Skip to content

Mimpi Bertemu Bapak

Aku tak tahu, saat itu senja, atau habis subuh saat matahari terbit. Yang jelas, sinar matahari berwarna jingga dengan langit yang gelap. Bapak datang menemuiku di suatu sudut gang dekat rumah. Ia tersenyum. Aku mengejarnya, tapi ia pergi begitu saja.

Terakhir, empat tahun lalu, bapak datang ke rumah. Aku terkejut sekaligus senang. Kerinduanku akan dirinya seolah-olah terobati. Ia tak biacara sepatah katapun, tapi aku tahu maksudnya. Ia ingin naik haji.

Aku heran, bapak tak mau menginap di rumah. Ia memilih menginap di rumah kakak sepupunya yang tinggal di Klender. Kami memanggilnya Uwak Klender. Aku bujuk bapak agar ia mau menginap di rumah. Ia bergeming.

Tak setiap bulan aku memimpikan bertemu bapak. Ketika aku begitu rindu sosoknya, ia selalu hadir. Tak bicara, hanya datang, tersenyum dan pergi. Mungkin hanya sepintas ia mendapat izin dari Tuhan untuk melihat anak keturunannya. Meski begitu saja, aku bersyukur.

Mimpi yang terakhir, aku tanyakan pada emak. “Artinya apa ya mak?”

“Apa mungkin Uwak Klender menjanjian bapak naik haji? Atau aku yang diamanati untuk menghajikan bapak?” pertanyaanku tak bisa kubendung.

“Bisa jadi,” emak menjawab singkat.

Aku sampai terpikir, untuk menanyakan ini ke Uwak. Tapi kuurungkan, melihat kondisinya yang sakit-sakitan.

“Atau mungkin bapak ingin aku berangkat haji atau menghajikan dia?”

“Bisa jadi.”

Yang saya yakini, ketika kita mimpi bertemu seseorang dan ia tak bicara, itu adalah mimpi yang benar.

Entah, sampai sekarang aku tak mengerti tafsir mimpi-mimpi itu. Kadang perlu ditafsirkan, kadang tidak perlu. Kata orang, mimpi hanya bunga tidur. Ada lagi yang bilang, mimpi itu cerminan dari apa yang dipikirkan. Tetapi setahuku, ada mimpi yang benar. Biasanya pada sepertiga malam akhir, dan kalau berkaitan dengan orang yang sudah wafat, maka ia tak bicara. Itu tanda-tandanya mimpi benar.

Yang jelas, mimpi bertemu bapak adalah kebahagiaan tersendiri bagi seorang anak lelaki sepertiku yang ingin anak-anaknya memanggil bapak dengan sebutan “kakek”. Sayang, anak-anakku tak pernah melihat kakeknya. Hanya dengan foto-foto, aku memperkenalkan mereka tentang sosok lelaki istimewa itu, tentang sifat-sifat dan kebaikannya, yang juga banyak aku dengar dari emak.

Dari sekian banyak mimpi, bertemu bapak adalah mimpi yang istimewa. Kehadirannya dalam mampiku, tak pernah ia bicara. Tandanya, bagiku, itu mimpi yang benar. Anggap saja, bapak ingin memastikan kami baik-baik saja, dan tetap rutin mendoakannya setiap waktu.

Sering aku berdoa, keinginanku untuk kembali berkumpul di surga bersama bapak, emak, istri dan anak-anakku, dan keluarga yang kucintai serta sahabat-sahabat dalam taat. Saat tibanya nanti, aku ingin ngobrol dengannya lebih lama, tentang masa kecilnya, tentang perjuangan hidupnya, tentang idealismenya, tentang cita-citanya, tentang kedisiplinannya, tentang hobinya, tentang visi hidupnya, dan tentang semua hal yang belum sempat kutanyakan padanya.

Semoga bapak dalam keadaan baik-baik saja sekarang. Diampuni dan dirahmati Allah.

(Visited 1 times, 5 visits today)
Published inMemoar Emak

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *