Bisa nyetir dulu, beli mobil kemudian

Mestinya memang, keterampilan dulu yang diutamakan, bukan fasilitas. Ini berlaku dalam konteks apapun.

Saya nggak bicara soal beli mobil yang seperti apa, atau soal kiat-kiat cepat belajar nyetir sih. Ini sekadar analogi menyetir mobil dengan pernikahan.

Begini, kalau kita punya mobil dulu, baru belajar nyetir, apa kira-kira yang bakal terjadi? Yap, bisa jadi, mobil itu bakal jadi ‘korban’ kesalahan kita. Mungkin lecet, penyok, atau yang lebih ngeri, menabrak mobil atau pengendara motor atau pejalan kaki lainnya. Dari sini, bisa saja penumpang lainnya jadi korban. Entah luka berat, ringan atau trauma.

Bagaimana kalau kita belajar nyetir dulu? Sebelum ke sekolah mengemudi profesional, kita belajar dengan teman, lalu ambil kursus stir abal-abal, lalu lanjut ke kursus kelas profesional. Ada tahap pembelajaran, untuk mencapai keterampilan dari amatir ke mahir, sambil menabung buat beli mobil. Saat uang sudah cukup, dan kita sudah mahir menyetir barulah membeli mobil.

Kalau tahapannya begini, tinggal perbaiki niat, bahwa beli mobil memang kebutuhan, bukan sekadar keinginan, apalagi gaya-gayaan. Niat untuk memenuhi kebutuhan transportasi pasangan hidup dan anak kelak, agar tidak kepanasan dan kehujanan.

Nah, sekarang kita cocokkan analogi di atas dengan pernikahan.

Misalnya, kita menikah dulu tanpa merasa perlu mempelajari ilmu yang diperlukan dalam mengarungi kehidupan yang baru sebagai seorang suami atau istri yang kelak bakal menjadi orangtua. Apa yang kira-kira bakal terjadi?

Mungkin kita akan kikuk dalam memahami satu sama lain. Sebagai pasangan suami-istri, kita tidak tahu mana yang menjadi hak dan kewajiban, baik dari segi sosial maupun agama.

“Bang, kalau gaji istri itu digabung atau dipisah ya?”

“Aduh, istri karirnya lebih moncer nih. Malu dong.”

“Anak kami disekolahkan ke sekolah model apa ya?”

Kalau mengelola keuangan saja repot, apalagi tugas mendidik anak? Duh, rumah tangga bakal trial and error jadinya.

Sekarang, kita bayangkan yang sebaliknya. Sebelum menikah, kita belajar dulu. Belajar apa saja, tentang manajemen keuangan keluarga, tentang psikologi suami-istri, tentang fikih pernikahan, tentang fikih membangun keluarga, dan tentang pengasuhan anak dan masih banyak lagi.

Mediumnya beragam, bisa lewat ngobrol dengan kawan yang sudah menikah, lewat buku, pengajian, atau seminar-seminar pasutri.

Jadi, setelah menikah, kita sudah siap dengan kondisi kehidupan yang benar-benar baru dan berbeda. Kita tahu tugas, hak, dan kewajiban sebagai seorang suami atauistri. Kita juga jadi tahu, bagaimana cara berinteraksi kepada saudara ipar, dan berbakti kepada mertua, begitu juga dengan pasangan kita.

Kalau sudah punya ilmu, tentu akan lebih kecil peluang jatuhnya ‘korban’ dalam pernikahan. Dengan ilmu, tentu menjalani kehidupan rumah tangga akan lebih mudah, tentu saja dengan tetap menjunjung niat baik pernikahan sebagai sarana ibadah kepada Allah swt.

Duh, saya kok jadi orang yang sok tahu ya. Saya pun juga mengalami hal itu. Tapi bedanya, saya sudah bisa dikit-dikit nyetir, meski belum mahir. Sejak bujangan, saya sudah membaca buku-buku tema di atas, dan ngobrol dengan para ‘sesepuh’, meski saya nggak pernah ikut seminar pernikahan atau parenting. Paling nggak, saya punya gambaran, lah.

Saya pun masih merasa kurang, karena teori yang saya pelajari, kurang bisa dipraktikkan lantaran ego saya yang masih sangat besar. Ego masing-masing pribadilah yang membuat kita mampu menjadi pribadi yang lebih baik atau tidak bagi pasangan kita.

Tahun 2015, saya berkenalan dan berdiskusi dengan Septi Wulandani. Dia pendiri Institut Ibu Profesional. Dia bercita-cita, bahwa menjadi ibu meski di rumah saja, harus professional menguasai beragam ilmu dalam menghadapi tantangan kehidupan. Bahwa ibu yang bergelar DRS alias di rumah saja, bukan berarti tidak keren. Justru sebaliknya, mereka adalah perempuan-perempuan hebat yang akan mengelola rumah serta mendidik anaknya di seluruh waktunya.

Menurut saya, dia perempuan yang hebat. Sebelum kelahiran anak pertama, dia sudah menguasai ilmu pengasuhan.

“Apa kita mau menjadikan anak sebagai kelinci percobaan?”

Deg. Saya tertohok.

Jadi, nggak sepenuhnya benar kalau ada orang yang bilang, “Nikah aja dulu, ntar juga bisa sendiri.”

Bisa sendiri tuh gimana? Learning by doing yang kita sering dengar itu ada proses learning-nya. Bukan tiba-tiba kita bisa. Maka, saya setuju dengan emak kalau memerintah anak perempuannya untuk ikut membantu masak di dapur.

“Biar nanti kamu bisa masak buat anak dan suami kamu.”

Tapi, yang sering terjadi, kan, banyak anak perempuan enggan belajar masak. Pas, nikah, suaminya hanya disuguhi telor ceplok atau mie rebus. Alamak!

Itu baru salah satu contoh, pentingnya kita belajar sebelum memasuki fase rumah tangga. Bagaimana dengan contoh lainnya? Ya mesti belajar. Kami pun. Seperti istri yang di fase awal pernikahan hanya bisa masak telor dadar, tahu-tempe goreng dan tumis kangkung, kini sudah merambah ke masakan yang bervariasi, semisal chicken nugget buatan sendiri (bukan beli di minimarket lho), sup ikan, sayur asem, atau pepes ikan dan menu-menu lainnya.

Makanya, bagi kalian yang masih jomblo, jangan kebanyakan berdiskusi soal enaknya pernikahan; tidur ada yang nemenin, weekend ada temen buat jalan-jalan, capek ada yang mijitin dan hal-hal Indah lainnya. Itu mah otomatis.

Persiapkan juga dong soal kemungkinan-kemungkinan lainnya yang bisa mengancam pernikahan. Pelajari ilmunya, waspadai ancamannya, perkuat kelemahan kita dan pasangan, maka insyallah pernikahan kita akan langgeng dunia akhirat. Tentu saja, tak lupa, banyak-banyak berdoa kepada Allah Swt agar pernikahan kita diberkahi-Nya.

Lalu, bagaimana kalau kita yang sudah telanjur menikah tapi ilmu hidupnya belum cukup? Ya jangan berhenti belajar. Riak-riak, masalah, berantem dengan pasangan, pasti ada. Anggap saja sebagai jamu yang akan memperkuat kualitas cinta kita kepada pasangan.

Sumber gambar dari sini

(Visited 1 times, 47 visits today)

2 Replies to “Bisa nyetir dulu, beli mobil kemudian”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *