Daycare vs baby sitter?

Kegalauan ini, gue yakin menimpa banyak keluarga imut macam gue. Dilemanya apa lagi sih, selain ortu kerja, sedangkan anak-anak nggak ada yang mengasuhnya? Nah, kali ini gue berbagi sedikit pengalaman ya, sampai akhirnya gue memutuskan untuk stop pake pembantu rumah tangga atau babby sitter.

Actually, gue belom pernah mempekerjakan babby sitter. Alasannya sederhana, kami butuh yang all in one alias serbabisa, ya ngurus anak juga, ya ngurus rumah juga. Karena anak gue dua, ya gue mikir harus dua orang juga asisten rumah tangga (ART)-nya.

Pada suatu ketika, dapetlah dua orang yang dimaksud. Yang satu jago, gesit dan top deh, yang satunya oon, bolot dan ya gitu deh. Mereka tante dan ponakan ternyata. Singkat kata, dia minta stop, karena gak cocok sama gaji yang ditawarkan. Agak aneh sih, karena mereka didatangkan dengan gaji yang sudah disepakati di awal. Gue udah wanti-wanti, kalo mau datang, silakan. Nggak ya gapapa.

Itu sebenernya pengalaman kedua. Yang pertama, dapet ART masih abege. Orangnya jorok, tukang ngutil makanan. Padahal, kami gak pernah rewel dan membedakan soal makanan. Tapi, gue cut karena gak cocok dengan kejorokannya. Dan, tukang bo’ong!

Pengalaman ketiga, orangnya gesit, baguslah kerjanya. Gue udah tebus dari yayasan, eh ART-nya gak cocok dengan gajinya. Padahal, gue ama si penyalur udah deal gaji. Katanya garansi, nyatanya? Ampunnnnn, sampe sekarang gak ada gantinya. Oya, biar kalian nggak kena tipu, nama penyalurnya Bu Ai dari Sukabumi.

Pengalaman keempat, dapet orang sekitaran rumah. Udah sepuh. Kerja bagus kalo ngurus rumah. Ngurus anak juga bagus kalo ada kami. Gue cut karena doi ngerokok dan ga ngaku pula pas gue sering nemuin puntung. Dampaknya, dua anak gue sering sakit batuk-pilek.

Pengalaman kelima, dapet lagi dari penyalur, dari Sukabumi juga. Penyalurnya tinggal di Cijantung (lupa persis tempat dan namanya). Udah bayar depe 50% karena gue ga mau dibo’ongin kesekian kali sama penyalur. Kerjaan ga oke, masih abege. Eh, baru kerja beberapa hari, udah ketahuan nyolong. Langsung pecat!

Dari sekian pengalaman yang penuh drama itu, kami kapok. Kemudian, nyari day care alias penitipan anak di daerah dekat rumah. Tentu, cari yang harga murah, tapi tetap memperhatikan aspek pendidikan, psikologis, agama si anak. Akhirnya dapat yang sesuai kriteria. Secara, anak dua pasti biayanya dikali 2 dong!

Sekarang, udah berjalan setahun menggunakan jasa day care. Dan belom kepikir lagi untuk pake ART atau baby sitter. Di day care, anak-anak dapat makan dua kali sehari, dan snack satu kali. Beberapa kali ngecek ke si sulung, menunya terbilang sehat. Plus-plusnya, banyak mainan, ada kegiatan bersama, belajar baca iqro dan calistung. Yang ga kalah penting, tempatnya bersih dan pengasuhnya ramah.

Kalo dibandingin, keduanya punya plus minus.

Catatan untuk Babby Sitter/ART

  1. Keterampilan oke (babby sitter), karena sudah lulus pelatihan, biasanya. Kadang lebih jago dari ibu si anak.
  2. Sebisa mungkin, rekomendasi dari orang yang sangat mengenal si babby sitter/PRT. Jadi kemungkinan ‘macam-macam’ seperti pengalaman di atas, bisa dikurangi.
  3. Biaya babby sitter lebih mahal daripada PRT. Dan biaya day care relatif lebih murah ketimbang babby sitter. Tapi untuk beberapa tempat yang wah, biaya day care lebih mahal.
  4. PRT lebih mengkaver semua urusan, hati-hati kalo si PRT sukanya ngurus rumah, anak-anak bisa terabaikan. Kalo babby sitter, biasanya nggak mau ngurus rumah.

Catatan untuk Day Care

  1. Biaya perintilan mahal: ada uang pangkal, biaya daftar, biaya asuh dan uang makan. Biasanya terpisah-pisah. Kalo gue cukup beruntung, karena hanya bayar pendaftaran dan uang asuh (paket sama makan segala).
  2. Cari yang pengasuhnya berkepribadian baik. Bisa lah, tanya detil ke pemiliknya, ke ortu lain yang nitipin anak tentang pengalamannya selama di day care. Biasanya, karena biayanya lebih mahal, pemilik day care akan memperhatikan masalah ini.
  3. Lingkungan bagus, banyak mainan, banyak teman. Anak jadi punya pengalaman tentang bersosialisasi dan kemandirian.

Btw, kalo dibandingkan enak mana day care vs babby sitter?

Menurut gue sih, yang paling enak sih sebenernya menurut seorang bapak muda kayak gue yang suka brangkat pagi-pulang malem (duh!), pake ART dengan pengawasan ortu atau mertua ya, atau diasuh langsung sama ibunya (the best choice!) 🙂

Sumber foto: dari sini

(Visited 1 times, 12 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *