Skip to content

Bulan: Maret 2018

Saya sudah kaya-raya, kamu juga mau?

Apa sih yang dicari mayoritas miliaran umat manusia di bumi ini? Sebagian besar dari kita mungkin akan menjawab harta dan tahta, atau semua hal yang berkorelasi dengan kekayaan dunia. Sampai-sampai ada anekdot, kalau mau kaya ya jadi pengusaha. Kalau mau kaya banget, ya jadi pengusaha dan politisi. Hahahha… saya nggak tahu persis korelasinya. Cuma merasa, kalau dalam dunia politik itu, tersimpan begitu banyak rahasia dan resep bagaimana menjadi orang super-duper kaya dengan sangat cepat.

Di usia saya yang menginjak 34 tahun ini, saya merasa sudah sangat kaya. Resep yang mau saya ceritakan, untuk menjadi kaya raya seperti saya, bukan dengan cara yang dilarang agama atau negara, misal melihara tuyul, ikut pesugihan atau merampok dan menipu. Bukan!

Tapi sebelum kalian mendakwa saya dengan predikat manusia sombong, tukang pamer dan umpatan sejenisnya, ada baiknya baca cerita saya sampai selesai.

Penguin

Suatu pagi di pertangahan November 2016, mirip dengan pagi lainnya dalam tiga tahun terakhir kehidupan kami. Bangun pagi-pagi sekali, shalat shubuh, mandi, lalu berangkat kerja dengan sedikit tergesa. Saat aku mau berangkat, dengan jaket sudah terkancing, tiba-tiba si putri kecil, Kinar menghampiriku dengan membawa buku kecil tentang kehidupan penguin.

“Tolong, bacain dong, bi…” pintanya dengan artikulasi yang belum fasih benar.

Perasaanku yang tergesa, seketika melambat saat melihat wajah Kinar yang bulat dengan pipi yang gembil. Lalu, sambil memangku Kinar, aku mulai membacakan buku kecil itu. Yah, dua-tiga lembar, tentu tidak akan membuat terlambat ke kantor.

Tentang ‘langit’ yang ada di rumah

Ini cerita tentang dia. Dia yang melengkapi kehidupan saya selama lebih dari 8 tahun.

Ia perempuan Jawa. Bicaranya medhok, hatinya seputih salju, budinya lurus, kata-katanya halus terjaga, dan cita-citanya setinggi langit. Itu sebabnya, saya sempat mengganti namanya di phonebook handphone dengan ‘Langitku’.

Sebelum menikah, saya masih ingat betul, dia bilang mau kuliah setinggi langit. Sampai tingkat postdoc, atau kalau perlu, sampai S4 kalau ada. Diam-diam saya kagum. Saya juga punya cita-cita yang sama, meski saya jauh lebih malas dan tidak lebih tekun darinya. Ini jujur.

Mukhlis dan pelajaran soal hidup

Entah dari mana istilah profesi yang satu ini, marbot. Tapi ia merujuk pada sebuah tugas yang menjaga dan membersihkan masjid. Biasanya, ia ikut tinggal di masjid. Di beberapa masjid, ia merangkap muadzin.

Padahal, sejak zaman Nabi Adam, tugas membersihkan baitullah, adalah tugas para Nabi. Itu tugas mulia.

Seiring dengan perubahan zaman, tugas ini menjadi pekerjaan sekelas “tukang” atau “buruh kasar” yang bekerja hanya mengandalkan tenaga semata. Jangan tanya berapa ia dibayar setiap bulan, salah seorang marbot yang saya kenal dan di kemudian hari menjadi karib, mengaku hanya diberi tiga lembar seratus ribuan, ditambah fasilitas kamar tiga-kali-empat meter.

Bisa nyetir dulu, beli mobil kemudian

Mestinya memang, keterampilan dulu yang diutamakan, bukan fasilitas. Ini berlaku dalam konteks apapun.

Saya nggak bicara soal beli mobil yang seperti apa, atau soal kiat-kiat cepat belajar nyetir sih. Ini sekadar analogi menyetir mobil dengan pernikahan.

Begini, kalau kita punya mobil dulu, baru belajar nyetir, apa kira-kira yang bakal terjadi? Yap, bisa jadi, mobil itu bakal jadi ‘korban’ kesalahan kita. Mungkin lecet, penyok, atau yang lebih ngeri, menabrak mobil atau pengendara motor atau pejalan kaki lainnya. Dari sini, bisa saja penumpang lainnya jadi korban. Entah luka berat, ringan atau trauma.

Lakukan 2 hal ini biar makin disayang istri

Pingin disayang istri? Nggak usah pergi ke dukun. Ke dokter juga belum tentu ada obatnya. Atau sebagian besar lainnya percaya, dengan uang mampu membuat istri semakin sayang dan jatuh cinta kepada kita. Maka, tak sedikit para suami yang berpandangan seperti ini bekerja kian keras, agar mendapatkan pendapatan lebih dan karir yang menjanjikan, yang katanya, untuk membahagiakan keluarga.

Ini benar. Tapi tidak seluruhnya benar. Kalau usaha untuk itu, mengorbankan waktu untuk keluarga, saya kira sedikit-sedikit persoalan akan timbul. Padahal, kadangkala, istri kita, tak membutuhkan materi agar dirinya merasa bahagia.

Bukannya semua perempuan matre? Hahahaha, buat saya nggak. Buktinya istri saya nggak matre. Karena itu, ‘resep’ yang mau saya ceritain, bukan soal memanjakan istri dengan materi. Tetapi dengan dua hal sederhana, yang insyallah, bisa bikin istri makin sayang. Cieeee….