melihat kekurangan dari sisi fasilitas fisik saja. Saya bisa memaklumi karena sudah terbayar oleh sikap para guru yang tulus dan mendidik.

Bagi kami, sekolah hebat itu bukan yang fasilitasnya komplet. Justru visi dan pendekatan pendidikan yang digunakan harus nyambung dengan visi di rumah. Agar pembentukan karakter mulia dan pendidikan akademis dan nonakademis lainnya, bisa optimal.

Bagi orangtua yang mau survey, silakan ke alamat berikut Sekolah Pioneer, Jalan Haji Roto Blok Tengki RT 005/RW 006 No. 35, Kel. Meruyung, Kec.Limo, Kab. Depok. Atau telepon terlebih dulu untuk buat jani: (021) 77882014 dan riset terlebih dahulu untuk pelajari konsep dan lihat berbagai kegiatan di http://sekolahpioneer.sch.id/

Semoga bisa menjadi pertimbangan anda dalam memilih sekolah bagi buah hati.

Sumber foto: Pioneer

(Visited 1 times, 191 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *