Skip to content

Bulan: September 2018

(Hari ke-14) Cobaan 

Emak tengah dirundung luka yang menganga pada hati dan perasaannya. Si Nomor Tiga mengabarinya lewat telepon.

“Kenapa?”

“Ada yang teror pake nomor nggak dikenal. Menghina.”

Aku sempatkan mengunjungi emak di akhir pekan agar tahu cerita selengkapnya. Saat aku tanya, ia mengambil telepon selularnya, lalu membuka pesan singkat dan memberikannya padaku.

(Hari ke-12) Si Hitam Seharga Lima Juta

Sudah tengah malam. Hening. Suara detak jam dinding pun bisa terdengar. Sesekali ada tokek, dan jendela yang bergetar tertiup angin dari kamar di lantai dua ini.

Di selembar kasur yang tipis di sebelahku, tergeletak tak sadarkan diri sahabatku. Sudah jauh ia bermimpi ke pulau kapuk di ujung dunia. Tapi aku masih terjaga, menatapi layar komputer dimana laporan Kuliah Kerja Lapangan dan tugas kuliah yang lain, masih harus diselesaikan.

(Hari ke-9) Beasiswa Setengah Hati

Saat itu menjelang ujian EBTANAS, sebutan untuk ujian akhir nasional di era 1999. Aku sedang mengerjakan soal-soal latihan. Budhe Nomor Dua datang ke rumah bertemu emak. Entah membicarakan apa. Tahu-tahu, ia berjanji akan menyekolahkanku SMA nanti. Syaratnya, harus masuk SMA Negeri.

Aku merasa tertantang. Sekaligus menemukan jalan keluar untuk meringankan biaya hidup kami. Kalau aku masuk ke SMA negeri, artinya aku bisa meringankan pengeluaran emak.