Skip to content

Bulan: September 2017

Sekerat bahagia

Emak dan bapak selalu membawa sisa
Kue-kue dari rapat atau acara
Apapun dari kantornya
Untuk kami berempat yang menunggu dengan penuh asa

Begitulah kami merayakan bahagia
Begitulah kami berbagi dengan sederhana
Begitulah kami membangun jiwa
Begitulah mereka mengajarkan cinta

Kebiasaan itu menurun tentu saja
Pada setiap perjalanan keluar kota
Dengan Garuda yang selalu memberi makanan beraneka
Tak lupa ku bawa serta

Tanpa Aba-aba

Kami, adalah manusia-
manusia sibuk pemburu harta,
tahta, sekaligus kuasa
yang terus bekerja hingga dicekik senja

Padahal, nantinya
Ketika nyawa merambat perlahan
Dari kaki ke ujung kepala
Dan berhenti di batang tenggorokan

Semua yang kau perjuangkan itu
Macam anjing pemburu
Akan binasa
Dan bisa jadi sia-sia

Meja belajar dan fatwa-fatwa

Ada dua sebab mengapa
Secarik kertas tua itu menjadi berharga

Pertama,
Ada iklan meja belajar yang pernah
kami damba
Karena setiap hari, meja belajar
kami adalah seluas lantai rumah
Lesehan, dengan debu yang dibawa
kaki-kaki telanjang dari hasil kembara
mencari nafkah.

Kedua,
Ada fatwa-fatwa emak
yang ditulis bagi empat anaknya
dengan nada cemas penuh harap
Setelah sang belahan jiwa
dirawat beratus-ratus jam pada
Bangsal rumah sakit di tengah kota