Mendidik di Era Kini, Agar Orangtua dan Sekolah Kian Harmoni

“Didiklah anakmu sesuai zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu.”

Saya kira, kita sudah tak asing dengan nasihat dari sang khalifah Ali bin Abi Thalib ra seperti di atas. Perkembangan teknologi dan informasi telah memberi dampak yang luar biasa di semua bidang, termasuk dalam bidang pendidikan, memaksa kita harus cepat belajar menjadi orangtua bijak zaman now.

Karena teknologi selalu membawa dampak dua sisi, kebaikan-keburukan, itulah sebab kita sebagai orangtua muda juga harus cepat beradaptasi dan bijak dalam memilah metode pendidikan anak yang tepat.

Namun, tugas pendidikan juga harus diselaraskan dengan sekolah sebagai institusi kedua yang menanamkan nilai dan pembentukan karakter anak. Orangtua zaman now juga harus meluangkan waktu untuk mengenal lebih dekat dengan guru dan sekolah, lebih akrab sehingga tidak ada lagi penghalang untuk mendiskusikan dan mewujudkan tujuan pendidikan.

Tujuannya jelas, agar orangtua dan sekolah saling merasa memiliki dan terlibat. Sebab, sekolah dan komunitas (baca: orangtua) memiliki peran strategis dalam penanaman nilai dan karakter mulia. Tapi syaratnya harus terbentuk sense of community di antara mereka.

Mengapa pelibatan orangtua di sekolah penting? Hasil penelitian Izzo dkk, 1999 (dalam American Journal of Community Psychology, 27 (6)), menunjukan bahwa ketika orangtua dan sekolah berkolaborasi secara efektif, siswa dapat berperilaku dan menunjukkan prestasi yang lebih baik di sekolah.

Bahkan Greenwood & Hickman (dalam Gürbüztürk & Sad, 2010) menyebutkan dampak positif lainnya selain prestasi akademik, yaitu  frekuensi kehadiran anak, iklim sekolah, persepsi orangtua dan anak tentang belajar di kelas, sikap dan perilaku positif anak, kesiapan anak untuk mengerjakan PR, peningkatan waktu yang dihabiskan anak bersama orang tuanya, aspirasi pendidikan, kepuasan orang tua terhadap guru, dan kesadaran anak terhadap well being.

Sementara temuan Kotaman (dalam Gürbüztürk & Sad, 2010) menjelaskan bahwa keterlibatan orangtua yang aktif dapat memberi efek positif pada peningkatan kedisiplinan anak dan adaptasi sosial, meningkatkan kesuksesan di sekolah, dan peningkatan kehadiran di sekolah.

Nah, kalau sudah sahih, tentu saja kita sebagai orangtua harus semangat dalam ‘menceburkan’ diri pada proses pendidikan di sekolah. Biar lebih kekinian dan sesuai dengan perkembangan teknologi, saya mengusulkan enam upaya pelibatan orangtua dalam pendidikan anak di sekolah:

1. Buku penghubung zaman now

Kalau era 1990-an dikenal ada “Buku Penghubung” yang diisi guru untuk para orangtua tentang mengkomunikasikan perkembangan anaknya di sekolah, saya kira hal itu sudah sangat bisa diadaptasi dengan teknologi. Banyak aplikasi melalui smartphone yang memudahkan komunikasi dua arah antara orangtua, guru secara khusus dan sekolah secara umum. Bisa menggunakan blackberry messanger, whatsapp, atau telegram. Intinya, komunikasi bisa berjalan secara personal atau grup kelas yang kecil dan grup sekolah yang lebih besar, agar komunikasi bisa berjalan dengan lancar.

2. Teknologi adalah kunci

Selain sebagai sarana komunikasi, teknologi juga dapat dimanfaatkan untuk aneka pembelajaran, bahkan pengawasan orangtua terhadap perkembangan anak di sekolah. Saya baca di Sahabat Kemendikbud, ada sekolah yang telah menggunakan aplikasi Google Apss for Education, yakni SMK Telkom Malang.

Sekolah ini menggunaakn aplikasi GAFE untuk mendukung kolaborasi antar siswa, siswa dengan guru, guru dengan orangtua, bahkan dengan masyarakat. Contoh penggunaan GAFE, seperti untuk ulangan, pengayaan, tes di kelas bisa menggunakan fasilitas ini secara realtime. Hasil tes dan nilainya bisa diunggah ke aplikasi sehingga memudahkan dalam pembuatan raport siswa.

