Ayah, lelaki yang mengajarkan cinta

Saya baru menyelesaikan novel “Ayah” karya Andrea Hirata. Dari beberapa karya dia, saya masih suka dengan dwilogi “Padang Bulan” dan “Cinta dalam Gelas” sebagai karya terbaiknya. Novel Ayah yang saya selesaikan dalam dua pekan dengan baca senggang ini, menurut bacaan saya, bukan karya terbaiknya.

Sebelum saya berkomentar, saya ceritakan sedikit jalan ceritanya.

Ini soal cinta antara Sabari dan Marlena. Bukan cerita yang saling cinta, lebih tepatnya cerita cinta Sabari seorang saja, yang ‘jatuh’ saat pandangan pertama, ketika jawaban ujian Bahasa Indonesia Sabari direbut Marlena, dicontek, sehingga dia selamat dari ancaman sang ayah, Markoni, yang akan menikahkannya kalau tak lulus ujian.

Marlena sosok perempuan cantik berlesung pipit, dengan mata Indah yang disebut Sabari yang jago bikin puisi sebagai “Purnama Keduabelas”. Sayang seribu sayang, seluruh usaha Sabari untuk menarik perhatian Marlena, sia-sia. Marlena tak sekalipun, berminat kepada lelaki buruk rupa yang bergigi tupai itu.

Singkat cerita, saat mereka lulus sekolah, Sabari dinasehati dua sahabatnya, Ukun dan Tamat, untuk berhenti melupakan Lena. Sabari menuruti dan kemudian mencari kerja, jauh dari Kampung Belantik. Selama dua tahun, Sabari mencoba melupakan, semakin ‘jatuh’ rasa cintanya pada Lena. Akhirnya, ia memutuskan untuk balik kampung dan bekerja di Pabrik Batu Bata milik ayah Marlena.

Setelah diterima kerja, Sabari cuma punya satu tujuan, yaitu bisa melihat dan mendengar suara Marlena. Sederhana sekali cinta lelaki ini, yang kadang terwujud, kadang tidak. Ia berupaya mencuri perhatian Lena dengan bekerja sekeras mungkin, hingga sang majikan menobatkannya sebagai pegawai teladan selama dua tahun berturut-turut.

Singkat cerita, Marlena hamil di luar nikah akibat pergaulan bebasnya. Markoni muntab, melihat kelakukan salah satu anaknya itu dan berusaha menyelamatkan muka. Akhirnya, ia menumbalkan Sabari untuk dinikahkan. Tentu saja, Sabari senang bukan kepalang.

Setelah kelahiran anaknya, Marlena tetap tak berubah. Suka pergi, kadang lama, kadang sebentar dan akhirnta tak pulang-pulang. Tetapi Sabari, seperti namanya, tetap sabar dan dengan sepenuh hati merawat Amiru alias Zorro, anaknya.

Setelah Zorro hampir tiga tahun, Lena menggugat cerai Sabari dan kemudian merebut Zorro darinya, saat mereka tengah berjalan-jalan di taman balai kota. Sabari nyaris gila dengan kepahitan itu.

Dua sahabat mereka yang tak tega, akhirnya berusaha mencari Lena dan Zorro, setelah 8 tahun Sabari terpisah dan hampir gila. Setelah dua bulan menjelajahi Sumatra, Ukun dan Tamat akhirnya membawa kembali Zorro pulang, tapi tidak Marlena.

Keharuan terjadi setelah perpisahan 8 tahun itu. Zorro yang saat berpisah masih tiga tahun, berusaha mengingat kembali sosok yang selalu membuatnya bahagia dengan puisi, dengan cerita Keluarga Langit, dengan dongeng nama-nama masakan dari sosok sederhana itu.

Kisah ini, ditulis Andrea berdasarkan kisah nyata. Tokoh Amiru merupakan sahabatnya. Pada nisan di makam Sabari, bertuliskan sebait puisi, “Biarkan aku mati dalam keharuman cintamu.”

Sementara Marlena meminta dituliskan “Purnama Keduabelas” pada nisan di bawah namanya, sebutan Sabari untuknya.

Bagi saya, novel ini berjalan amat lambat pada bagian plotnya. Secara teknis penulisan, menurut saya agak bertele-tele, mungkin ciri khas orang Melayu yang banyak bicara, dan mungkin frame berpikir saya yang berlatar jurnalisme, jadi suka bagian yang penting-penting saja.

Separo lebih saya membaca, tak menemukan pesan sebenarnya novel ini. ‘Mesin’ gaya tutur novel ini juga seperti mesin diesel yang lambat panasnya, sehingga saya hampir menalak tiga novel ini setelah berjalan lebih dari separo.

Sangat berbeda dengan Diwlogi “Padang Bulan” dan “Cinta dalam Gelas” yang menyengat, dengan gaya tutur mengalir yang sangat lancar, indah dan lugas.

Keagungan cinta, pengorbanan seorang ayah kepada anak, meski bukan darah dagingnya, makna cinta yang sebenarnya seorang lelaki tulus macam Sabari, baru nampak pada bagian akhir buku ini. Ia baru klimaks pada bagian akhir, dan benar-benar lembar terakhir saat Andrea memberi isyarat ini adalah sebuah kisah nyata. Makam keduanya ada, dan bertuliskan puisi cinta.

Saran saya bagi kalian yang mau membacanya, bersabarlah. Karena plot maju-mundur di bagian awal memang terasa membingungkan, tapi di bagian akhir, pesannya baru menohok dengan sempurna.

(Visited 1 times, 10 visits today)

One Reply to “Ayah, lelaki yang mengajarkan cinta”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *