Skip to content

Bulan: Januari 2019

Mencintaimu Tanpa Syarat

Seorang sarjana ilmu komunikasi, pulang ke rumahnya yang nyaman. Seperti kebanyakan lelaki pada umumnya, ia ingin disambut oleh istri dan anaknya yang baru belajar berjalan, dengan penuh cinta.

Bayangannya melambung pada peluk-cium dua sosok manusia yang ia cintai, air hangat untuk mandi lalu mengakhiri malam dengan makan bersama dengan lampu yang temaram di meja makan kayu jati yang sederhana.

Ini jenis-jenis blogger, kamu yang mana?

Setelah lebih intens bergaul dengan para blogger, saya jadi bisa melihat bahwa blogger itu tak hanya sekadar menjadi hobi di waktu luang atau menjaga eksistensi dengan karya tulis, melainkan juga sebuah profesi yang menghasilkan.

Di tulisan ini, saya tak hendak menghakimi mana jenis blogger yang lebih baik, atau yang buruk. Saya hanya menyampaikan beberapa amatan saja, sekaligus menegaskan posisi saya sebagai salah satu blogger.

9 tahun kesederhanaan cinta               

Aku baru ingat 22 Januari malam, kalau hari itu tepat ulang tahun pernikahan kami yang ke-9. Wah, waktu berjalan begitu cepat, sudah 9 tahun kami berkomitmen membangun cinta bersama di dunia, dan semoga hingga ke akhirat kelak.

Aku melihat hari ini. Ada istri yang setia. Ada tiga anak-anak; dua putra, satu putri, lengkap sudah. Allah anugerahkan kami kecukupan. Kami bekerja dan berbakti pada Negara, di instansi yang berbeda. Anak-anak bisa sekolah. Si sulung, setelah pindah sekolah, terlihat sekali perkembangannya. Si kakak cantik, nomor dua, juga masih belajar di TK dekat rumah. Si bontot, baru dua bulan, menjadi penyempurna kebahagiaan kami yang sederhana.

Resolusi Literasi 2019

Mumpung bulan Januari belum habis, rasanya belum terlambat menuliskan resolusi 2019. Seperti pegawai di perusahaan yang memiliki key performance index, saya juga harus memiliki target yang ingin dicapai setiap tahunnya, agar hidup saya lebih bahagia dan bermakna. Tsaaaah!

Dan sejujurnya, baru kali ini, saya menuliskannya dalam sebuah blog post. Tampak serius sekali, bukan?

Aku Memilih Menjadi Habibie

Menulis adalah terapi jiwa yang ampuh. Setidaknya, itu yang terjadi pada diri BJ Habibie, presiden ketiga kita, ketika ia kehilangan belahan jiwa, Ainun. Dari buku yang ia tulis, “Habibie dan Ainun”, saya jadi tahu, bahwa seorang Habibie hampir kehilangan kewarasannya, lantaran rasa kehilangan yang begitu dalam.

Saat itu, ada tiga pilihan. Pertama, dirawat di rumah sakti jiwa secara intensif. Kedua, dirawat di rumah dengan pengawasan dokter, dan ketiga, menerapi jiwa dengan menulis. Ia mungkin sadar betul. Pilihan pengobatan medis, untuk sakit psikis, takkan berjodoh.

Tentang Nama, Tentang Doa

Semua orangtua, pasti menyematkan nama yang baik-baik bagi anaknya. Sebab, nama adalah doa, agar kelak si anak bisa sebaik namanya. Begitu pula saya dalam menyematkan nama sebagai salah satu hak anak dan kewajiban orangtua dalam Islam.

Di keluarga kecil saya,  mencarikan nama menjadi tugas saya. Meski begitu, saya selalu mendiskusikan pilihan dan alternatifnya kepada istri. Dan sejauh ini, ia setuju saja.