Bagaimana bila guru berhalangan mengajar? Itulah tujuan penggunaan teknologi: memudahkan! Guru bisa memberikan materi ajar maupun tugas ke siswa melalui aplikasi. Jadi tidak ada alasan bagi siswa untuk tak mengerjakan tugas karena mereka terkoneksi dengan aplikasi ini.

Dari sini, laporan para siswa kemudian dikirimkan melalui email kepada masing-masing orangtua. Jadi, meski orangtua tidak setiap saat bisa hadir ke sekolah,tetapi semua informasi tentang sekolah dan anak bisa diperoleh dengan mudah.

3. Kelola situs sekolah bersama.

Zaman sekarang, hampir semua sekolah memiliki situs sekolah. Sayangnya, pengelolaannya kerap terabaikan. Entah karena alasan guru yang gaptek (gagap teknologi), keterbatasan sumber daya manusia, kesibukan mengajar yang padat dan sebab lainnya. Nah, kalau melibatkan orangtua, situs sekolah bisa lebih update dan meriah dengan konten yang tidak melulu didominasi oleh sekolah. Orangtua juga bisa diberikan akses untuk mengelola konten, tentu saja dengan batasan-batasan yang disepakati bersama.

Gambar 2: Bentuk-bentuk keterlibatan orangtua di sekolah

4. Inovasi kegiatan sekolah.

Kalau selama ini, kegiatan di sekolah hanya memfokuskan pada peningkatan kualitas anak didik, bolehlah rasanya satu-dua di antara belasan kegiatan tersebut dalam setahun yang melibatkan orangtua dan anak sebagai objek.

Saya membayangkan, sekolah memberikan giliran kepada para orangtua untuk mengisi semacam “kuliah umum” kepada peserta didik di sekolah. Bisa dalam bentuk pengenalan profesi orangtua di sekolah, atau study tour ke kantor orangtua! Kenapa tidak?

5. Optimalkan media sosial.

Rasanya, hampir setiap orangtua muda memiliki media sosial. Sekolahpun sebaiknya juga memilikinya. Setidaknya pada tiga media sosial yang paling banyak digunakan saat ini, seperti facebook, twitter dan instagram. Sebab, di zaman digital seperti sekarang, orangtua  juga sudah fasih dalam mencari informasi di dunia maya. Ini bisa dioptimalkan untuk tujuan yang positif, yaitu mengkomunikasikan kegiatan dan perkembangan pendidikan anak (kepada orangtua dan masyarakat), juga menjadi ajang promosi gratis oleh orangtua tentang sekolah anaknya.

Seperti yang jamak terjadi, kalau orangtua menemani anak berkegiatan di sekolah, siapa yang paling update mengabarkan di media sosial? Tentu saja orangtua. Apalagi, kegiatan yang positif, dan photogenic atau istilah zaman nowinstagramable.

6. Orientasi orangtua & kegiatan bersama.

Saya kira bukan hanya anak yang membutuhkan masa orientasi pada masa awal sekolahnya. Orangtua juga perlu mengenal lebih awal dan lebih baik personel, maupun program dan cita-cita sekolah. Dalam kegiatan ini, para orangtua bisa saling mengenal di antara mereka, juga mengenal antara guru dan orangtua.

Lalu mengapa kita tidak melakukannya?

Tentu saja, formatnya bisa diciptakan lebih informal agar keakraban cepat terjalin. Saya membayangkan format parents camp di lereng gunung untuk para ayah dan pihak sekolah (seperti karyawan, staf dan sebagainya) dan guru lelaki, dan format klasikal di sekolah untuk para ibu dan guru perempuan.

Dari orientasi, kegiatan bersama lainnya bisa direalisasikan secara berkala, misal tiap semester agar para orangtua dan sekolah segera mencapai kesepahaman pola didik agar proses pembelajaran lebih mudah.

Meski zaman telah mengalami perubahan dengan cepat, tetapi semangat orangtua untuk memberikan pendidikan yang baik, dengan ikut terlibat di sekolah, tak boleh berubah. Ia harus semakin kuat diyakini oleh orangtua, guru dan masyarakat agar proses perbaikan generasi berjalan sesuai cita-cita kita.

#sahabatkeluarga

gambar utama diambil dari sini

(Visited 1 times, 2 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *